KONTAN.CO.ID - Pemerintah Amerika Serikat (AS) memperingatkan bahwa perusahaan yang menjalin kerja sama dengan maskapai penerbangan Iran berisiko terkena sanksi. Langkah ini menjadi bagian dari upaya Washington untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran di tengah konflik yang masih berlangsung.
Baca Juga: Baht Thailand Anjlok Terdalam Selasa (28/4) Pagi, Rupiah Ikut Tergerus di Pasar Asia Melansir
Reuters, Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Senin (27/4/2026) menegaskan bahwa pihaknya tidak akan ragu menjatuhkan sanksi terhadap pihak mana pun yang terlibat dalam aktivitas bisnis dengan entitas penerbangan Iran. “Melakukan bisnis dengan maskapai Iran yang terkena sanksi berisiko terpapar sanksi AS,” ujar Bessent dalam pernyataannya. Ia juga meminta pemerintah negara lain untuk mengambil langkah tegas guna memastikan perusahaan di wilayahnya tidak memberikan layanan kepada maskapai tersebut. Layanan yang dimaksud mencakup penyediaan bahan bakar pesawat, katering, biaya pendaratan, hingga perawatan pesawat.
Baca Juga: Yen Stabil Jelang Keputusan BOJ Selasa (28/4) Pagi, Pasar Waspadai Arah Suku Bunga Departemen Keuangan AS bahkan menegaskan akan menjatuhkan sanksi sekunder terhadap lembaga keuangan asing yang masih memfasilitasi aktivitas Iran. Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan bahwa penerbangan komersial dari bandara internasional Teheran telah kembali beroperasi untuk pertama kalinya sejak konflik pecah. Sejumlah rute penerbangan dilaporkan menuju Istanbul, Muscat di Oman, Madinah di Arab Saudi, serta beberapa kota di Irak dan Qatar.
AS sebelumnya menyatakan tengah menerapkan “cekikan finansial” terhadap pemerintah Iran sebagai bagian dari strategi menekan aktivitas ekonomi negara tersebut.
Baca Juga: Jepang Siaga 24 Jam Hadapi Gejolak Yen, Menkeu Siap Intervensi Konflik antara AS, Israel, dan Iran yang dimulai sejak 28 Februari lalu telah menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar serta menyebabkan jutaan orang mengungsi. Meski sempat tercapai gencatan senjata yang rapuh dalam beberapa pekan terakhir, ketegangan di kawasan masih tinggi.