AS-Iran Kembali Saling Serang, Bessent Isyaratkan Sanksi Baru Tiap Pekan



KONTAN.CO.ID - Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali terlibat aksi saling serang setelah pasukan AS menyerang dua peluncur roket Iran di Pulau Larak pada Minggu (30/8/2026).

Aksi tersebut menjadi serangan militer AS pertama terhadap Iran yang diketahui sejak akhir Juli.

Seorang pejabat AS mengatakan, pasukan Amerika menyerang dua peluncur milik Iran di Pulau Larak yang berada di Selat Hormuz.


Baca Juga: Google Maps Ubah Nama Lake Ontario Jadi Lake America untuk Pengguna AS

Pulau kecil tersebut terletak di dekat Bandar Abbas dan menghadap jalur pelayaran di mulut Teluk.

Posisi strategis ini menjadikan Larak memiliki peran penting dalam isu keamanan maritim serta pasokan energi global.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut tindakan tersebut sebagai operasi terbatas dan presisi terhadap pasukan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang diduga tengah mempersiapkan peletakan ranjau di Selat Hormuz dan dinilai menimbulkan ancaman segera.

“Pasukan Korps Garda Revolusi Islam Iran terpantau sedang mempersiapkan peluncuran roket dengan ranjau laut ke Selat Hormuz,” kata pejabat AS tersebut.

Iran kemudian merespons dengan melancarkan serangan rudal balistik terhadap dua pangkalan militer AS di Yordania, menurut laporan media Iran.

Televisi pemerintah Yordania melaporkan militer negara tersebut mencegat delapan rudal yang memasuki wilayah udaranya.

Garda Revolusi Iran mengatakan serangan AS telah menewaskan dan melukai sejumlah tentara serta warga sipil. Teheran juga menjanjikan respons dan hukuman terhadap AS.

Seorang reporter Fox News yang mengutip sumber AS mengatakan hampir seluruh rudal yang diluncurkan Iran telah berhasil dicegat dan sejauh ini tidak terdapat dampak signifikan.

Baca Juga: Bursa Australia Flat, Saham Tambang Emas Tertekan Pernyataan Hawkish The Fed

AS Siapkan Sanksi Tambahan

Eskalasi militer tersebut terjadi setelah pemerintahan Presiden Donald Trump dalam beberapa pekan terakhir meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran dan mitra bisnisnya melalui sanksi.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington kemungkinan akan mengumumkan sanksi sekunder baru setiap pekan sebagai bagian dari upaya meningkatkan tekanan terhadap Teheran.

Menurut Bessent, langkah awal akan difokuskan pada sektor perbankan.

“Kami memulainya dengan bank-bank, dan kami memberi tahu bank-bank bahwa tidak dapat dibenarkan memiliki uang Iran dan membantu rezim tersebut,” ujar Bessent dalam wawancara dengan Reuters.

AS pada Jumat telah menjatuhkan sanksi terhadap cabang Banque Misr dari Mesir di Uni Emirat Arab terkait dugaan hubungan keuangan dengan Iran.

Bessent mengatakan langkah berikutnya dapat berupa pemutusan akses suatu lembaga keuangan secara keseluruhan dari sistem keuangan berbasis dolar AS.

“Anda akan melihat lebih banyak tindakan seperti ini setiap pekan,” kata Bessent menjelang pertemuan para pemimpin keuangan negara-negara G20.

Baca Juga: Bursa Korea Selatan Anjlok 2,46% Senin (31/8), Saham Samsung Electronics Tertekan

Lalu Lintas Selat Hormuz Menurun

Eskalasi konflik kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Data pelayaran menunjukkan jumlah kapal komoditas yang terlihat melintas di Selat Hormuz turun menjadi sekitar lima kapal per hari selama akhir pekan.

Jumlah sebenarnya kemungkinan lebih tinggi karena sebagian kapal mematikan sistem identifikasi otomatis untuk menghindari risiko serangan.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia. Sebelum konflik Iran berlangsung selama enam bulan, jalur tersebut dilalui hampir seperlima pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global.

Presiden AS Donald Trump pekan lalu mengatakan seluruh ranjau telah diledakkan atau disingkirkan dari perairan internasional Selat Hormuz. Iran juga telah diperingatkan bahwa setiap kapal yang memasang ranjau baru akan dihancurkan.

Baca Juga: AS Serang Dua Peluncur Rudal Iran di Pulau Larak, Konflik Kembali Memanas

Namun, Garda Revolusi Iran membantah klaim bahwa Selat Hormuz telah terbuka. Angkatan Laut Garda Revolusi menyebut pernyataan tersebut sebagai kebohongan dan menegaskan bahwa jalur tersebut masih ditutup bagi kapal yang tidak mendapatkan izin dari Iran.

Kondisi tersebut membuat perkembangan konflik AS-Iran dan keamanan Selat Hormuz menjadi perhatian utama pasar energi global, terutama karena gangguan berkepanjangan terhadap jalur tersebut berpotensi mengganggu pasokan minyak dan LNG dunia.