AS dan Eropa turut menekan batubara



JAKARTA. Tekanan batubara datang dari berbagai belahan dunia. Seperti di China, negara barat yakni Amerika Serikat (AS) dan Eropa tak kalah gencar dalam memangkas penggunaan batubara.

AS merupakan negara konsumen batubara terbesar kedua di dunia. Sementara konsumen batubara terbesar di Eropa adalah Jerman yang masuk dalam 10 negara pemakai batubara terbesar di dunia. Tahun 2013, konsumsi batubara di Jerman mencapai 114,3 juta ton.

AS kini sedang berusaha memaksimalkan penggunaan gas alam dalam proyek clean energy sehingga menggeser batubara. Dalam KTT Iklim Paris, AS bersama dengan negara - negara lainnya membuat rencana kerja untuk meningkatkan pemakaian gas alam di seluruh dunia sebagai pengganti batubara. Departemen Energi AS telah menyetujui 13 lisensi untuk meningkatkan ekspor gas alam menjadi 14,04 juta kaki kubik per hari.


Penurunan penggunaan batubara juga terjadi di Eropa. Penggunaan listrik tenaga angin di Jerman naik hingga 30%. "Kini Eropa mencoba menjadi role model global untuk sustainable energi tanpa karbon," ujar analis Pefindo, Guntur Tri Hariyanto.

Produksi listrik Eropa dari batubara telah jatuh menjadi sekitar 12% dari 32% di tahun 2000. Sedangkan di AS turun dari 52% di tahun 2000 menjadi tinggal hanya 38% tahun 2015. "Pergeseran penggunaan gas atau energi terbarukan sebagai penghasil energi di Eropa tidak sebanyak yang terjadi di AS," tutur Guntur.

Penggunaan batubara di Eropa memang cenderung menurun. Namun, penyebab utamanya adalah pasokan batubara murah dari AS. Hal ini menyebabkan harga - harga komoditas di Eropa menjadi lebih murah. Bahkan meski sepanjang tahun 2010 - 2014 Eropa telah menghapus 17,6 kMW kapasitas pembakar batubara, di saat yang sama juga menambah 14,5 kMW kapasitas baru.

Meski penurunan konsumsi batubara di Eropa tak sebesar AS, tren permintaan global masih melemah. Secara rata- rata tahunan, Guntur memprediksi harga batubara tahun 2016 berpeluang turun 10% - 15%.

Mengutip Bloomberg, Selasa (5/1) harga batubara kontrak pengiriman Januari 2016 berada di level US$ 50,25 per metrik ton. Angka tersebut naik 0,7% dari harga sehari sebelumnya sekaligus level terendah sejak 2009 yakni US$ 49,90 per metrik ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto