AS Kembali Serang Iran, Trump Bantah Ada Kesepakatan Selat Hormuz



KONTAN.CO.ID - Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan terhadap Iran setelah Presiden AS Donald Trump membantah laporan mengenai adanya kesepakatan pemulihan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Seorang pejabat AS mengatakan militer Amerika menyerang operasi drone Iran yang dinilai mengancam pasukan AS dan jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Baca Juga: Won Korea dan Peso Filipina Pimpin Pelemahan Mata Uang Asia Kamis (28/5)


Pejabat yang enggan disebut namanya itu mengatakan militer AS menembak jatuh empat drone serang Iran serta menghancurkan pusat kendali drone di kota pelabuhan Bandar Abbas yang disebut tengah bersiap meluncurkan drone kelima.

“Langkah ini bersifat terukur, murni defensif, dan dimaksudkan untuk menjaga gencatan senjata,” ujar pejabat tersebut.

Gencatan senjata antara AS dan Iran sendiri mulai berlaku sejak awal April lalu.

Namun, media Iran Tasnim mengutip sumber militer yang menyebut Angkatan Laut Garda Revolusi Iran sempat menembakkan peringatan ke arah kapal tanker minyak AS yang mencoba melintasi Selat Hormuz hingga kapal tersebut berbalik arah.

Baca Juga: China Luncurkan Obligasi Hijau US$ 885 Juta untuk Biayai Proyek Ramah Lingkungan

Sumber itu juga mengatakan militer AS kemudian menyerang area terbuka di sekitar Bandar Abbas tanpa menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan.

Media Iran kemudian melaporkan empat kapal lain juga mencoba melintas pada Kamis dini hari, tetapi dipaksa mundur setelah ditembak peringatan.

Sebelumnya pada Senin, militer AS juga melakukan serangan di wilayah selatan Iran yang disebut sebagai tindakan defensif. Namun Iran menilai aksi tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan gencatan senjata.

Harga minyak dunia yang sempat anjlok lebih dari 5% pada Rabu kembali menguat setelah Reuters melaporkan serangan terbaru AS tersebut.

Kontrak minyak mentah AS naik hampir 2% menjadi US$ 90,38 per barel pada perdagangan Asia.

Baca Juga: AS Jatuhkan Sanksi ke Otoritas Selat Hormuz, Ketegangan dengan Iran Memanas

Dalam rapat kabinet yang terbuka untuk media, Trump juga membantah laporan televisi pemerintah Iran yang menyebut telah ada rancangan kesepakatan pemulihan pelayaran komersial di Selat Hormuz dalam waktu satu bulan dengan Iran dan Oman sebagai pengelola bersama.

Trump menegaskan tidak ada satu negara pun yang boleh menguasai Selat Hormuz.

“Tidak ada yang akan mengendalikan selat itu. Itu adalah perairan internasional,” ujar Trump.

Ia bahkan melontarkan ancaman terhadap Oman dengan mengatakan negara tersebut harus mengikuti aturan internasional.

Gedung Putih maupun Kedutaan Oman di Washington belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan Trump tersebut.

Baca Juga: Bursa Jepang Kehilangan Arah Kamis (28/5), Konflik Iran Bebani Sentimen

Di sisi lain, Departemen Keuangan AS menambahkan Persian Gulf Strait Authority, badan Iran yang dibentuk untuk mengatur lalu lintas di Selat Hormuz, ke dalam daftar sanksi nasional AS.

Laporan televisi Iran sebelumnya menyebut rancangan kesepakatan juga mencakup pencabutan blokade pelabuhan Iran oleh AS dan penarikan pasukan militer AS dari sekitar wilayah Iran. Namun Gedung Putih menyebut laporan itu sebagai “rekayasa total”.

Ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, mengatakan ancaman Trump tidak akan membuat Iran mundur dari tuntutannya terkait pengayaan uranium, kontrol atas Selat Hormuz, dan pencabutan sanksi.

“Jelas Trump sedang mencari jalan keluar dari kebuntuan strategis ini dengan bergantian mengeluarkan ancaman dan ajakan negosiasi,” ujar Azizi melalui media sosial X.

Baca Juga: Bursa Australia Terkoreksi Setelah Reli Lima Hari Kamis (28/5), Saham Bank Tertekan

Konflik yang telah berlangsung selama tiga bulan sejak dimulai pada 28 Februari itu telah menewaskan ribuan orang dan mendorong lonjakan harga energi global.

Sebelum konflik pecah, Selat Hormuz menjadi jalur distribusi sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia dengan lalu lintas harian mencapai 125 hingga 140 kapal.

Namun Garda Revolusi Iran menyebut hanya 23 kapal yang melintas dengan izin Iran dalam 24 jam terakhir.