AS Akui Tempatkan Senjata di Orbit, Persaingan Antariksa dengan China-Rusia Memanas



KONTAN.CO.ID - PARIS/WASHINGTON. Amerika Serikat (AS) untuk pertama kalinya secara terbuka mengakui bahwa militernya mengoperasikan senjata di orbit Bumi.

Pengakuan ini menandai babak baru dalam persaingan militer antariksa dengan China dan Rusia yang semakin terbuka.

Kepala U.S. Space Force Douglas Schiess mengatakan personel militer AS saat ini mengoperasikan senjata di orbit yang dapat digunakan untuk melindungi pasukan gabungan dari serangan yang memanfaatkan teknologi antariksa.


Menurut Schiess, AS akan mengambil keputusan secara disiplin dan bertanggung jawab saat memperluas persenjataan pertahanan di orbit dalam beberapa tahun ke depan.

Baca Juga: Trump Ancam Tarif 50% untuk Negara yang Memasok Senjata ke Iran, Sasar China-Rusia?

Pernyataan tersebut muncul sehari setelah Menteri Angkatan Udara AS Troy Meink mengatakan Washington memiliki senjata pengendali ruang angkasa di orbit yang mampu melindungi pasukan gabungan dari tindakan bermusuhan pihak lawan.

Meski demikian, baik Schiess maupun Meink tidak mengungkap jenis senjata yang dimaksud.

Pengakuan tersebut dinilai menunjukkan perubahan sikap Washington dalam membicarakan kemampuan militer di luar angkasa.

Victoria Samson, Chief Director of Space Security and Stability di Secure World Foundation, mengatakan pemerintah AS kini semakin terbuka mengenai kemampuan untuk menghadapi ancaman di antariksa.

Selama ini, negara-negara besar memang terus mengembangkan kemampuan untuk mengganggu atau menyerang satelit milik lawan. Namun, hingga kini belum ada negara yang diketahui secara terbuka melakukan serangan fisik terhadap satelit negara lain di orbit.

Persaingan dengan China dan Rusia

AS, China dan Rusia merupakan tiga kekuatan antariksa terbesar yang selama bertahun-tahun mengembangkan jaringan satelit serta wahana antariksa yang dapat bermanuver dan berpotensi digunakan untuk operasi militer.

Perkembangan teknologi membuat satelit tidak lagi sekadar menjadi pendukung komunikasi, navigasi dan intelijen militer di Bumi. Satelit kini juga dipandang sebagai aset strategis yang harus dilindungi sekaligus berpotensi menjadi sasaran dalam konflik.

Baca Juga: AS Melunak Soal Resolusi PBB untuk Iran, China dan Rusia Diperkirakan Tetap Veto

Kemampuan untuk mengganggu operasi satelit antara lain dapat dilakukan melalui jamming sinyal, penggunaan laser untuk mengganggu sensor, hingga teknologi yang memungkinkan sebuah wahana mendekati atau mengubah posisi satelit lain.

China pada 2022, misalnya, menunjukkan kemampuan untuk mengendalikan sebuah satelit yang kemudian mencengkeram wahana antariksa lain dan mengubah orbitnya.

AS sendiri baru-baru ini menggelar latihan orbital terbesarnya, Apollo Maneuvers. Latihan tersebut melibatkan satelit di beberapa orbit sekaligus, termasuk partisipasi mitra internasional dan perusahaan swasta, untuk menguji operasi antariksa yang lebih dinamis.

Picu perlombaan senjata

Di sisi lain, keterbukaan Washington mengenai keberadaan senjata di orbit juga dapat meningkatkan ketegangan dengan negara pesaing.

Craig Albert, Graduate Director Master of Arts in Intelligence and Security Studies di Augusta University, mengatakan kurangnya informasi mengenai jenis dan kemampuan senjata tersebut dapat mendorong negara pesaing membuat asumsi sendiri.

Jika sistem yang dimiliki AS dianggap mengancam aset antariksa mereka, China maupun Rusia dapat terdorong mengembangkan kemampuan counter-space atau persenjataan serupa.

China merespons pengakuan AS dengan menegaskan dukungannya terhadap penggunaan ruang angkasa secara damai serta menolak perlombaan senjata di antariksa.

Baca Juga: China Makin Dekat dengan SpaceX, LandSpace Sukses Kembangkan Roket Reusable

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia menilai pengakuan Washington mengabaikan konsekuensi yang dapat muncul jika terjadi konflik dan berpotensi mengancam stabilitas jangka panjang aktivitas berbasis antariksa.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa persaingan militer antariksa tidak lagi hanya berkaitan dengan kemampuan meluncurkan satelit. Ketiga negara kini juga mempersiapkan kemampuan untuk mempertahankan aset di orbit dan menghadapi kemungkinan serangan terhadap sistem antariksa.

Richard Palmer, Direktur Capability and Resource Integration Directorate di U.S. Space Command, mengatakan pengakuan terhadap kemampuan pengendalian ruang angkasa diperlukan untuk menjaga efek gentar dan memastikan kesiapan apabila upaya pencegahan konflik gagal.

Pasalnya, perang modern semakin bergantung pada satelit. Konflik di Ukraina hingga Timur Tengah menunjukkan betapa pentingnya teknologi antariksa untuk komunikasi, navigasi dan intelijen militer.

Dengan semakin terbukanya pembicaraan mengenai senjata di orbit, ruang angkasa pun kian dipandang sebagai bagian potensial dari medan konflik masa depan.