Arwana Citramulia (ARNA) optimistis dapat melampaui target laba bersih tahun ini



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Arwana Citramulia Tbk optimis bisa melampaui target perolehan laba bersih tahun ini. Emiten keramik berkode saham ARNA tersebut memproyeksi, laba bersih perusahaan bisa mencapai Rp 300 miliar saat tutup tahun nanti, naik sekitar 13,20% dari target semula yang dipatok sebesar Rp 265 miliar.

Optimisme ARNA berdasar pada realisasi kinerja perusahaan di sembilan bulan pertama tahun ini. Di tengah kinerja penjualannya yang turun tipis 1,18% secara tahunan atau year-on-year (yoy), laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih perusahaan justru bertumbuh 38,31% yoy dari semula Rp 160,13 miliar pada Januari-September 2019 menjadi Rp 221,50 miliar di September-Januari 2020.

Dengan capaian tersebut, maka perolehan laba bersih ARNA di sembilan bulan pertama tahun ini sudah mencapai sekitar 83,58% dari target awal Rp 265 miliar berdasarkan hitungan Kontan.co.id.  “Pencapaian ini outperform target kinerja kami untuk tahun 2020,” kata  Chief Financial Officer Arwana Citramulia, Rudy Sujanto kepada Kontan.co.id, Selasa (20/10).


Untuk memacu kinerja laba, ARNA akan mengandalkan efisiensi biaya serta menjaga produktivitas agar tetap efektif. Strategi tersebut sudah pernah diterapkan di sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini.

Pada sisi produksi misalnya, ARNA kala itu berupaya mencegah terjadinya cacat produksi dalam proses pembuatan barang melalui metode Lean Six Sigma. Dengan cara itu, pemakaian bahan baku yang sia-sia akibat cacat produksi bisa diminimalisir.

Selain itu, ARNA juga menekan biaya pengemasan produk dengan menggunakan kemasan karton box yang lebih ramah lingkungan. Upaya tersebut didukung oleh mesin pengemasan baru perusahaan yang dibeli pada tahun ini.

Sementara pada sisi beban fabrikasi,  ARNA berupaya meningkatkan efisiensi penggunaan gas, sehingga konsumsi gas ARNA bisa diturunkan hingga 8% dari konsumsi semula. Hal ini membuat pengeluaran perusahaan untuk biaya gas berkurang, apalagi pemerintah juga telah menurunkan harga gas ke level  US$ 6 per mmbtu pada semester I 2020 lalu.

Baca Juga: Tekan pengeluaran, laba bersih Arwana Citramulia (ARNA) loncat 38,3% hingga September

Hasilnya, beban pokok penjualan ARNA turun 6,56% yoy menjadi Rp 1,12 triliun di sembilan bulan pertama tahun ini. Sebelumnya, beban pokok penjualan ARNA mencapai Rp 1,20 triliun pada sembilan bulan pertama tahun lalu.

Di luar aspek produksi, upaya  efisiensi biaya juga berhasil menekan pengeluaran pada pos beban lain seperti misalnya beban penjualan. Tercatat, pengeluaran ARNA pada sisi beban penjualan turun 12,97% yoy dari semula Rp 159,88 miliar di sepanjang Januari-September 2019 menjadi Rp 139,13 miliar pada Januari-September 2020.

Selain meracik strategi untuk mendongkrak kinerja bottom line, ARNA juga telah menyiapkan strategi pemasaran untuk memacu penjualan. Sayangnya, Rudy enggan menjelaskan strategi pemasaran perusahaan secara lebih rinci. Yang terang, ia mengakui optimis kinerja penjualan ARNA pada tahun ini bisa tumbuh sekitar 1% dibanding tahun lalu. 

Sebagai perbandingan, ARNA mencatatkan penjualan neto sebesar Rp 2,15 triliun pada tahun 2019 lalu. Dus, hitungan Kontan.co.id, penjualan neto ARNA diperkirakan mencapai Rp 2,17 triliun dengan asumsi pertumbuhan 1% yoy.

Optimisme ini berdasar pada tren penjualan keramik yang membaik setelah memasuki kuartal III tahun ini. Pasalnya, Rudy mencatat bahwa kinerja penjualan ARNA di sepanjang Juli-September 2020 tumbuh 6% dibanding periode sama tahun lalu. Hanya saja, kalau diakumulasi, total penjualan ARNA di sembilan bulan tahun ini memang masih turun 1,18% dibanding periode sama tahun lalu lantaran penjualan yang menyusut di kuartal 2 2020 lalu.

“Dengan memperhatikan penjualan triwulan 3 (Juli-September 2020) yang bertumbuh 6% dibanding triwulan 3 2019, ada kemungkinan besar bahwa penjualan triwulan 4 bisa mengikuti tren yang sama, sehingga penjualan 2020 bisa di atas 2019,” terang Rudy.

Selanjutnya: Arwana Citramulia (ARNA) Menekan Biaya Bahan Baku

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .