KONTAN.CO.ID - LONDON. Amerika Serikat (AS) dijadwalkan resmi keluar dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) pada Kamis (21/1/2026). Keputusan ini menuai peringatan luas dari para pakar kesehatan global karena dinilai berpotensi merugikan kesehatan masyarakat AS maupun sistem kesehatan dunia, serta melanggar hukum AS sendiri. Presiden Donald Trump telah memberikan pemberitahuan resmi penarikan AS dari WHO pada hari pertama masa jabatan keduanya pada 2025 melalui perintah eksekutif. Berdasarkan hukum AS, proses keluar dari WHO mensyaratkan pemberitahuan satu tahun dan pelunasan seluruh iuran keanggotaan sebelum penarikan efektif. Namun, hingga kini AS belum melunasi kewajiban finansialnya. WHO menyatakan Washington masih memiliki tunggakan iuran untuk tahun 2024 dan 2025 dengan total sekitar US$ 260 juta. Padahal, undang-undang AS mewajibkan pembayaran penuh sebelum keluar dari badan kesehatan PBB tersebut.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS pada Kamis mengatakan kegagalan WHO dalam menahan, mengelola, dan membagikan informasi telah menyebabkan kerugian ekonomi besar bagi AS.
Baca Juga: WHO: Kasus Mpox Terdeteksi di Sejumlah Negara, Ada 17 Kasus Kematian di Afrika Presiden Trump, menurut pernyataan tersebut, telah menggunakan kewenangannya untuk menghentikan penyaluran dana, dukungan, maupun sumber daya pemerintah AS ke WHO di masa depan. “Rakyat Amerika telah membayar lebih dari cukup kepada organisasi ini, dan dampak ekonomi yang ditimbulkan jauh melampaui kewajiban finansial apa pun kepada WHO,” kata juru bicara tersebut melalui email.
Peluang AS Kembali Dinilai Kecil
Selama setahun terakhir, banyak pakar kesehatan global mendesak AS untuk meninjau ulang keputusannya. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus baru-baru ini kembali menyampaikan harapannya agar AS mempertimbangkan kembali langkah tersebut. “Menarik diri dari WHO adalah kerugian bagi Amerika Serikat dan juga bagi dunia,” ujarnya dalam konferensi pers awal bulan ini. Meski demikian, peluang AS untuk kembali dalam waktu dekat dinilai kecil. Berbicara kepada Reuters di sela-sela Forum Ekonomi Dunia di Davos, Ketua Gates Foundation Bill Gates mengatakan dirinya tidak melihat tanda-tanda AS akan segera bergabung kembali dengan WHO. “Saya tidak berpikir AS akan kembali ke WHO dalam waktu dekat. Namun, ketika ada kesempatan, saya akan terus mengadvokasi hal itu. Dunia membutuhkan WHO,” kata Gates.
Diduga Melanggar Hukum AS
Penarikan AS ini juga memicu sorotan hukum. Lawrence Gostin, Direktur Pendiri O’Neill Institute for Global Health Law di Georgetown University, menyebut langkah tersebut sebagai pelanggaran hukum AS.
Baca Juga: Uni Eropa Larang Penggunaan Etanol di Hand Sanitizer Karena Berisiko Kanker “Ini adalah pelanggaran yang jelas terhadap hukum AS. Namun, Trump kemungkinan besar akan lolos dari konsekuensi hukum,” ujar Gostin. WHO menyatakan isu penarikan AS dan mekanisme penanganannya akan dibahas dalam pertemuan Dewan Eksekutif WHO pada Februari mendatang.
Dampak Besar bagi WHO dan Kesehatan Dunia
Kepergian AS, yang selama ini merupakan kontributor terbesar WHO dengan sekitar 18% dari total pendanaan, telah memicu krisis anggaran di tubuh organisasi tersebut. WHO terpaksa memangkas setengah tim manajemennya, mengurangi berbagai program kerja, serta memotong anggaran di seluruh unit. WHO juga menyatakan akan mengurangi sekitar 25% jumlah stafnya hingga pertengahan tahun ini. Meski selama setahun terakhir WHO masih bekerja sama dan berbagi informasi dengan AS, mekanisme kolaborasi ke depan kini menjadi tidak jelas.
Para ahli menilai situasi ini berisiko besar bagi AS maupun dunia. Kelly Henning, pemimpin program kesehatan publik di Bloomberg Philanthropies, mengatakan penarikan AS dapat melemahkan sistem global dalam mendeteksi, mencegah, dan merespons ancaman kesehatan. “Penarikan AS dari WHO berpotensi melemahkan sistem dan kolaborasi yang selama ini menjadi andalan dunia untuk menghadapi ancaman kesehatan global,” ujarnya.