KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Amerika Serikat (AS) masih menjadi negara penyumbang surplus terbesar neraca perdagangan Indonesia. hal ini juga terjadi sepanjang periode Januari–Februari 2026. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengungkapkan, surplus neraca perdagangan Indonesia dengan AS secara total, baik migas maupun non-migas mencapai US$ 3,53 miliar sepanjang periode tersebut. Capaian tersebut menempatkan AS sebagai mitra dagang dengan kontribusi surplus terbesar bagi Indonesia. Kinerja ekspor dengan AS mencapai US$ 5 miliar, sedangkan impor dari AS mencapai US$ 1,47 miliar.
“Untuk neraca perdagangan total, ada tiga negara penyumbang surplus terbesar. Pertama yaitu Amerika Serikat sebesar US$ 3,53 miliar,” ujar Ateng dalam konferensi pers, Rabu (1/4/2026).
Baca Juga: Surplus Dagang Diprediksi Menyempit per Februari 2026 Karena Impor Melonjak Penyumbang surplus terbesar oleh AS utamanya adalah mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85), pakaian dan aksesorisnya (rajutan) (HS 61), dan alas kaki (HS 64). Selanjutnya, penyumbang surplus terbesar kedua adalah dengan India mencapai US$ 2,33 miliar, dengan ekspor mencapai US$ 3,11 miliar, dan impor US$ 0,78 miliar. Komoditas penyumbang terbesar adalah bahan bakar mineral (HS 27), lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15), serta mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85). Kemudian, dengan Filipina surplus dagang Indonesia mencapai US$ 1,50 miliar, dengan kinerja ekspor mencapai US$ 1,68 miliar, dan impor US$ 0,18 miliar. Komoditas penyumbang surplus terbesar dengan negara tersebut adalah kendaraan dan bagiannya (HS 87), bahan bakar mineral (HS 27), serta barang dari besi dan baja (HS 73).
Baca Juga: Surplus Dagang RI Diprediksi Naik Jadi US$ 1,50 Miliar, Terdongkrak Harga Komoditas Negara penyumbang defisit Ateng juga menyebutkan, China, Australia, dan Singapura menjadi tiga negara menyumbang defisit neraca dagang tertinggi Indonesia sepanjang Januari-Februari 2026. Ia membeberkan, defisit neraca dagang Indonesia dengan China mencapai US$ 5,23 miliar, dengan kinerja impor paling tinggi sebesar US$ 15,68 miliar, dan ekspor US$ 10,46 miliar. Komoditas penyumbang utamanya adalah mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84), mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85), serta kendaraan dan bagiannya (HS 87). Lalu, dengan Australia mencatatkan defisit US$ 1,58 miliar, dengan kinerja impor mencapai US$ 2,07 miliar, dan ekspornya mencapai US$ 490 juta. Komoditas penyumbang defisit utama adalah logam mulia dan perhiasan/permata (HS 71), Serealia (HS 10), dan bahan bakar mineral (HS 27). Terakhir, defisit neraca dagang dengan Singapura mencapai US$ 800 juta, dengan kinerja impor mencapai US$ 2 miliar, dan ekspor sebesar US$ 1,20 miliar.
Komoditas utama penyumbang defisitnya adalah mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84), logam mulia dan perhiasan/permata (HS 71), dan plastik serta barang dari plastik (HS 39). Sebagai informasi, BPS mencatat surplus neraca perdagangan barang Indonesia pada Februari 2026 mencapai US$ 1,27 miliar, atau naik dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar US$ 950 juta.
Baca Juga: Surplus Dagang Indonesia US$ 950 Juta, AS Jadi Penopang Tapi Defisit China Membengkak Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News