AS dan Iran Terus Lontarkan Retorika Permusuhan Jelang Penerapan Sanksi Baru



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Amerika Serikat dan Iran saling melontarkan pernyataan yang berdana menantang menjelang pengumuman sanksi ekonomi baru AS yang dijadwalkan pada hari Senin (24/8/2026). Sanksi ini dapat berdampak pada Iran serta mitra-mitra dagang terpenting Teheran, termasuk China.

Mengutip Reuters, Sabtu (22/8/2026), meski konflik telah berlangsung hampir enam bulan, kedua belah pihak tidak terlibat baku tembak namun juga tidak mengupayakan perundingan damai. 

Sementara itu, pengiriman minyak melalui Selat Hormuz praktis terhenti karena Teheran mempertahankan posisi tawarnya dengan mengancam akan menyerang kapal tanker minyak tak berizin yang mencoba melintasi jalur air sempit tersebut. 


Menteri Keuangan AS Scott Bessent akan menggelar konferensi pers pada hari Senin pukul 14.00 EDT (18.00 GMT) di tengah janji untuk mengungkap "sanksi terberat dalam sejarah" terhadap Iran, sembari mendesak China untuk bekerja sama dengan Washington. 

Baca Juga: Naikkan Status Vietnam ke Emerging Market, FTSE Russell Masukkan Hoa Pahat & Vingroup

China membeli lebih dari 80% minyak yang dikirimkan Iran, menurut data tahun 2025 dari perusahaan analitik Kpler. Beijing mendesak penyelesaian melalui jalur diplomasi.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan pada hari Sabtu bahwa rencana pengumuman sanksi ekonomi baru AS terhadap Iran merupakan bentuk "penegasan kedaulatan ekstrateritorial atas setiap negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berdaulat." "Sanksi sekunder semacam itu tidak memiliki dasar hukum dalam hukum internasional," ujarnya dalam sebuah unggahan di X.

Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya telah memperingatkan akan adanya konsekuensi ekonomi bagi negara mana pun yang memberikan "bentuk bantuan penyelamat apa pun kepada Iran," mengatakan pada hari Jumat bahwa Washington sedang memantau "apa yang terjadi" dalam konflik tersebut.

"Mereka sebenarnya ingin membuat kesepakatan, tetapi menurut pendapat saya, mereka belum siap untuk membuat kesepakatan yang tepat," kata Trump mengenai Iran.

Lalu Lintas di Selat Hormuz Terhenti

Meskipun AS secara efektif telah memblokade kapal-kapal Iran di pelabuhan mereka, Selat Hormuz tetap macet total dengan ribuan pelaut yang tertahan di ratusan kapal. 

Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa hanya empat kapal komoditas yang melintasi selat tersebut pada hari Kamis; tidak satu pun di antaranya merupakan kapal pengangkut minyak mentah berukuran besar atau kapal tanker gas alam cair (LNG).

Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan bahwa militer AS membantu memfasilitasi pengangkutan minyak rata-rata 8 juta barel per hari melalui selat tersebut selama periode tujuh hari. Angka ini turun dari lebih dari 20 juta barel per hari sebelum perang—yang setara dengan sekitar satu dari setiap lima barel minyak yang dikonsumsi di seluruh dunia.

Serangan AS telah melemahkan ekonomi Iran serta melumpuhkan angkatan laut dan angkatan udaranya; namun, Teheran masih mempertahankan kemampuan rudal dan pesawat nirawak (drone) yang cukup untuk menghambat lalu lintas kapal tanker minyak dan menyerang para pesaingnya di kawasan tersebut.

Baca Juga: Tesla dan Produsen Lain Mulai Melakukan Recall Besar-besaran di China

Sementara itu, Trump belum mencapai tujuan-tujuan yang ia tetapkan di awal perang, seperti membongkar program nuklir Iran—yang statusnya masih belum jelas mengingat inspektur PBB telah dilarang masuk sejak tahun 2025—serta menciptakan kondisi agar rakyat Iran dapat menggulingkan para penguasa dari kalangan ulama mereka.

Ribuan orang telah tewas, termasuk 168 anak sekolah Iran pada hari pertama perang. AS melaporkan lebih dari 750 personel militernya terluka dan 18 orang tewas. 

Ekonomi Iran Terdampak Buruk

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, pada hari Jumat berjanji bahwa Iran akan menanggapi ancaman musuh secara militer dengan "balasan yang melumpuhkan, menghukum, dan menghancurkan."

Meski demikian, Presiden Masoud Pezeshkian menyerukan solusi diplomatik.

"Akan lebih baik jika perang diakhiri hari ini, saat kita berada dalam posisi kuat dan bermartabat, serta ketika seluruh dunia mengakui kemenangan kita dan menegaskan bahwa Amerika—yang melanggar segala aturan—telah menyerang sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur kita, serta kini dibenci oleh dunia," ujar Pezeshkian sebagaimana dikutip kantor berita ISNA. 

Baca Juga: AS Berencana Lunasi Sebagian Utang ke PBB, Akan Bayar US$ 725 Juta

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf—yang juga merupakan negosiator utama Iran dalam perundingan yang dimediasi pihak ketiga dengan AS—mengakui adanya tekanan terhadap ekonomi Iran dalam pernyataannya kepada para pelaku bisnis Iran dan Irak pada Kamis malam.

"Betapapun besarnya kekuatan militer yang kita miliki, kita tidak akan mampu bertahan jika rakyat kelaparan dan kita tidak memiliki perputaran keuangan, pertumbuhan ekonomi, maupun produksi nasional," kata Qalibaf sebagaimana dikutip kantor berita resmi IRNA.

TAG: