KONTAN.CO.ID – BUERGENSTOCK, Swiss/DUBAI. Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan mencatat "kemajuan yang menggembirakan" dalam putaran pertama perundingan yang berlangsung di Swiss dan berakhir lebih cepat pada Senin (22/6/2026). Meski demikian, sejumlah isu sensitif, termasuk konflik di Lebanon dan keamanan di Selat Hormuz, masih menjadi sumber ketegangan antara kedua pihak. Mediator dari Pakistan dan Qatar menyatakan bahwa Washington dan Teheran telah menyepakati peta jalan menuju perjanjian damai final yang ditargetkan tercapai dalam waktu 60 hari.
Kesepakatan tersebut dicapai meskipun perundingan diawali dengan suasana tegang setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz dan Presiden AS Donald Trump mengancam akan melanjutkan serangan terhadap Iran. Dalam pernyataan bersama, para mediator menyebut kedua negara telah menyepakati mekanisme untuk mengakhiri pertempuran antara Israel, sekutu utama AS, dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon. Selain itu, kedua pihak juga membuka jalur komunikasi guna menjamin keamanan pelayaran kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz, jalur vital bagi distribusi minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Baca Juga: Keir Starmer Umumkan Pengunduran Diri sebagai Perdana Menteri Inggris Perundingan teknis akan terus berlanjut sepanjang pekan ini di kawasan resor pegunungan Buergenstock, Swiss, yang dimiliki Qatar.
Iran Klaim Dapat Kelonggaran Ekspor Minyak
Melalui unggahan di media sosial, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan bahwa Teheran berhasil memperoleh sejumlah konsesi penting dari pembicaraan tersebut. Menurut Araqchi, Iran mendapatkan pengecualian (waiver) untuk ekspor minyak dan produk petrokimia, pencairan sebagian aset yang sebelumnya dibekukan, serta dimulainya program rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran. Pasar energi global merespons positif perkembangan tersebut. Harga minyak yang sebelumnya melonjak tajam akibat penutupan Selat Hormuz mulai terkoreksi setelah AS dan Iran menandatangani kesepakatan sementara pekan lalu. Pada perdagangan Senin pagi waktu GMT, harga minyak mentah Brent turun dan diperdagangkan di bawah level US$ 80 per barel. Penurunan ini mencerminkan berkurangnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Versi Berbeda dari Washington dan Teheran
Wakil Presiden AS JD Vance memulai pembicaraan dengan pejabat Iran pada Minggu (21/6) berdasarkan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang disepakati pekan lalu. Tujuannya adalah memperpanjang gencatan senjata yang rapuh sejak April setidaknya selama 60 hari ke depan. Namun sebelum perundingan dimulai, media AS melaporkan bahwa Presiden Donald Trump memperingatkan Iran agar tidak kembali menutup Selat Hormuz. Menurut laporan Fox News, Trump menyampaikan kepada pejabat Iran: "Anda tidak akan memiliki negara lagi jika mencoba menutup selat itu kembali." Trump juga kembali mengutarakan ancaman sebelumnya bahwa AS dapat mengambil alih jalur pelayaran tersebut dan bahkan memberlakukan tarif atau biaya penggunaan sendiri. Sumber Iran dan AS kemudian memberikan gambaran yang berbeda mengenai jalannya perundingan.
Baca Juga: Jepang Ubah Strategi Komunikasi, Pasar Waspadai Intervensi Yen Mendadak Kantor berita semi-resmi Tasnim mengutip sumber yang menyebut delegasi Iran sempat menolak kembali ke ruang perundingan setelah ancaman Trump menjadi konsumsi publik. Meski demikian, komunikasi tetap berlangsung melalui perantara dari Pakistan dan Qatar. Menurut sumber tersebut, Iran menegaskan bahwa pembahasan isu nuklir hanya dapat dimulai apabila AS terlebih dahulu memenuhi bagian lain dari nota kesepahaman, termasuk pencairan aset yang dibekukan dan pemberian izin ekspor minyak Iran. Sementara itu, seorang diplomat AS yang terlibat langsung dalam pembicaraan membantah kabar tersebut. "Delegasi Iran tidak pernah meninggalkan lokasi dan masih berada di sini untuk melakukan pertemuan serta negosiasi hingga larut malam. Kami telah membahas Selat Hormuz, Lebanon, isu nuklir, serta rincian implementasi nota kesepahaman dan berbagai topik lainnya," katanya.
Fokus pada Selat Hormuz dan Konflik Lebanon
Kesepakatan sementara antara kedua negara mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian seluruh aksi permusuhan, termasuk konflik di Lebanon. Iran menilai AS belum memenuhi komitmennya untuk menghentikan perang di Lebanon. Teheran menyatakan bahwa keputusan menutup kembali Selat Hormuz pada akhir pekan lalu dilakukan sebagai respons atas berlanjutnya serangan Israel terhadap target-target Hizbullah. Dalam perundingan tersebut, JD Vance berusaha meredam kekhawatiran terkait situasi Lebanon. "Hal-hal seperti ini memang selalu sedikit rumit," ungkapnya. Vance juga mengatakan bahwa Presiden Trump menginginkan hubungan baru antara AS dan Iran. "Presiden meminta kami membuka lembaran baru untuk mentransformasi hubungan kami dengan rakyat Iran." terangnya. Seorang diplomat AS menyebut salah satu fokus utama diskusi adalah memperjelas sikap Iran terkait Selat Hormuz dan membangun mekanisme pencegahan konflik guna memastikan jalur pelayaran tersebut tetap terbuka sepenuhnya.
Aktivitas Pelayaran Mulai Pulih
Seiring dicabutnya blokade maritim AS terhadap Iran, aktivitas pelabuhan mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Baca Juga: Takhta Samsung Runtuh: SK Hynix Jadi Perusahaan dengan Valuasi Terbesar di Korsel Sebuah kapal kontainer kedua dilaporkan telah bersandar di Pelabuhan Shahid Rajaee di Bandar Abbas pada Senin dan mulai melakukan proses bongkar muat. Meski demikian, lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih jauh di bawah normal. Data perusahaan analitik Kpler menunjukkan hanya lima kapal yang melintas pada Minggu, turun tajam dibandingkan 26 kapal sehari sebelumnya.
Israel Dukung Jalur Diplomasi dengan Syarat
Di tengah upaya diplomatik tersebut, Presiden Israel Isaac Herzog menyatakan negaranya tidak menolak penyelesaian konflik Iran melalui jalur diplomasi. Namun, menurut Herzog, setiap kesepakatan harus memastikan bahwa dana yang diterima Iran dari hasil perjanjian tidak digunakan untuk kepentingan militer maupun mendukung kelompok-kelompok proksi di kawasan Timur Tengah.