KONTAN.CO.ID - Upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menunjukkan titik terang. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa perundingan kedua negara berpotensi dilanjutkan di Pakistan dalam beberapa hari ke depan, meski Washington baru saja memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran. Melansir
Reuters Selasa (14/4/2026), sejumlah pejabat dari kawasan Teluk, Pakistan, dan Iran juga mengonfirmasi bahwa tim negosiasi kedua negara kemungkinan kembali ke Pakistan pekan ini.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Melonjak 2%, Didorong Pelemahan Dolar dan Harapan Negosiasi AS-Iran Namun, sumber senior Iran menyebutkan belum ada jadwal pasti yang ditetapkan. Pernyataan Trump, yang disampaikan dalam wawancara dengan New York Post, menyebut perkembangan bisa terjadi dalam waktu dekat. “Sesuatu bisa terjadi dalam dua hari ke depan, dan kami cenderung menuju ke sana,” ujarnya. Meski blokade AS memicu reaksi keras dari Teheran, sinyal kelanjutan diplomasi justru membantu meredakan ketegangan di pasar minyak. Harga minyak acuan global pun turun ke bawah level US$ 100 per barel pada Selasa (14/4). Sejak konflik pecah pada 28 Februari, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz jalur vital distribusi minyak dan gas dunia. Konflik ini telah menewaskan sekitar 5.000 orang. Perundingan yang digelar di Islamabad akhir pekan lalu belum menghasilkan kesepakatan, sehingga memunculkan keraguan terhadap keberlanjutan gencatan senjata dua pekan yang kini masih menyisakan satu minggu.
Baca Juga: Ekspor China Kehilangan Tenaga, Sinyal Risiko Ekonomi Isu Nuklir Jadi Batu Sandungan Perbedaan tajam terkait program nuklir Iran menjadi hambatan utama. Amerika Serikat mengusulkan penghentian seluruh aktivitas nuklir Iran selama 20 tahun, sementara Teheran hanya bersedia menghentikan selama tiga hingga lima tahun. Selain itu, Washington juga mendorong agar seluruh material nuklir yang telah diperkaya dikeluarkan dari Iran. Di sisi lain, Iran menuntut pencabutan sanksi internasionalyang hanya bisa direalisasikan dengan dukungan luas dari komunitas global. Sejumlah sumber menyebutkan pembicaraan informal sejak akhir pekan telah menghasilkan kemajuan dalam memperkecil perbedaan tersebut, membuka peluang tercapainya kesepakatan dalam putaran negosiasi berikutnya. Namun, kompleksitas kesepakatan nuklir tetap menjadi tantangan, mengingat perlunya mekanisme pengawasan ketat oleh International Atomic Energy Agency.
Baca Juga: ETF Aktif Laris, Laba BlackRock Melonjak di Kuartal I-2026 Blokade dan Dampak ke Energi Global Komando Pusat AS melaporkan tidak ada kapal yang berhasil menembus blokade pelabuhan Iran dalam 24 jam pertama, sementara enam kapal dagang dilaporkan berbalik arah. Lebih dari selusin kapal perang AS terlibat dalam operasi tersebut. Meski demikian, data pelayaran menunjukkan lalu lintas di Selat Hormuz masih berlangsung terbatas, dengan setidaknya delapan kapal melintas pada hari yang sama. Ketegangan ini memperburuk ketidakpastian pasokan energi global. International Monetary Fund bahkan memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global dan memperingatkan risiko resesi jika konflik memburuk dan harga minyak bertahan di atas US$ 100 per barel hingga 2027. Sementara itu, International Energy Agency juga menurunkan proyeksi pertumbuhan pasokan dan permintaan minyak global. Sekutu NATO AS seperti Inggris dan Prancis menegaskan tidak akan terlibat dalam blokade, meski bersedia membantu pengamanan jalur pelayaran jika kesepakatan tercapai. Di sisi lain, China sebagai pembeli utama minyak Iran mengkritik langkah AS sebagai tindakan berbahaya yang dapat memperkeruh situasi.
Baca Juga: Italia Resmi Stop Perjanjian Militer dengan Israel, Ini Alasan PM Giorgia Meloni Dinamika Regional Kian Kompleks Prospek perdamaian semakin rumit dengan berlanjutnya serangan Israel terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon. Israel dan AS menyebut operasi tersebut tidak termasuk dalam cakupan gencatan senjata, sementara Iran berpendapat sebaliknya. Di Washington, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memfasilitasi pertemuan langsung antara utusan Israel dan Lebanon yang pertama sejak 1983. Kedua pihak sepakat melanjutkan dialog, meski belum ada jadwal pertemuan berikutnya. Lebanon mendorong gencatan senjata untuk menghentikan serangan Israel yang telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan menyebabkan 1,2 juta warga mengungsi. Sementara itu, Israel menekan agar pemerintah Lebanon melucuti Hezbollah sebagai syarat perdamaian.
Baca Juga: Bank-Bank Wall Street Panen Cuan dari Volatilitas Pasar, Tapi Waspadai Satu Hal Ini Gencatan Senjata Masih Bertahan Di tengah tekanan domestik dan lonjakan harga energi, Trump menghentikan sementara kampanye militer AS-Israel pekan lalu setelah sebelumnya mengancam akan menghancurkan Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali.
Survei Reuters/Ipsos menunjukkan dukungan publik AS terhadap serangan ke Iran menurun menjadi 35%, dari sebelumnya 37%. Meski retorika kedua pihak masih memanas, gencatan senjata sejauh ini relatif bertahan selama pekan pertama. Iran menyebut pembatasan pelayaran oleh AS sebagai “pembajakan”, sementara Trump mengklaim angkatan laut Iran telah “hancur total”. Trump juga memperingatkan bahwa setiap kapal yang mendekati blokade akan langsung dihancurkan, menandakan ketegangan masih jauh dari mereda meski jalur diplomasi kembali dibuka.