KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Amerika Serikat (AS) dan India menjadi negara penyumbang surplus neraca perdagangan non minyak dan gas (migas) terbesar bagi Indonesia sepanjang Januari-Agustus 2026. Di sisi lain, China menjadi negara dengan kontribusi defisit neraca perdagangan non migas terdalam bagi Indonesia. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, berdasarkan negara mitra dagang, AS memberikan surplus neraca perdagangan nonmigas terbesar bagi Indonesia selama periode Januari-Agustus 2026. Nilai ekspor nonmigas Indonesia ke AS mencapai US$ 22,41 miliar, sedangkan impornya sebesar US$ 7,19 miliar. Dengan demikian, Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan nonmigas dengan AS sebesar US$ 15,21 miliar.
Baca Juga: BPS: Surplus Neraca Perdagangan Naik Jadi US$ 3,55 Miliar Pada Agustus 2026 “Komoditas penyumbang surplus komoditas terbesar untuk negara AS didorong oleh komoditas mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85)," kata Ateng dalam konferensi pers, Kamis (1/10/2026). Surplus tersebut terutama ditopang oleh perdagangan mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85) sebesar US$ 2,83 miliar, pakaian dan aksesorinya (rajutan) (HS 61) sebesar US$ 1,99 miliar, serta alas kaki (HS 64) sebesar US$ 1,94 miliar. Setelah AS, India menjadi negara penyumbang surplus nonmigas terbesar kedua. Ekspor nonmigas Indonesia ke India tercatat sebesar US$ 12,77 miliar, sementara impor mencapai US$ 3,62 miliar. Alhasil, surplus perdagangan nonmigas Indonesia dengan India mencapai US$ 9,15 miliar. Komoditas yang menjadi penopang surplus dengan India antara lain bahan bakar mineral (HS 27) sebesar US$ 4,07 miliar, lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) sebesar US$ 2,32 miliar, serta mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85) sebesar US$ 1,06 miliar. Sementara itu, Filipina menempati posisi ketiga sebagai negara penyumbang surplus nonmigas terbesar. Indonesia membukukan ekspor nonmigas sebesar US$ 7,05 miliar ke Filipina dan impor sebesar US$ 1,57 miliar, sehingga surplus perdagangan mencapai US$ 5,48 miliar.
Baca Juga: Kinerja Impor Indonesia Naik Menjadi US$ 23,06 Miliar di Agustus 2026 Surplus perdagangan dengan Filipina terutama berasal dari kendaraan dan bagiannya (HS 87) sebesar US$ 1,87 miliar, bahan bakar mineral (HS 27) sebesar US$ 1,69 miliar, serta lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) sebesar US$ 800 juta.
China Jadi Sumber Defisit Terbesar
Di sisi lain, China menjadi negara yang memberikan defisit neraca perdagangan nonmigas terdalam bagi Indonesia sepanjang Januari-Agustus 2026. BPS mencatat, ekspor nonmigas Indonesia ke China mencapai US$ 47,44 miliar, sedangkan impor dari China jauh lebih besar, yakni US$ 66,64 miliar. Kondisi tersebut menghasilkan defisit neraca perdagangan nonmigas sebesar US$ 19,20 miliar. Defisit dengan China terutama berasal dari perdagangan mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85) sebesar US$ 14,33 miliar dan mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84) sebesar US$ 14,12 miliar. Selain itu, terdapat defisit pada plastik dan barang dari plastik (HS 39) sebesar US$ 3,82 miliar. Selain China, Australia juga menjadi salah satu negara penyumbang defisit terbesar. Ekspor nonmigas Indonesia ke Australia tercatat US$ 2,33 miliar, sedangkan impor mencapai US$ 7,31 miliar. Alhasil, defisit perdagangan nonmigas dengan Australia mencapai US$ 4,98 miliar.
Baca Juga: BPS: Kinerja Ekspor Agustus 2026 Meningkat Jadi US$ 26,61 Miliar Defisit tersebut terutama berasal dari logam mulia dan perhiasan/permata (HS 71) sebesar US$ 1,48 miliar, serealia (HS 10) sebesar US$ 850 juta, serta bahan bakar mineral (HS 27) sebesar US$ 810 juta. Sementara itu, Prancis menjadi negara penyumbang defisit nonmigas terbesar ketiga. Indonesia mencatat ekspor nonmigas ke Prancis sebesar US$ 570 juta dan impor US$ 2,43 miliar, sehingga mengalami defisit sebesar US$ 1,86 miliar. Defisit dengan Prancis terutama berasal dari kendaraan udara dan bagiannya (HS 88) sebesar US$ 1,30 miliar, instrumen optik, fotografi, sinematografi, dan medis (HS 90) sebesar US$ 150 juta, serta mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84) sebesar US$ 120 juta. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News