KONTAN.CO.ID - DUBAI/WASHINGTON. Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling melancarkan serangan militer di tengah rapuhnya upaya perdamaian untuk mengakhiri perang yang sudah berlangsung selama tiga bulan terakhir. Ketegangan terbaru pecah setelah Presiden AS Donald Trump menolak laporan soal rancangan kesepakatan pengelolaan Selat Hormuz bersama Iran dan Oman. Iran pada Kamis (28/5/2026) menyerang pangkalan militer AS di Kuwait sebagai balasan atas serangan Washington terhadap fasilitas yang disebut sebagai pusat operasi drone Iran di dekat Selat Hormuz.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyebut pasukannya menembak jatuh lima drone serang Iran dan menghancurkan stasiun kendali drone di Bandar Abbas sebelum satu drone lain diluncurkan.
Baca Juga: Harga Minyak Alami Kenaikan Usai AS-Iran Saling Gertak Kuwait yang menjadi lokasi pangkalan besar militer AS juga mengaku berhasil mencegat rudal balistik yang ditembakkan ke wilayahnya. Pemerintah Kuwait mengecam keras serangan Iran dan menyebut aksi tersebut sebagai eskalasi berbahaya. Iran melalui Garda Revolusi menegaskan serangan ke pangkalan AS dilakukan sebagai respons atas serangan di dekat Bandara Bandar Abbas. Teheran memperingatkan akan memberi respons lebih keras jika serangan serupa kembali terjadi. Bentrok terbaru ini memperlihatkan rapuhnya proses negosiasi gencatan senjata yang mulai berlaku sejak awal April lalu. Konflik yang dipicu serangan AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari itu telah menewaskan ribuan orang dan mengganggu jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Ketegangan juga meluas ke Lebanon. Israel mengaku menyerang infrastruktur kelompok Hizbullah yang didukung Iran di wilayah Tyre dan Beirut. Militer Lebanon menyebut satu tentaranya tewas akibat serangan tersebut. Di sisi lain, Israel mengaktifkan sirene serangan udara di wilayah utara setelah ancaman serangan balasan.
Baca Juga: Perang AS-Iran: Mengapa Pembicaraan Damai Masih Menyisakan Banyak Perbedaan? Pasar global langsung merespons meningkatnya risiko geopolitik. Harga minyak mentah AS melonjak sekitar 3% setelah sehari sebelumnya anjlok 5%. Bursa saham melemah sementara dolar AS menguat karena investor mulai meragukan peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat. Trump kembali menegaskan bahwa tidak ada satu negara pun yang boleh menguasai Selat Hormuz. Ia membantah laporan televisi pemerintah Iran yang menyebut ada rancangan kesepakatan tidak resmi untuk memulihkan lalu lintas pelayaran di selat tersebut melalui pengelolaan bersama Iran dan Oman. "Tidak ada yang akan mengontrol Selat Hormuz. Itu perairan internasional," kata Trump. Trump juga menegaskan Washington belum membahas pelonggaran sanksi terhadap Iran, salah satu tuntutan utama Teheran dalam negosiasi. Bahkan, Departemen Keuangan AS justru memperluas sanksi dengan memasukkan otoritas pengelola Selat Persia milik Iran ke daftar hitam. Sementara itu, Iran menyatakan tetap menuntut pencairan dana milik mereka yang dibekukan AS, penghentian blokade pelabuhan, serta pencabutan sanksi ekonomi. Garda Revolusi Iran juga menegaskan mereka masih mengontrol pergerakan kapal di Selat Hormuz.
Baca Juga: Detail Proposal Damai AS-Iran Mulai Terungkap, Selat Hormuz Berpotensi Dibuka Lagi? Dalam 24 jam terakhir, Iran mengaku menghentikan dua kapal dan mengizinkan 26 kapal melintas. Pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menyebut negaranya justru keluar lebih kuat dari perang. Ia meminta parlemen menjaga persatuan nasional serta fokus memperbaiki kerusakan ekonomi, inflasi, dan korupsi. Di tengah negosiasi yang masih berlangsung, isu program nuklir Iran juga diperkirakan kembali menjadi pembahasan utama. Iran bersikeras program nuklirnya hanya untuk tujuan damai. Namun AS tetap menolak kemungkinan Iran memiliki senjata nuklir. “Mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” tegas Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.