KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Amerika Serikat dan Iran sepakat melakukan gencatan senjata selama dua pekan, hanya kurang dari dua jam sebelum batas waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump agar Teheran membuka kembali Selat Hormuz. Kesepakatan yang diumumkan Trump pada Selasa (7/4/2026) ini menjadi perubahan drastis, setelah sebelumnya ia mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital Iran jika jalur pelayaran tersebut tidak dibuka. Kesepakatan tercapai melalui mediasi yang dipimpin oleh Panglima Militer Pakistan Asim Munir dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif. Sharif bahkan mengundang delegasi AS dan Iran untuk melanjutkan pembicaraan di Islamabad pada Jumat mendatang.
Syarat Pembukaan Selat Hormuz
Trump menyatakan gencatan senjata ini bergantung pada kesediaan Iran untuk menghentikan blokade pasokan minyak dan gas melalui Selat Hormuz, jalur yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Baca Juga: Ancaman Konflik AS-Iran Mereda: Pasar Global Terhindar Gejolak Besar Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan Teheran siap menghentikan serangan balasan dan menjamin jalur pelayaran aman, dengan syarat serangan terhadap Iran juga dihentikan. Israel turut mendukung penghentian sementara serangan terhadap Iran selama dua pekan, menurut kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Namun, Israel menegaskan gencatan senjata ini tidak berlaku untuk wilayah Lebanon.
Klaim Kemenangan dan Skeptisisme
Trump menyebut kesepakatan ini sebagai “gencatan senjata dua arah” dan mengklaim AS telah melampaui seluruh target militernya. Ia juga menyatakan bahwa kesepakatan damai jangka panjang dengan Iran tengah dalam tahap lanjutan. Di sisi lain, Dewan Keamanan Nasional Iran menyebut kesepakatan ini sebagai kemenangan bagi Teheran, dengan klaim bahwa AS menerima syarat-syarat Iran. Meski demikian, sejumlah pihak meragukan keberlanjutan gencatan senjata ini. Sumber yang mengetahui proses negosiasi menyebut langkah ini lebih sebagai upaya membangun kepercayaan, dengan kekhawatiran Iran hanya mencoba mengulur waktu.
Konflik Masih Berlanjut di Wilayah Lain
Meski ada kesepakatan, serangan masih terjadi di beberapa wilayah. Media Lebanon melaporkan serangan Israel terus berlanjut di selatan negara tersebut, termasuk di sekitar kota Tyre. Militer Israel juga melaporkan adanya peluncuran rudal dari Iran setelah pengumuman gencatan senjata, yang sebagian berhasil dicegat di atas Tel Aviv. Kelompok perlawanan di Irak turut menyatakan akan menghentikan operasi selama dua pekan sebagai bagian dari meredakan ketegangan regional.
Dampak Global dan Respons Pasar
Kesepakatan ini langsung disambut positif oleh pasar global. Harga minyak turun, sementara pasar saham dan obligasi menguat, seiring harapan bahwa distribusi energi melalui Selat Hormuz dapat kembali normal.
Baca Juga: India Bersiap Terima Impor Minyak Iran Perdana dalam 7 Tahun Para pemimpin dunia juga menyambut baik langkah ini, mengingat konflik yang telah berlangsung selama enam pekan tersebut menewaskan lebih dari 5.000 orang di berbagai negara, termasuk lebih dari 1.600 warga sipil di Iran. Penutupan Selat Hormuz sebelumnya telah memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan risiko perlambatan ekonomi global.
Tekanan Politik terhadap Trump
Keputusan Trump menyetujui gencatan senjata dinilai sebagai indikasi meningkatnya tekanan domestik di AS. Konflik ini tidak populer di kalangan publik, terutama karena dampaknya terhadap kenaikan harga energi. Dengan pemilu paruh waktu yang semakin dekat, tingkat persetujuan terhadap Trump dilaporkan menurun, meningkatkan risiko bagi Partai Republik untuk kehilangan mayoritas di Kongres. Analis menilai Trump kini berupaya mencari jalan keluar dari konflik sambil tetap mengklaim kemenangan di mata publik. Dengan jendela dua pekan untuk negosiasi lanjutan, arah konflik dan stabilitas kawasan Timur Tengah akan sangat bergantung pada komitmen kedua pihak dalam menjalankan kesepakatan ini.