KONTAN.CO.ID - EVIAN-LES-BAINS/DUBAI. Amerika Serikat (AS) dan Iran resmi merilis teks kesepakatan sementara yang telah ditandatangani oleh Presiden Donald Trump dan Presiden Masoud Pezeshkian untuk mengakhiri perang antara kedua negara pada Rabu (17/6/2026). Meski demikian, Trump menegaskan bahwa Washington siap kembali melancarkan serangan militer apabila Teheran tidak mematuhi komitmen yang telah disepakati dalam perjanjian tersebut. Berbicara dalam konferensi pers saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Prancis, Trump menyatakan pemerintahannya tidak akan ragu mengambil tindakan keras jika Iran melanggar isi kesepakatan.
"Kami akan membombardir mereka habis-habisan jika mereka melanggar perjanjian ini. Saya tidak menginginkan itu terjadi. Saya ingin mereka menghormati perjanjian tersebut," ujarnya. Trump juga menyebut rakyat Iran sebagai "orang-orang yang cerdas" di tengah berlangsungnya negosiasi antara kedua negara untuk menyusun gencatan senjata permanen dalam 60 hari ke depan. Ia berharap proses tersebut dapat membawa perdamaian di Timur Tengah sekaligus menekan harga minyak dunia. Sebelumnya, Trump juga menyampaikan ancaman serupa. "Jika saya tidak menyukainya, jika mereka tidak berperilaku sebagaimana mestinya, kami akan kembali menjatuhkan bom tepat di atas kepala mereka," katanya.
Baca Juga: Bank Sentral Taiwan Tahan Suku Bunga, Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Jadi 9,45% Trump Ubah Sikap Soal Rudal Balistik Iran
Dalam pernyataan terbarunya, Trump juga menarik kembali salah satu alasan utama yang sebelumnya digunakan untuk membenarkan serangan terhadap Iran. Jika sebelumnya ia berjanji akan menghancurkan seluruh kemampuan rudal balistik Iran, kini Trump justru mengatakan bahwa akan "tidak adil" jika Iran sama sekali tidak memiliki rudal, sementara negara lain memilikinya. "Saya mengatakan bahwa jika negara-negara lain memilikinya, maka agak tidak adil jika mereka sama sekali tidak memiliki beberapa rudal," ungkapnya. Pernyataan tersebut menandai perubahan sikap yang cukup signifikan dibanding janji Trump pada Februari lalu yang ingin menghancurkan seluruh persenjataan rudal Iran.
Iran Klaim Diplomasi Lebih Berhasil Dibanding Perang
Di sisi lain, para pemimpin Iran tidak menanggapi ancaman terbaru Trump dan memilih merayakan tercapainya kesepakatan tersebut. Perunding utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengatakan bahwa hasil yang diperoleh melalui jalur diplomasi jauh melampaui capaian operasi militer. "Segala sesuatu yang ingin kami capai melalui aksi militer berhasil kami peroleh berkali-kali lipat melalui negosiasi; hasilnya bahkan tidak dapat dibandingkan," katanya. Kesepakatan itu juga mencakup pencairan kembali aset-aset Iran yang selama ini dibekukan, dengan nilai mencapai miliaran dolar AS.
Isi Kesepakatan: Gencatan Senjata hingga Pencabutan Sanksi
Memorandum berisi 14 poin tersebut memperpanjang gencatan senjata yang diumumkan pada April selama 60 hari tambahan, termasuk penghentian konflik di Lebanon, guna memberi ruang bagi negosiasi damai permanen. Menurut pejabat AS dan Iran, Trump dan Presiden Masoud Pezeshkian telah menandatangani dokumen tersebut secara digital dalam bahasa Inggris dan Persia. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan perjanjian itu langsung berlaku efektif mulai Rabu. Beberapa poin penting dalam kesepakatan meliputi:
- Penghentian perang di seluruh front konflik, termasuk Lebanon.
- Dibukanya kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz tanpa pembatasan.
- Dicabutnya blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
- Penghapusan sanksi ekonomi AS terhadap Iran.
- Pencairan aset Iran yang sebelumnya dibekukan.
- Pembentukan dana investasi senilai US$ 300 miliar untuk rekonstruksi pascaperang Iran.
Baca Juga: NATO Sepakati Modernisasi Kapabilitas Nuklir dan Perkuat Strategi Pertahanan Iran Tetap Berkomitmen Tidak Mengembangkan Senjata Nuklir
Dalam perjanjian tersebut, Iran kembali menegaskan komitmennya untuk tidak membangun senjata nuklir. Selain itu, Teheran menyetujui proses pengenceran (down-blending) cadangan uranium yang telah diperkaya di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Namun, Iran tetap menolak usulan Trump yang menginginkan stok uranium tersebut dipindahkan ke luar negeri. Meski demikian, pemerintahan Iran tetap bertahan, persediaan uranium yang diperkaya tinggi tidak diserahkan, kemampuan rudal balistiknya tidak dihancurkan, dan dukungan terhadap kelompok-kelompok sekutu seperti Hezbollah di Lebanon juga tidak dihentikan.
Harga Minyak Turun Seiring Prospek Pembukaan Selat Hormuz
Prospek dibukanya kembali Selat Hormuz mendorong harga minyak dunia melemah pada Rabu. Kontrak berjangka minyak Brent sempat turun ke bawah US$ 80 per barel, level terendah sejak perang dimulai, sebelum kembali naik lebih dari 1% setelah Trump mengeluarkan ancaman baru terkait kemungkinan serangan lanjutan terhadap Iran.
Negara-Negara G7 Sambut Positif Kesepakatan
Para pemimpin negara-negara G7 menyambut baik tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran dalam pertemuan puncak yang berlangsung di Evian-les-Bains, Prancis. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, membantah adanya rencana seremoni penandatanganan resmi di Swiss. "Tidak akan ada upacara penandatanganan di Swiss," ungkapnya. Menurutnya, kedua presiden telah lebih dahulu menandatangani dokumen tersebut sehingga seremoni tambahan tidak lagi diperlukan.
Baca Juga: Selat Hormuz Dibuka, Pasokan Minyak Global 93 Juta Barel Bisa Banjiri Pasar Trump Sindir Netanyahu Soal Operasi Militer di Lebanon
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga melontarkan kritik ringan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait operasi militer Israel terhadap Hezbollah di Lebanon. "Netanyahu adalah orang yang baik, hanya saja kadang-kadang sedikit terlalu bersemangat," katanya.
Trump menambahkan bahwa ia memiliki perbedaan pandangan dengan Netanyahu mengenai pendekatan militer di Lebanon. "Kami punya sedikit perbedaan pendapat soal Lebanon. Saya mengatakan Anda bisa mengambil pendekatan yang sedikit lebih lunak, Bibi. Anda tidak harus merobohkan sebuah gedung setiap kali seseorang dari Hezbollah masuk ke dalamnya," terangnya. Meski terdapat kesepakatan penghentian konflik, laporan media pemerintah Lebanon menyebutkan serangan udara dan tembakan artileri Israel masih terjadi di sejumlah wilayah selatan negara itu. Sementara sumber keamanan Lebanon menyatakan Hezbollah juga melancarkan dua serangan drone terhadap pasukan Israel di kawasan tersebut. Militer Israel kemudian melaporkan lima tentaranya mengalami luka-luka akibat dua serangan drone Hezbollah di Lebanon selatan.