AS Berencana Buyback Obligasi, Bagaimana Dampaknya ke Yield SBN?



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah Amerika Serikat (AS) berencana melakukan buyback obligasi jangka panjang untuk meredam lonjakan imbal hasil (yield) Treasury yang telah mengguncang pasar keuangan global. Rencana tersebut tak serta merta berdampak pada melandainya yield Surat Berharga Negara (SBN). 

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi mengatakan, prospek SBN masih positif, tetapi rencana buyback obligasi jangka panjang oleh US Treasury tidak otomatis membuat yield SBN terus melandai. Buyback memperbaiki likuiditas obligasi off-the-run dan dapat mengurangi tekanan teknis pada tenor panjang, sehingga sentimen global terhadap obligasi berpotensi membaik. 

Syafruddin menambahkan bahwa penurunan yield SBN tenor 5 tahun dan tenor 10 tahun saat ini mencerminkan reli yang cukup cepat selama Agustus. Ruang penurunan berikutnya masih terbuka jika yield Treasury turun, rupiah stabil, dan arus asing berlanjut. 


Baca Juga: Tender Sukarela Ketrosden (KETR) Diperpanjang hingga 18 September 2026

“Risiko utamanya muncul bila pasar membaca buyback sebagai respons terhadap tekanan fiskal AS, bukan sekadar pengelolaan likuiditas. Dalam kondisi itu, term premium global dapat tetap tinggi dan membatasi capital gain SBN,” ucap Syafruddin kepada Kontan, Rabu (26/8/2026). 

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede mengatakan, rencana pembelian kembali obligasi jangka panjang oleh Pemerintah AS merupakan sentimen positif bagi SBN, tetapi Ia tidak melihatnya sebagai alasan bahwa imbal hasil SBN akan terus turun secara lurus. Pada 19 Agustus, Kementerian Keuangan AS mengejutkan pasar dengan menggandakan ukuran pembelian kembali sejumlah obligasi jangka panjang menjadi setidaknya US$ 4 miliar per operasi. 

Tujuannya terutama memperbaiki likuiditas pasar dan meredam tekanan pada biaya pinjaman jangka panjang. Setelah pengumuman tersebut, imbal hasil obligasi AS sempat turun, tetapi efeknya sangat singkat. Pada 21 Agustus, imbal hasil obligasi AS 10 tahun kembali naik ke sekitar 4,73% karena kekhawatiran mengenai inflasi, besarnya defisit fiskal, tingginya penerbitan utang, dan risiko geopolitik belum berubah. 

“Jadi, kebijakan tersebut bukan pelonggaran moneter oleh Bank Sentral AS dan bukan pula pengurangan permanen jumlah utang AS. Dampaknya terutama mengurangi tekanan likuiditas dan premi pada obligasi lama, sementara sumber tekanan mendasar terhadap imbal hasil tetap ada,” ucap Josua. 

Josua melihat bagi Indonesia, pengaruhnya tetap positif melalui dua jalur. Jika imbal hasil obligasi AS turun, selisih imbal hasil SBN menjadi lebih menarik dan tekanan terhadap dolar dapat mereda, sehingga investor asing mempunyai insentif lebih besar masuk ke SBN. Namun sebagian dampak positif tersebut sudah tercermin pada pasar. Imbal hasil SBN 10 tahun telah turun dari sekitar 7,29% akhir Juli menjadi 7,02% pada 20 Agustus, atau turun 31 basis poin sepanjang Agustus, meskipun masih sekitar 95 basis poin lebih tinggi dibanding awal tahun. 

Data Kementerian Keuangan pada 18 Agustus juga menunjukkan imbal hasil tenor 5 tahun sudah di 6,91% dan tenor 10 tahun 7,09%. Artinya, ruang penurunan tambahan dalam jangka sangat pendek sudah lebih terbatas. 

“Saya melihat pembelian kembali obligasi AS sebagai penahan kenaikan imbal hasil SBN, bukan katalis yang sendirian mampu membawa SBN 10 tahun turun secara permanen ke bawah 7%,” jelas Josua. 

Terkait strategi investor, Josua tidak menyarankan mengejar kenaikan harga SBN setelah penurunan imbal hasil yang sangat cepat pada Agustus. Pada level sekitar 7,0% untuk tenor 10 tahun, sebagian berita baik dari stabilisasi rupiah, bertahannya BI-Rate, arus modal asing dan pembelian kembali obligasi AS sudah masuk ke harga. Menurutnya, strategi yang lebih masuk akal adalah membeli secara bertahap ketika imbal hasil kembali naik. 

