AS Akui Serang Iran, Bantah Operasi Militer Besar-besaran Dimulai Lagi



KONTAN.CO.ID - Amerika Serikat (AS) mengonfirmasi telah melancarkan serangan militer ke Pulau Qeshm, Iran, yang berada di kawasan strategis Selat Hormuz.

Washington menyebut serangan tersebut sebagai tindakan defensif dan menegaskan operasi itu bukan bagian dari dimulainya kembali kampanye militer besar-besaran terhadap Teheran.

Mengutip Reuters, Senin (2/11/2026), seorang pejabat AS mengatakan serangan tersebut dilakukan secara terbatas.


Baca Juga: Bursa Asia Melemah Jelang Pemilu AS Selasa (3/11), Saham Korea Selatan Anjlok 3,8%

Pernyataan itu sekaligus mengonfirmasi laporan Wall Street Journal sebelumnya mengenai serangan militer AS di pulau tersebut.

Pejabat lainnya menyebut serangan itu merupakan langkah pertahanan untuk menghadapi penggunaan rudal permukaan-ke-udara oleh Iran terhadap aset-aset militer AS.

Pentagon mengarahkan permintaan konfirmasi kepada Komando Pusat AS (CENTCOM), yang bertanggung jawab mengawasi pasukan Amerika di kawasan Timur Tengah.

Namun, CENTCOM belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters.

Sebelumnya, media pemerintah Iran, IRNA, melaporkan terjadinya beberapa ledakan di Pulau Qeshm pada Senin.

Wall Street Journal menyebut serangan tersebut merupakan bagian dari serangkaian operasi militer terbatas yang dilakukan Washington dalam beberapa pekan terakhir.

Sementara itu, Fox News yang mengutip sejumlah pejabat melaporkan bahwa serangan AS dilakukan sebagai tindakan defensif setelah Iran melepaskan tembakan ke arah sebuah pesawat militer AS.

Baca Juga: Mayoritas Mata Uang Asia Melemah Selasa (3/11), Rupiah Justru Menguat Tipis

Perkembangan ini terjadi di tengah ketidakpastian arah kebijakan militer Presiden AS Donald Trump terhadap Iran.

Dalam beberapa pekan terakhir, Trump sempat mengisyaratkan kemungkinan melanjutkan serangan terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS pada Selasa (3/11/2026).

Namun, setelah menyampaikan pidato di Lincoln Memorial Reflecting Pool pada Senin, Trump memberikan sinyal bahwa dirinya mungkin mempertimbangkan kembali rencana tersebut.

Sebelumnya, Trump juga menyatakan masih terbuka peluang tercapainya kesepakatan dengan Teheran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026.