AS-China Sepakati Pemangkasan Tarif Perdagangan Senilai US$60 Miliar



KONTAN.CO.ID - BEIJING. Amerika Serikat (AS) dan China sepakat memangkas tarif impor terhadap barang senilai sekitar US$60 miliar yang diperdagangkan di antara kedua negara. Kesepakatan tersebut mencakup berbagai produk, mulai dari komoditas pertanian asal AS hingga peralatan rumah tangga dan mainan buatan China.

Dalam pernyataannya pada Minggu (27/9/2026), Perwakilan Dagang AS (USTR) Jamieson Greer mengatakan masing-masing negara telah merekomendasikan barang senilai US$30 miliar yang masuk dalam kategori produk non-sensitif untuk mendapatkan perlakuan tarif yang lebih menguntungkan.

Menurut Greer, bagi AS, kebijakan tersebut akan membuka akses pasar yang lebih baik untuk sekitar 30% ekspor AS ke China.


Kesepakatan pemangkasan tarif secara timbal balik tersebut menjadi salah satu hasil utama pertemuan kedua antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada tahun ini yang berlangsung di Washington.

Baca Juga: Harga Minyak Brent Naik Lebih dari 2% Setelah Trump Tolak Proposal Damai Iran

China Pangkas Tarif Produk Pertanian AS

China berencana menurunkan tarif terhadap berbagai produk pertanian asal AS. Produk yang masuk dalam daftar antara lain jagung, gandum, sorgum, daging, produk susu, minyak nabati, serta bungkil atau hasil samping pengolahan minyak nabati.

Namun, kedelai tidak termasuk dalam daftar produk yang mendapatkan pemangkasan tarif tersebut.

Selain produk pertanian, Beijing juga akan mempertimbangkan penurunan tarif terhadap ikan dan makanan laut asal AS, kayu gelondongan dan produk kayu, kosmetik, serta perangkat medis.

Langkah tersebut berkaitan dengan komitmen pembelian produk pertanian AS senilai US$17 miliar yang disebut Gedung Putih. China sebelumnya juga telah kembali melakukan pembelian kedelai AS dalam skala besar berdasarkan kesepakatan untuk membeli 25 juta ton per tahun.

Kedua negara juga akan membentuk kelompok kerja pertanian di bawah dewan perdagangan bilateral. Pertemuan pertama kelompok tersebut dijadwalkan berlangsung sebelum akhir tahun untuk membahas akses pasar dua arah dan regulasi perdagangan.

AS Pangkas Tarif Produk Rumah Tangga China

Di sisi lain, AS akan memberikan perlakuan tarif yang lebih rendah terhadap sejumlah produk China, terutama barang konsumsi non-sensitif.

Produk tersebut mencakup peralatan rumah tangga berukuran kecil seperti mesin pembuat kopi dan pemanggang roti, peralatan makan, selimut, serta perlengkapan tempat tidur.

Baca Juga: Northern Star Tolak Tawaran Akuisisi Gold Fields Senilai US$27,1 miliar

Daftar tersebut juga mencakup mainan, kembang api, bunga artifisial, lampu pohon Natal dan dekorasi hari raya lainnya, serta kursi keselamatan untuk anak di mobil.

Secara keseluruhan, masing-masing negara mengidentifikasi sekitar US$30 miliar barang impor yang dapat memperoleh perlakuan tarif lebih ringan.

Gencatan Dagang AS-China Diperpanjang

Selain pemangkasan tarif, China dan AS juga memperpanjang masa gencatan perdagangan atau trade truce selama dua bulan hingga 10 Januari.

Kementerian Perdagangan China menyatakan perpanjangan tersebut memberikan ruang bagi kedua pihak untuk mengevaluasi pengaturan yang sedang berjalan dalam menyelesaikan persoalan ekonomi dan perdagangan, sekaligus membahas langkah selanjutnya.

Perpanjangan tersebut juga dinilai memberikan "lingkungan kebijakan yang relatif stabil dan dapat diprediksi" bagi kerja sama antarperusahaan serta kelanjutan pembahasan bilateral.

Kedua negara akan menggelar pembicaraan secara berkala mengenai peluang dan hambatan investasi, meningkatkan transparansi serta kepastian kebijakan, dan merespons berbagai persoalan yang disampaikan pelaku usaha.

Meski demikian, kesepakatan tersebut belum menghilangkan seluruh ketegangan ekonomi antara Washington dan Beijing. Saham China justru melemah tajam pada Senin (28/9), karena investor menilai masih terdapat sejumlah detail kesepakatan yang belum jelas.

Sektor teknologi turut tertekan setelah muncul dorongan bipartisan di AS untuk melarang penggunaan komponen asal China di pusat data. Indeks saham unggulan China CSI300 bahkan turun lebih dari 2% dan menyentuh level terendah dalam satu tahun.

China Impor 10 Juta Ton Batu Bara AS

Kesepakatan perdagangan juga mencakup komoditas energi. Berdasarkan keterangan Gedung Putih, China sepakat mengimpor 10 juta ton batu bara dari AS setiap tahun pada 2027 dan 2028.

Volume tersebut setara dengan sekitar 2% dari total impor batu bara China setiap tahunnya. Namun, minyak dan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) tidak termasuk dalam daftar kesepakatan tersebut.

Baca Juga: Indeks Nikkei Ditutup Melemah: Hentikan Kenaikan 5 Sesi, Pasar Menanti Kinerja Micron

Kementerian Perdagangan China mengatakan, "Mengimpor batu bara AS bukan hanya menjadi pelengkap yang bermanfaat bagi pasar batu bara domestik China, tetapi juga memberikan pendapatan ekonomi dan lapangan kerja yang stabil bagi industri batu bara AS."

Kesepakatan tersebut menjadi bagian lain dari upaya kedua negara memperluas kerja sama perdagangan di tengah negosiasi yang masih berlangsung.

AS-China Bahas AI dan Jasa Keuangan

Di sektor teknologi, AS dan China sepakat membangun saluran komunikasi untuk menangani insiden yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Kedua negara juga dijadwalkan menggelar dialog lanjutan mengenai AI paling lambat akhir November. Pembahasan tersebut menjadi salah satu upaya untuk menjaga komunikasi di tengah persaingan teknologi antara Washington dan Beijing.

China juga akan memeriksa dan menyetujui lembaga jasa keuangan asing, termasuk perusahaan yang memiliki modal AS, untuk menjalankan bisnis serta membuka cabang di China.

Selain itu, Washington dan Beijing akan melanjutkan komunikasi mengenai peningkatan jumlah penerbangan langsung antara kedua negara.