Adapun untuk investor yang lebih mengutamakan pendapatan kupon dan kestabilan harga, tenor 3–5 tahun relatif menarik karena sensitivitas harganya terhadap perubahan suku bunga lebih kecil. Sementara untuk investor yang bersedia menghadapi pergerakan harga lebih besar dan mengincar keuntungan ketika imbal hasil turun, tenor 7 tahun – 10 tahun masih menarik, tetapi menurutnya pembelian agresif akan lebih nyaman apabila tenor 10 tahun kembali mendekati 7,20% – 7,40%. 

Josua menyebut ada alasan lain untuk tidak terlalu agresif pada level sekarang. Kurva SBN pada Agustus mulai kembali normal setelah sebelumnya sangat datar akibat tekanan risiko jangka pendek. Pada saat yang sama, permintaan lelang SBN pada triwulan III memang mulai membaik setelah melemah pada semester pertama. Jadi bagi investor jangka panjang, strategi terbaik bukan menebak titik terendah imbal hasil, melainkan mengunci imbal hasil secara bertahap ketika terjadi koreksi pasar. 

“Apabila tujuan utamanya menahan sampai jatuh tempo, tenor 5 tahun memberikan keseimbangan yang lebih baik antara imbal hasil dan risiko harga. Sebaliknya, apabila tujuan utamanya memperoleh keuntungan dari kenaikan harga obligasi, tenor 10 tahun memberikan potensi lebih besar, tetapi risikonya juga lebih besar jika obligasi AS kembali mengalami tekanan,” jelas Josua. 

Terkait sentimen penggerak, Syafruddin mengatakan bahwa kinerja SBN berikutnya akan ditentukan oleh interaksi faktor global, domestik, fiskal, dan nilai tukar. Dari sisi global, arah Federal Reserve, US Treasury 10 tahun, harga minyak mentah global, indeks dolar (DXY), serta risiko geopolitik menjadi penentu utama premi risiko emerging markets. Bank Indonesia memperkirakan yield Treasury tetap tinggi karena ekspektasi kenaikan Federal Funds Rate pada kuartal IV dan defisit fiskal AS yang lebar. 

Dari sisi domestik, BI-Rate 5,75%, inflasi Juli 2,88%, stabilitas rupiah, dan arus portofolio akan memengaruhi permintaan SBN. Foreign portfolio investment pada kuartal III hingga 14 Agustus masih mencatat net inflow US$1,8 miliar, sehingga dukungan eksternal belum hilang. Risiko terbesar datang dari defisit transaksi berjalan yang melebar menjadi 3,3% PDB, kebutuhan pembiayaan APBN yang besar, serta kenaikan harga minyak. “Jika ketiganya terjadi bersamaan dengan UST10Y mendekati 5%, investor akan meminta premi lebih tinggi dan penurunan yield SBN dapat terhenti,” terang Syafruddin. 

Syafruddin memproyeksikan hingga akhir 2026, yield SBN tenor 5 tahun pada kisaran 6,55% –6,85% dan yield SBN tenor 10 tahun pada kisaran 6,70% – 7,00%. Sementara Josua memperkirakan dalam skenario yang sangat positif, yakni imbal hasil obligasi AS 10 tahun turun konsisten ke bawah 4,5%, Bank Sentral AS tidak menaikkan suku bunga, harga minyak turun, rupiah menguat dan arus asing ke SBN membesar, yield SBN tenor 5 tahun dapat bergerak ke sekitar 6,80% – 7,00% dan yield SBN tenor 10 tahun ke 6,95% – 7,15% pada akhir tahun 2026. Sebaliknya, apabila imbal hasil obligasi AS kembali mendekati 5%, harga minyak tetap tinggi, rupiah kembali melemah di atas Rp18.000 dan pasar mengkhawatirkan defisit fiskal serta pasokan SBN 2027, yield SBN tenor 5 tahun dapat kembali ke 7,35% – 7,55% dan yield SBN tenor 10 tahun ke 7,55% – 7,80%. 

Seperti diketahui, Departemen Keuangan AS akan meningkatkan nilai buyback surat utang Treasury tenor 10 tahun hingga 30 tahun menjadi sedikitnya US$ 4 miliar per operasi. Sebelumnya, nilai buyback yang direncanakan hanya US$ 2 miliar. Kebijakan tersebut akan berlaku mulai 9 September hingga 4 November 2026, mencakup sektor Treasury tenor 10-20 tahun dan 20-30 tahun. 

Berdasarkan data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), yield SBN tenor 5 tahun di level 6,80% per 24 Agustus 2026. Sementara yield SBN tenor 10 tahun di level 6,97%.

Baca Juga: Pemerintah Akan Bentuk Bursa Komoditas Strategis, Ini Respon Bursa Berjangka Jakarta

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News