AS Kerahkan AI Anthropic, Bomber B-2 hingga Drone Bunuh Diri dalam Serangan ke Iran



KONTAN.CO.ID - Amerika Serikat (AS) mengerahkan berbagai sistem persenjataan canggih dalam serangan terhadap target-target di Iran pada Sabtu (28/2/2026), termasuk rudal jelajah Tomahawk, jet tempur siluman, hingga drone serang sekali pakai berbiaya rendah yang untuk pertama kalinya digunakan dalam pertempuran.

Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) merilis foto-foto yang memperlihatkan penggunaan rudal Tomahawk, jet tempur F-18 dan F-35, sebagai bagian dari operasi yang diberi nama Operation Epic Fury.

Baca Juga: Harga Minyak Meroket 9%, Selat Hormuz Jadi Perhatian Utama Pasar


Berikut rincian sistem yang digunakan dirangkum oleh Reuters Senin (2/3/2026):

Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence)

Pentagon dilaporkan menggunakan layanan kecerdasan buatan dari Anthropic, termasuk perangkat AI Claude, dalam operasi militer tersebut, menurut sumber yang mengetahui hal itu.

Menariknya, operasi ini berlangsung sehari setelah pemerintah AS menyatakan Anthropic sebagai risiko rantai pasok, yang mengindikasikan potensi ancaman terhadap keamanan nasional.

Presiden Donald Trump pada Jumat juga mengarahkan agar pemerintah menghentikan kerja sama dengan perusahaan rintisan tersebut.

Belum diketahui secara pasti bagaimana AI tersebut digunakan dalam operasi militer. Pentagon dan Anthropic belum memberikan komentar resmi.

AI buatan Anthropic sebelumnya telah digunakan di berbagai lembaga intelijen dan angkatan bersenjata AS, serta menjadi salah satu perusahaan AI pertama yang bekerja dengan data rahasia melalui kesepakatan penyediaan layanan berbasis cloud dengan Amazon.

Baca Juga: Krisis Iran: 3 Ujian Berat Ini Tentukan Nasib Rezim Pasca-Khamenei

Bomber B-2

Pentagon juga mengerahkan pesawat pembom siluman Northrop Grumman B-2 Spirit untuk menyerang fasilitas rudal bawah tanah Iran menggunakan bom seberat 2.000 pon.

Pesawat B-2, yang diproduksi oleh Northrop Grumman, memiliki bentang sayap 52,4 meter dan mampu terbang sejauh 6.000 mil laut tanpa pengisian bahan bakar.

Namun, dalam praktiknya sebagian besar misi membutuhkan beberapa kali pengisian bahan bakar di udara.

B-2 sebelumnya juga memainkan peran penting dalam serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu.

Baca Juga: Israel Kembali Menyerang Teheran, Dewan Kepempimpinan Ambil Alih Kekuasaan

Drone Bunuh Diri dan MQ-9 Reaper

Militer AS menyatakan menggunakan drone serang sekali pakai (kamikaze) yang secara visual identik dengan sistem LUCAS (Low-Cost Unmanned Combat Attack System) yang diproduksi perusahaan Spektreworks berbasis di Arizona.

Untuk pertama kalinya, CENTCOM menggunakan drone satu arah yang dimodelkan berdasarkan drone Shahed milik Iran.

Drone jenis ini relatif murah dan dirancang untuk diproduksi massal oleh berbagai manufaktur. Harga LUCAS diperkirakan sekitar US$35.000 per unit.

Selain drone murah, AS juga mengerahkan drone yang lebih mahal seperti MQ-9 Reaper, serta sistem penangkal drone.

Penggunaan drone murah dalam jumlah besar mencerminkan strategi baru yang dikenal sebagai “affordable mass”, yakni menyiapkan banyak persenjataan berbiaya rendah namun efektif, tren yang berkembang sejak invasi Rusia ke Ukraina.

Baca Juga: Aneh Tapi Nyata: Dunia Terbelah Atas Kematian Pemimpin Iran

Rudal Tomahawk

AS juga meluncurkan Tomahawk, rudal jelajah jarak jauh yang biasanya ditembakkan dari kapal perang untuk menyerang target strategis jauh di dalam wilayah musuh.

Rudal presisi ini mampu menghantam sasaran hingga jarak 1.600 km bahkan di wilayah dengan pertahanan udara ketat.

Tomahawk memiliki panjang sekitar 6,1 meter, bentang sayap 2,6 meter, dan berat sekitar 1.510 kg.

Rudal ini diproduksi oleh unit Raytheon dari RTX. Harga rata-rata satu unit mencapai US$1,3 juta. Pentagon berencana membeli 57 unit pada 2026 dan tengah meningkatkan kapasitas produksi hingga 1.000 unit per tahun.

Tomahawk sebelumnya telah digunakan dalam operasi militer, termasuk serangan AS dan Inggris terhadap target Houthi di Yaman.

Baca Juga: Trump Isyaratkan Konflik Dengan Iran Bisa Berlangsung Selama Empat Minggu

Jet Tempur F-18 dan F-35

CENTCOM juga merilis foto dan video penggunaan jet tempur F/A-18 Hornet dan F-35 Lightning II dalam serangan ke Iran.

F-35 merupakan jet tempur generasi kelima dengan kemampuan siluman yang dapat menghindari deteksi radar dan membawa amunisi presisi. Pesawat ini juga dioperasikan oleh Angkatan Udara Israel.

Sementara F-18, yang diproduksi oleh Boeing, merupakan jet multi-peran yang mampu menjalankan misi udara-ke-udara maupun udara-ke-darat.

F-35 dapat membawa berbagai jenis rudal, termasuk yang dirancang untuk menghancurkan instalasi radar musuh guna melumpuhkan sistem pertahanan udara lawan.

Penggunaan kombinasi AI, pembom siluman, drone murah massal, hingga rudal jarak jauh menunjukkan pendekatan militer AS yang menggabungkan teknologi tinggi dengan strategi efisiensi biaya dalam konflik terbaru di Timur Tengah.