KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fasilitas pengayaan uranium Natanz di Iran dilaporkan menjadi sasaran serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu pagi (21/3/2026). Informasi ini disampaikan kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan pemerintah Iran. Meski terjadi serangan, otoritas Iran memastikan tidak ada kebocoran radioaktif. Warga di sekitar lokasi juga disebut tidak berada dalam bahaya.
Baca Juga: Citra Satelit Ungkap Dugaan Serangan ke Fasilitas Nuklir Iran di Natanz Di sisi lain, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengaku belum mengetahui kondisi terbaru fasilitas pengayaan uranium baru milik Iran yang berada di Isfahan. Kepala IAEA Rafael Grossi mengatakan lokasi tersebut berada di bawah tanah dan belum sempat diperiksa secara langsung. “Kami belum mengunjunginya, jadi masih banyak hal yang belum diketahui,” ujarnya saat berada di Washington untuk menghadiri konferensi dan melakukan pembicaraan dengan pejabat pemerintah AS. Iran sebelumnya telah melaporkan keberadaan fasilitas baru itu kepada IAEA pada Juni lalu. Namun, rencana inspeksi sempat tertunda setelah kompleks nuklir di Isfahan terkena serangan di awal konflik bersenjata selama 12 hari dengan Israel. Akibat pembatalan kunjungan tersebut, IAEA belum bisa memastikan apakah fasilitas itu sudah beroperasi atau masih berupa ruang kosong yang menunggu pemasangan sentrifugal, yaitu mesin yang digunakan untuk memperkaya uranium.
Baca Juga: Militer AS Siap Operasi Jangka Panjang ke Iran Jika Trump Perintahkan Serangan “Masih banyak pertanyaan yang baru bisa dijawab setelah kami kembali melakukan inspeksi,” kata Grossi. Dalam perkembangan lain, Iran juga melaporkan bahwa sebuah proyektil sempat menghantam area dekat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr pada Selasa malam. Namun, insiden itu tidak menimbulkan kerusakan maupun korban. Sebelumnya, IAEA juga telah mengonfirmasi bahwa pintu masuk fasilitas pengayaan uranium bawah tanah di Natanz sempat menjadi target dalam rangkaian serangan militer AS dan Israel sejak awal Maret.