AS-Iran Akhiri Perundingan Doha, Belum Ada Terobosan Damai Permanen



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Iran dan Amerika Serikat (AS) mengakhiri putaran terbaru perundingan tidak langsung di Doha, Qatar, pada Rabu (2/7/2026), tanpa menunjukkan adanya kemajuan berarti menuju kesepakatan damai permanen.

Pembahasan kedua negara lebih berfokus pada implementasi sejumlah poin yang telah disepakati dalam perjanjian sementara yang diumumkan dua pekan lalu.

Sejumlah sumber yang mengetahui jalannya perundingan mengatakan, negosiator Iran dan AS menghabiskan dua hari membahas kelancaran lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz serta pencairan kembali dana milik Iran yang sebelumnya dibekukan. Kedua isu tersebut merupakan bagian penting dari kesepakatan awal yang dicapai setelah konflik bersenjata pada Juni lalu.


Kementerian Luar Negeri Qatar menyatakan putaran perundingan berikutnya akan digelar setelah prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang dijadwalkan dimakamkan pada 9 Juli.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar mengatakan pembahasan di Doha menghasilkan "kemajuan yang positif" terkait implementasi nota kesepahaman yang mengakhiri perang pada Juni lalu dan merupakan "kelanjutan dari hasil-hasil yang dicapai" dalam pertemuan tingkat tinggi di Swiss.

Baca Juga: Rusia Gempur Kyiv, 10 Tewas dan Puluhan Terluka dalam Serangan Balasan

Di Washington, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan optimisme terkait perkembangan hubungan kedua negara. Menurutnya, terdapat kemajuan dalam pembahasan mengenai kemungkinan pembatasan program nuklir Iran, yang menjadi alasan utama AS bersama Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran pada Februari lalu.

Fokus nuklir belum dibahas

Trump mengatakan, "Proses denuklirisasi Iran berjalan dengan baik. Mereka telah mengadakan pertemuan yang sangat baik, dan kita akan lihat hasilnya."

Namun, sejumlah sumber yang mengetahui isi pembicaraan menyebutkan bahwa isu program nuklir sama sekali tidak dibahas dalam pertemuan di Doha. Negosiasi kali ini bersifat teknis dan hanya difokuskan pada implementasi kesepakatan sementara.

Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pembahasan mengenai program nuklir akan dilakukan pada tahap berikutnya.

"Jelas kami tetap khawatir mengenai isu nuklir, dan kami akan mulai membahasnya," ujarnya kepada wartawan.

Kementerian Luar Negeri Qatar menjelaskan bahwa negosiator Amerika dan Iran melakukan pertemuan secara terpisah dengan mediator dari Qatar dan Pakistan.

Sementara itu, menantu Donald Trump, Jared Kushner, serta utusan khusus AS Steve Witkoff yang sebelumnya disebut Gedung Putih akan memimpin perundingan tingkat tinggi, tidak menghadiri pembicaraan tersebut, menurut sumber yang mengetahui agenda pertemuan.

Delegasi Iran dipimpin Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi. Meski perundingan telah selesai, kedua pihak tidak memberikan keterangan apakah perbedaan utama di antara mereka berhasil dipersempit.

Status Selat Hormuz Masih Menjadi Sorotan

Kesepakatan awal antara Iran dan AS mengatur pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelum perang menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Walaupun aktivitas pelayaran mulai kembali berjalan, status keamanan Selat Hormuz masih belum sepenuhnya jelas. Akhir pekan lalu, Iran dan AS kembali saling melancarkan serangan setelah sebuah kapal kargo diserang oleh Iran.

Dua sumber senior Iran mengatakan pemerintah Iran bertekad memperoleh pengakuan internasional atas kendalinya terhadap Selat Hormuz, bahkan jika harus ditempuh melalui kekuatan militer.

Iran juga berulang kali menyatakan akan mulai mengenakan tarif bagi kapal yang melintas mulai pertengahan Agustus, setelah masa bebas tarif yang diatur dalam kesepakatan sementara berakhir.

Baca Juga: Aluminium Rebound, Sektor Manufaktur China hingga AS Beri Sentimen Positif

Meski demikian, Trump meredam kekhawatiran mengenai kemungkinan pecahnya kembali perang berskala penuh.

"Saya pikir mereka telah mencapai kemajuan yang sangat jauh," kata Trump.

Pernyataan tersebut langsung memengaruhi pasar energi. Harga minyak dunia turun ke level terendah dalam empat bulan terakhir, sementara sejumlah analis memangkas proyeksi harga minyak untuk pertama kalinya sejak konflik dimulai.

Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan sebuah kapal kontainer asing kandas di perairan dangkal di luar jalur pelayaran yang telah ditetapkan otoritas Iran.

Pendiri lembaga analisis pasar minyak Vanda Insights, Vandana Hari, mengatakan kondisi pelayaran di Selat Hormuz masih jauh dari normal.

"Selat Hormuz terus dibuka kembali, tetapi prosesnya masih tidak merata, sulit diprediksi, dan belum sepenuhnya transparan," ujarnya.

Sejumlah negara Eropa telah menawarkan bantuan untuk membersihkan ranjau laut di kawasan Selat Hormuz. Namun, Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius mengatakan negaranya tidak memperkirakan akan ikut berpartisipasi karena Iran dinilai tidak menunjukkan kemauan untuk bekerja sama dengan negara-negara lain.