AS dan China Perpanjang Gencatan Dagang hingga Januari 2027



KONTAN.CO.ID - Amerika Serikat (AS) dan China sepakat memperpanjang gencatan dagang yang telah berlangsung selama 11 bulan.

Kesepakatan tersebut diumumkan saat Presiden AS Donald Trump menyambut kedatangan Presiden China Xi Jinping di Washington untuk kunjungan selama tiga hari.

Melansir Reuters, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kesepakatan perpanjangan gencatan dagang telah tercapai.


Baca Juga: PMI Manufaktur Jepang: Pertumbuhan Aktivitas Pabrik Melambat pada September

Gencatan tersebut sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 10 November dan kini diperpanjang hingga 10 Januari.

Trump secara langsung menyambut Xi di Joint Base Andrews, Maryland, setelah pemimpin China tersebut tiba di AS. Pertemuan ini menjadi kunjungan pertama Xi ke AS dalam hampir tiga tahun.

Perpanjangan gencatan dagang menjadi salah satu perhatian utama pelaku pasar karena hubungan perdagangan kedua negara masih dibayangi ketegangan.

Perang tarif pada 2025 sempat mendorong tarif hingga lebih dari 100% terhadap sejumlah produk dari dua ekonomi terbesar dunia tersebut.

Kesepakatan baru, meski terbatas, berpotensi meredakan ketidakpastian perdagangan global. Namun, sejumlah persoalan strategis masih belum terselesaikan, termasuk pembatasan ekspor mineral tanah jarang dan semikonduktor, hubungan China dengan Iran serta dukungan AS terhadap Taiwan.

Baca Juga: Laporan Keuangan Manchester United: Catat Rekor Pendapatan, tapi Rugi Rp1 Triliun

Pembicaraan Trump dan Xi yang dijadwalkan berlangsung Kamis juga berpotensi menghasilkan kesepakatan pada sektor tertentu.

Kedua negara disebut dapat membahas penurunan tarif untuk produk tertentu, kerja sama pemberantasan perdagangan narkoba, serta peningkatan komunikasi antara militer kedua negara.

Trump juga diperkirakan akan meminta pembebasan sejumlah warga AS dan warga negara lain yang ditahan di China.

Di sektor teknologi, Washington dan Beijing berpeluang memperluas pembicaraan mengenai kecerdasan buatan (AI).

Kedua negara saat ini bersaing ketat dalam pengembangan teknologi tersebut, sekaligus menghadapi kekhawatiran mengenai risiko yang ditimbulkannya.

Baca Juga: Proyek Stadion Baru MU Siap Berjalan di Tengah Beban Utang Rp23 Triliun

Perbedaan kepentingan juga masih terlihat dalam isu Taiwan. Orang-orang yang mengetahui rencana pembicaraan mengatakan Xi kemungkinan akan kembali menyampaikan posisi Beijing terkait Taiwan.

Sementara itu, Trump diperkirakan tetap mempertahankan pembatasan ekspor teknologi AS meski mendapat keberatan dari China.

Belum jelas apakah Beijing akan membantu Washington mencari jalan keluar dari kebuntuan konflik AS-Iran yang telah berlangsung hampir tujuh bulan.

Di tengah agenda tersebut, kedua pemimpin juga berusaha menunjukkan stabilitas hubungan antara AS sebagai konsumen terbesar dunia dan China sebagai salah satu pusat manufaktur terbesar dunia.

Xi juga dijadwalkan menghadiri jamuan kenegaraan di Gedung Putih pada Kamis yang akan mempertemukannya dengan sejumlah pemimpin perusahaan teknologi AS, termasuk CEO Apple Tim Cook, CEO Nvidia Jensen Huang dan CEO OpenAI Sam Altman.

Pertemuan tersebut berlangsung ketika kondisi ekonomi kedua negara menghadapi tantangan masing-masing. China mencatat peningkatan perdagangan luar negeri, tetapi konsumsi rumah tangga masih lemah dan sektor properti menghadapi tekanan.

Baca Juga: Trump Sambut Meriah Kedatangan Xi, Gencatan Senjata Perdagangan Diperpanjang

Sementara itu, pemerintahan Trump menghadapi tekanan akibat kenaikan harga energi yang dipicu perang dengan Iran. Kondisi tersebut juga menjadi salah satu isu ekonomi yang membayangi pemerintah AS menjelang pemilihan anggota Kongres pada November.

Trump dan Xi diperkirakan masih memiliki peluang untuk kembali bertemu tahun ini. Pertemuan berikutnya berpotensi berlangsung dalam forum Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di China pada November atau pertemuan G20 di AS pada Desember.