AS kembali menjadi raja ekonomi dunia



WASHINGTON. Setelah fenomena kebangkitan ekonomi China dan negara-negara berkembang selama 15 tahun terakhir, Amerika Serikat (AS) kembali menjadi pengemudi ekonomi global. Tanda-tanda terbaru kebangkitan AS adalah angka pengangguran turun 5,6% pada Desember 2014, yang merupakan angka terendah sejak Juni 2008.

Data Departemen Tenaga Kerja AS yang dikutip dari Bloomberg melaporkan kenaikan jumlah pekerjaan paling tinggi di sektor konstruksi dalam setahun terakhir. Lebih dari 3 juta warga AS mendapatkan pekerjaan di tahun 2014 atau paling tinggi dalam 15 tahun terakhir.

Selain itu, pabrik-pabrik manufaktur, penyedia layanan kesehatan dan sektor jasa menambah gaji karyawan. Artinya, meskipun pasar luar negeri sedang lesu, permintaan dalam negeri AS mampu menyokong pertumbuhan ekonominya.


"Kami masih menunggu penguatan di sektor upah yang diharapkan konsisten dengan pertumbuhan jumlah pekerjaan," ujar Dennis Lockhart, Presiden The Federal Reserve Bank of Atlanta.

Rumahtangga AS mendapatkan keuntungan dari pemulihan pasar tenaga kerja dan anjloknya harga minyak mentah. Pada 8 Januari lalu, harga rata-rata satu galon bensin hanya US$ 2,75, termurah sejak Mei 2009.

"Ini hanya masalah waktu sebelum pertumbuhan upah mengambil momentum," ujar Mohammed El-Erian, kolumnis Bloomberg View dan penasihat Allianz SE yang berbasis di Munich, Jerman.

Kenaikan belanja rumahtangga ditopang oleh sektor otomotif, peralatan rumahtangga, televisi dan pakaian. Penjualan kendaraan kecil mencapai 16,5 juta unit tahun lalu dan terbesar sejak 2006. Para analis memperkirakan penjualan otomotif pada tahun 2015 tumbuh hingga 17 juta unit. Sementara pertumbuhan belanja rumahtangga di bulan November 2014 naik dua kali lipat dibandingkan bulan sebelumnya jadi 0,6%.

Pertumbuhan PDB

David Folkerts Landau, Kepala Ekonom Deutsche Bank di London, memperkirakan produk domestik bruto (PDB) AS pada tahun ini akan tumbuh sebesar 3,7%. Pada tahun lalu, pertumbuhan PDB AS hanya 2,5%.

Alhasil, tahun ini, AS akan memberikan kontribusi hampir 18% terhadap pertumbuhan global yang sebesar 3,6%. Angka ini lebih tinggi ketimbang sumbangan gabungan dari negara-negara industri lainnya yang mencapai 7%.

Ketika AS mulai mengumpulkan kekuatan, negara-negara BRIC, yakni Brasil, Rusia, India dan China, masih menghadapi masa sulit setelah sempat menjadi perhatian investor global selama 15 tahun. Peringkat utang Brasil diturunkan untuk pertama kalinya dalam satu dekade. Sedangkan Rusia tengah berjalan menuju resesi karena sanksi dari dunia barat. Adapun, pertumbuhan India dan China akan sedikit melambat.

Jim O'Neill, mantan Kepala Ekonom Goldman Sachs Group Inc yang menciptakan akronim BRIC, berniat menghapus Brasil dan Rusia jika kedua negara tersebut gagal menghidupkan kembali perekonomiannya.