AS-Iran Kembali Memanas, Trump Klaim Kuasai Selat Hormuz



KONTAN.CO.ID – WASHINGTON/CAIRO. Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali berada dalam situasi perang setelah kedua negara terlibat pertukaran serangan paling signifikan dalam beberapa pekan terakhir pada Rabu (2/9/2026).

Washington bahkan mengancam akan melancarkan serangan yang lebih dahsyat, sementara Iran mengecam serangan yang disebut menewaskan warga sipil dalam sebuah pesta pernikahan.

Komando Pusat AS (U.S. Central Command) menyatakan telah menyelesaikan serangkaian serangan terhadap target Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Selasa. Serangan tersebut menyasar sejumlah fasilitas, termasuk sistem pertahanan udara, radar, aset maritim, fasilitas kemampuan peletakan ranjau, serta fasilitas komunikasi.


Media Iran melaporkan adanya serangan terhadap sejumlah target di berbagai wilayah negara tersebut pada Selasa. Sebagian serangan dilaporkan terjadi di sekitar Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang selama ini menjadi titik ketegangan karena Iran mengancam kapal tanker minyak yang melintas tanpa izin.

Baca Juga: 8 Nama WNI Ini Diklaim Intelijen Ukraina Sebagai Tentara Bayaran Rusia

Sebagai balasan, Iran menyatakan telah menyerang aset-aset AS di Yordania dan Irak berdasarkan pernyataan resmi. Media Iran juga melaporkan serangan terhadap Bahrain.

IRGC mengklaim telah menewaskan sejumlah besar pasukan AS di Yordania. Namun, dua pejabat AS mengatakan kepada Reuters berdasarkan penilaian awal bahwa tidak terdapat korban jiwa dalam serangan tersebut.

Angkatan Bersenjata Yordania mengatakan sistem pertahanan udaranya menghadapi 13 rudal balistik yang memasuki wilayah udara negara tersebut. Sebanyak 10 rudal berhasil dicegat, sedangkan tiga lainnya jatuh di wilayah terpencil.

Bahrain juga menyatakan bahwa drone-drone Iran berhasil dicegat dan dihancurkan.

IRGC turut mengatakan pasukan daratnya melakukan serangan gabungan menggunakan rudal dan drone terhadap pangkalan AS di Erbil, Irak utara. IRGC mengklaim serangan tersebut menewaskan beberapa personel AS. Namun, baik Irak maupun AS belum mengonfirmasi serangan tersebut.

Pertempuran Terbesar Sejak Juli

Pertukaran serangan tersebut menjadi pertempuran serius pertama sejak Juli. Eskalasi ini mengakhiri periode ketika kedua pihak menahan diri dari serangan, meskipun juga belum menunjukkan minat besar untuk kembali ke meja perundingan.

Jeda konflik terjadi ketika perang mulai memberikan tekanan besar terhadap kedua belah pihak. Perekonomian Iran yang sebelumnya sudah mengalami masalah semakin terpukul akibat perang, sementara kemampuan militer konvensional negara tersebut juga mengalami penurunan.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menghadapi tekanan akibat kenaikan harga bahan bakar menjelang pemilihan kongres pada November. Reuters melaporkan bulan lalu bahwa Angkatan Darat AS telah menggunakan sebagian besar persediaan global rudal jarak jauh berpresisi tinggi.

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran mengenai kesiapan militer AS dalam menghadapi konflik di masa mendatang.

Meski demikian, kembali pecahnya permusuhan antara AS dan Iran memunculkan pernyataan keras dari kedua pihak.

Trump mengatakan posisi AS saat ini jauh lebih kuat, terutama terkait penguasaan Selat Hormuz dan kondisi perekonomian Iran.

"Saya jauh lebih menyukai posisi kami sekarang, dengan hampir sepenuhnya menguasai Selat Hormuz dan perekonomian mereka yang benar-benar runtuh. Mereka hanya sedang menjalani sesuatu yang tidak dapat dihindari. Kapan rakyat Iran akan bangkit dan melawan?" katanya.

Baca Juga: Bursa Korea Selatan Anjlok 3,13% di Tengah Eskalasi Perang AS-Iran

Iran kemudian mengeluarkan peringatan keras kepada AS dan negara-negara sekutunya.

Komando Gabungan Militer Iran mengatakan keberlanjutan tindakan AS di kawasan akan mendapatkan respons yang lebih berat dan luas.

"Kami memperingatkan bahwa kelanjutan kejahatan Amerika di kawasan akan dibalas dengan respons yang lebih berat, lebih luas, dan menghancurkan, dan setiap negara yang bekerja sama dengan tentara Amerika yang agresif harus menerima konsekuensi berbahaya yang ditimbulkannya," ujarnya.

Lima Orang Tewas dalam Pesta Pernikahan

Salah satu perkembangan paling serius dalam konflik terbaru adalah laporan mengenai korban sipil. Bulan Sabit Merah Iran melaporkan lima orang tewas dan 50 lainnya terluka dalam sebuah pesta pernikahan di dekat Sirik, wilayah pesisir di Selat Hormuz.

Kantor berita Mehr melaporkan seorang anak berusia empat tahun termasuk di antara korban tewas. Sementara itu, kantor berita IRNA, mengutip pejabat provinsi setempat, menyebut jumlah korban luka mencapai 68 orang.

Pejabat AS belum memberikan komentar mengenai insiden tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengecam insiden itu dan mengaitkannya dengan rangkaian korban sipil dalam konflik sebelumnya.

"Kekejaman ini tidak dapat dipisahkan dari rangkaian kekejaman yang telah terjadi sebelumnya," ungkapnya.

Pernyataan tersebut merujuk antara lain pada ledakan di sebuah sekolah di Minab yang menewaskan 160 orang di sebuah sekolah khusus perempuan pada hari pertama perang.

Pentagon hingga kini belum mengeluarkan kesimpulan resmi mengenai serangan di Minab. Namun, dua sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa serangan itu kemungkinan terjadi akibat penggunaan data penargetan yang sudah kedaluwarsa oleh AS.

Baca Juga: Militer AS Selesaikan Gelombang Serangan Terbaru ke Iran

Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa negaranya akan memberikan respons terhadap insiden tersebut. "Kejahatan-kejahatan biadab ini akan kami tanggapi dengan tegas," tambahnya.

Iran juga memperingatkan pemerintah dan lembaga internasional yang memilih diam terhadap dugaan kekerasan tersebut.

"Pemerintah dan lembaga internasional yang tetap diam menghadapi kebiadaban semacam ini, atau berusaha membenarkan tindakan tersebut, harus memahami bahwa diam mereka bukanlah sikap netral. Mereka yang tetap diam hari ini tidak akan kebal terhadap konsekuensinya di kemudian hari," lanjutnya.

Eskalasi terbaru antara AS dan Iran kembali meningkatkan risiko terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, terutama di sekitar Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia. Setiap gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut berpotensi memberikan tekanan baru terhadap pasokan dan harga minyak global.