AS dan Iran Teken Kesepakatan Gencatan Senjata, Trump Tetap Ancam Serangan Baru



KONTAN.CO.ID - Amerika Serikat (AS) dan Iran resmi menandatangani kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sejak Februari 2026.

Namun, Presiden AS Donald Trump menegaskan Washington masih dapat melanjutkan serangan militer jika Teheran dinilai melanggar isi perjanjian.

Baca Juga: Bank Sentral Brasil Pangkas Suku Bunga Lagi, Sinyalkan Peluang Pelonggaran Lanjutan


Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Rabu (17/6/2026) setelah kedua negara merilis memorandum of understanding (MoU) yang menjadi dasar perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari guna membuka jalan menuju perjanjian damai permanen.

"Kami akan membombardir mereka habis-habisan jika mereka melanggar perjanjian. Saya berharap mereka mematuhinya," kata Trump kepada wartawan.

Trump juga menyatakan AS dan Iran akan memanfaatkan masa gencatan senjata untuk merundingkan kesepakatan yang lebih komprehensif.

Menurut pejabat senior AS, kedua pihak telah menandatangani kesepakatan secara digital. Pemerintah Iran juga mengonfirmasi bahwa perjanjian tersebut telah berlaku efektif mulai Rabu.

Baca Juga: Saham Inggris Turun Tipis, Investor Menanti Keputusan Bank of England

Kesepakatan berisi 14 poin itu mencakup penghentian konflik di seluruh front, pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, pencabutan blokade pelabuhan Iran oleh AS, pembebasan aset Iran yang dibekukan, hingga rencana rehabilitasi ekonomi Iran senilai US$ 300 miliar.

Selain itu, Iran kembali menegaskan komitmennya untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

Meski demikian, sejumlah isu utama belum terselesaikan dalam kesepakatan sementara tersebut, termasuk program nuklir Iran, kepemilikan rudal balistik, serta dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok sekutu di kawasan Timur Tengah.

Bahkan, Trump tampak melunakkan salah satu tuntutan utamanya yang sebelumnya menyerukan penghancuran seluruh kemampuan rudal Iran.

"Saya pikir tidak adil jika negara lain memilikinya sementara mereka tidak boleh memiliki sama sekali," ujar Trump terkait rudal balistik Iran.

Baca Juga: Era Warsh Dimulai, The Fed Tinggalkan Forward Guidance dan Lebih Hawkish

Harga Minyak Berfluktuasi

Kesepakatan tersebut sempat mendorong penurunan harga minyak dunia karena pasar melihat peluang normalisasi pasokan energi global.

Harga minyak mentah Brent sempat turun ke bawah US$ 80 per barel, level terendah sejak konflik AS-Iran pecah pada Februari lalu.

Penurunan dipicu harapan bahwa Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia, akan kembali beroperasi normal.

Baca Juga: Hasil Inggris vs Kroasia 4-2: Harry Kane Samai Rekor Gary Lineker

Namun harga minyak kemudian memangkas pelemahan dan kembali menguat lebih dari 1% setelah Trump mengisyaratkan kemungkinan melanjutkan serangan militer apabila tidak puas dengan perkembangan negosiasi.

Konflik yang berlangsung selama lebih dari tiga bulan telah memicu lonjakan harga energi global dan meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara.

Selain itu, gangguan distribusi energi dan pangan akibat konflik turut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global, terutama di negara-negara berkembang.

Dukungan G7

Para pemimpin negara-negara anggota G7 menyambut positif tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran.

Dalam pernyataan bersama, para pemimpin Prancis, Jerman, Inggris, Italia, Jepang, Kanada, dan AS menegaskan pentingnya melanjutkan proses diplomasi untuk memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir.

Baca Juga: Pernyataan Hasil FOMC The Fed (17 Juni 2026)

Mereka juga menyerukan penghentian konflik di Lebanon yang menjadi bagian dari kesepakatan sementara tersebut.

Meski demikian, situasi keamanan di Lebanon masih belum sepenuhnya stabil. Laporan media pemerintah Lebanon menyebut serangan udara Israel dan baku tembak di wilayah selatan negara itu masih terjadi pada Rabu.

Trump juga secara terbuka mengkritik pendekatan militer Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon.

"Netanyahu adalah orang yang baik, tetapi terkadang terlalu bersemangat," ujar Trump.

Baca Juga: Para Pemimpin G7 Berjanji Mempererat Koordinasi Risiko dan Peluang Terkait AI

Menurutnya, operasi militer Israel di Lebanon perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih terukur guna mendukung proses perdamaian yang tengah berlangsung.

Ke depan, pasar global akan mencermati implementasi kesepakatan tersebut, terutama terkait pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan berbagai sanksi ekonomi terhadap Iran yang berpotensi mengubah peta pasokan energi dunia.