KONTAN.CO.ID - Amerika Serikat (AS) dan Iran diperkirakan akan menggelar perundingan nuklir di Oman pada Jumat (6/2/2026, kata seorang diplomat regional, di tengah meningkatnya ketegangan setelah Presiden AS Donald Trump memperkuat kehadiran militer di Timur Tengah dan memperingatkan potensi konfrontasi jika kesepakatan gagal dicapai. Trump mengatakan bahwa “hal-hal buruk” kemungkinan akan terjadi jika perundingan tidak menghasilkan kesepakatan. Pernyataan tersebut meningkatkan tekanan terhadap Republik Islam Iran dalam kebuntuan yang telah diwarnai ancaman saling serang udara serta memicu kekhawatiran eskalasi menuju konflik yang lebih luas.
Baca Juga: India Bakal Diversifikasi Pasokan Energi, Usai Kesepakatan Terkait Impor Minyak Rusia Iran menegaskan tidak akan memberikan konsesi terkait program rudal balistiknya, yang disebut sebagai garis merah dalam negosiasi. Pemerintahan Trump menyetujui permintaan Iran untuk memindahkan lokasi perundingan dari Turki ke Oman. Namun, pembahasan masih berlangsung mengenai apakah negara-negara Arab dan Muslim di kawasan akan ikut serta dalam perundingan tersebut, lapor jurnalis Axios Barak Ravid pada Selasa (3/2/2026), mengutip sumber Arab. Iran Inginkan Perundingan Bilateral Militer AS pada Selasa menembak jatuh sebuah drone Iran yang disebut “berperilaku agresif” saat mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab, menurut pernyataan militer AS dalam insiden yang pertama kali dilaporkan Reuters. Trump mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih, “Kami sedang bernegosiasi dengan mereka sekarang,” namun tidak memberikan rincian lebih lanjut dan menolak menyebutkan lokasi perundingan.
Baca Juga: Harga Minyak Lanjutkan Kenaikan Rabu (4/2) Sore, Ketegangan Timur Tengah Memanas Sumber yang mengetahui situasi tersebut mengatakan bahwa Jared Kushner, menantu Trump, dijadwalkan ikut ambil bagian dalam perundingan, bersama Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi. Sejumlah menteri dari negara kawasan seperti Pakistan, Arab Saudi, Qatar, Mesir, dan Uni Emirat Arab sebelumnya juga diperkirakan hadir. Namun, sumber regional mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran kini menginginkan perundingan bilateral langsung dengan AS. Peningkatan kehadiran angkatan laut AS terjadi setelah Iran melakukan penindakan keras terhadap demonstrasi anti-pemerintah bulan lalu, yang disebut sebagai kerusuhan domestik paling mematikan sejak Revolusi Iran 1979. Trump, yang akhirnya tidak merealisasikan ancaman intervensi langsung, kemudian menuntut konsesi nuklir dari Iran dan mengirim armada militer ke perairan dekat negara tersebut. Seorang pejabat regional sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa prioritas upaya diplomatik ini adalah mencegah konflik dan meredakan ketegangan. Para pemimpin Iran disebut semakin khawatir bahwa serangan AS dapat menggoyahkan cengkeraman mereka terhadap kekuasaan dengan memicu kembali kemarahan publik, menurut enam pejabat Iran, baik yang masih aktif maupun mantan pejabat.
Baca Juga: Penghentian Ekspor Batubara RI Berisiko Guncang Sistem Kelistrikan Asia Konfrontasi di Laut Dengan ketegangan yang terus meningkat, militer AS menyatakan sebuah drone Shahed-139 Iran yang terbang menuju kapal induk Abraham Lincoln “dengan tujuan yang tidak jelas” ditembak jatuh oleh jet tempur F-35 pada Selasa. Kantor berita Tasnim milik Iran melaporkan bahwa koneksi dengan sebuah drone di perairan internasional telah terputus, namun penyebabnya tidak diketahui. Dalam insiden terpisah di Selat Hormuz, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) mengganggu sebuah kapal tanker berbendera AS. “Dua kapal IRGC dan sebuah drone Mohajer Iran mendekati kapal M/V Stena Imperative dengan kecepatan tinggi serta mengancam akan menaiki dan menyita kapal tersebut,” kata Kapten Angkatan Laut AS Tim Hawkins, juru bicara CENTCOM.
Baca Juga: Harga Emas Bangkit ke Dekat US$5.100 Rabu (4/2) Siang, Ketegangan AS–Iran Memanas Kelompok manajemen risiko maritim Vanguard menyatakan kapal-kapal Iran memerintahkan tanker tersebut untuk mematikan mesin dan bersiap untuk dinaiki. Namun, kapal tanker justru meningkatkan kecepatan dan melanjutkan pelayaran. Pada Juni lalu, Amerika Serikat (AS) menyerang target nuklir Iran, bergabung di fase akhir kampanye pengeboman Israel selama 12 hari. Sejak itu, Teheran menyatakan kegiatan pengayaan uraniumnya yang diklaim untuk tujuan damai telah dihentikan. Sumber-sumber Iran mengatakan kepada Reuters pekan lalu bahwa Trump mengajukan tiga syarat untuk melanjutkan perundingan: nol pengayaan uranium di Iran, pembatasan program rudal balistik, serta penghentian dukungan Iran terhadap kelompok proksi di kawasan. Iran sejak lama menyebut ketiga tuntutan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatannya.
Baca Juga: Bursa Saham Australia Ditutup Menguat, Disokong Sektor Pertambangan & Perbankan Namun, dua pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa para pemimpin ulama Iran justru memandang program rudal balistik, bukan pengayaan uranium, sebagai hambatan terbesar dalam perundingan.