KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan memberlakukan kembali blokade laut terhadap seluruh pelabuhan Iran serta mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan fasilitas energi jika Teheran tidak kembali ke meja perundingan. Langkah tersebut diumumkan pada Selasa (14/7//2026) di tengah memanasnya kembali konflik antara Amerika Serikat dan Iran, yang mengancam stabilitas kawasan Teluk serta jalur perdagangan energi global.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Rabu (15/7) Pagi, Brent ke US$ 86,19 & WTI ke US$ 80,40 Pemerintah AS juga memulai gelombang baru serangan militer yang diklaim bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam melancarkan serangan terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz. Sementara itu, Iran menyatakan kembali menutup Selat Hormuz setelah pertempuran dengan Amerika Serikat kembali pecah pekan lalu. Kondisi ini memperburuk gencatan senjata yang telah rapuh sejak disepakati pada Juni lalu setelah berbulan-bulan konflik yang menewaskan ribuan orang. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menegaskan ancaman terhadap infrastruktur strategis Iran jika negosiasi tidak segera dilanjutkan. "Saya akan menyimpan target fasilitas energi untuk tahap terakhir, tetapi pada akhirnya kami akan menyerang fasilitas energi. Pekan depan pembangkit listrik, pekan depan jembatan, kecuali mereka mau duduk di meja perundingan," ujar Trump.
Baca Juga: Penjualan Bijih Besi Rio Tinto Melonjak, Harga Diesel Jadi Beban Trump juga mengatakan para negosiator AS telah menghubungi pihak Iran dan memperingatkan agar Teheran segera mencapai kesepakatan. Di sisi lain, militer Iran pada Rabu (15/7) dini hari mengumumkan telah meluncurkan serangan pesawat nirawak ke pangkalan militer Amerika Serikat di Azraq, Yordania. Hingga kini Pentagon belum memberikan tanggapan resmi. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga mengklaim telah menyerang gudang senjata dan fasilitas penyimpanan militer di Bahrain dan Kuwait. Militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya tengah menghadapi serangan drone Iran, sementara kantor berita pemerintah melaporkan kebakaran yang sempat terjadi telah berhasil dipadamkan.
Baca Juga: AI Bisa Jadi Berkah atau Bencana bagi Ketimpangan Ekonomi? Ini Kata Gubernur The Fed Reuters belum dapat memverifikasi secara independen laporan-laporan tersebut. Ketegangan terbaru memunculkan keraguan bahwa nota kesepahaman yang ditandatangani bulan lalu dapat benar-benar mengakhiri perang yang telah meluas ke negara-negara tetangga Iran dan mengganggu pasokan energi dunia. Media pemerintah Iran melaporkan proyektil Amerika Serikat menghantam wilayah di sekitar Bandar Abbas dan kawasan dekat Sirik di Iran selatan. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan tekanan militer maupun ekonomi tidak akan memaksa Iran kembali berunding. "Jika Amerika Serikat berpikir bahwa dengan meningkatkan tekanan militer dan blokade ekonomi kami akan kembali bernegosiasi, maka mereka keliru," katanya kepada televisi pemerintah Iran. Sebelum perang pecah pada Februari, sekitar 20% pengiriman minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz setiap hari. Serangan terhadap kapal dagang meningkat Amerika Serikat menuduh Iran telah menyerang tujuh kapal dagang dalam sepekan terakhir sehingga menyebabkan hampir belasan awak kapal tewas, hilang, atau terluka. Uni Emirat Arab sebelumnya menyatakan seorang awak kapal asal India tewas dan delapan lainnya terluka setelah dua kapal tanker minyak milik UEA dihantam rudal jelajah Iran di Selat Hormuz. IRGC mengklaim telah melumpuhkan dua kapal tanker raksasa yang disebut mengabaikan peringatan berulang kali saat melintas di selat tersebut. Namun, Iran tidak mengungkap identitas kapal-kapal tersebut. Trump sebelumnya sempat mengusulkan tarif transit sebesar 20% bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Namun, pada Selasa ia membatalkan rencana tersebut dan menyatakan akan lebih memilih mendorong kesepakatan investasi dengan negara-negara Teluk, tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Blokade laut terhadap kapal yang menuju maupun keluar dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran kembali diberlakukan mulai pukul 20.00 GMT, setelah sebelumnya dicabut pada Juni. Trump menegaskan Selat Hormuz tetap terbuka bagi seluruh kapal, kecuali kapal yang terkait dengan Iran. Militer AS menyebutkan saat ini lebih dari 20 kapal perang Angkatan Laut Amerika Serikat serta ratusan pesawat militer beroperasi di kawasan tersebut. Harga minyak melonjak Konflik yang berkepanjangan mulai menimbulkan dampak politik di AS, seiring kenaikan harga bensin menjelang pemilu kongres pada November mendatang. Harga minyak mentah Brent telah melonjak sekitar 15% dalam tujuh hari terakhir menjadi sekitar US$ 85 per barel, level tertinggi sejak pertengahan Juni. Perang yang dimulai pada Februari melalui serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon, serta meluas ke sejumlah negara Teluk setelah Iran melakukan serangan balasan.
Dana Moneter Internasional (IMF) bulan lalu memperingatkan bahwa jika konflik berlanjut melewati pertengahan Juli, risiko terhadap ekonomi global akan meningkat karena banyak negara telah menguras cadangan minyak strategis untuk meredam dampak lonjakan harga energi. Dalam jajak pendapat Reuters, sekitar separuh responden menilai perang tersebut tidak sebanding dengan biaya yang harus ditanggung. Sebelumnya pada Selasa, Iran juga mengaku telah meluncurkan rudal balistik ke pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania, sementara Bahrain yang menjadi lokasi pangkalan Angkatan Laut AS melaporkan berhasil menggagalkan serangan udara Iran. Washington terus menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, tuduhan yang berulang kali dibantah Teheran. Sebaliknya, Iran menuntut pencabutan sanksi internasional serta pengakuan atas kendalinya terhadap Selat Hormuz.