KONTAN.CO.ID - Militer Amerika Serikat menyatakan tidak ada kapal yang berhasil melewati blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan dan wilayah pesisir Iran. Dalam 24 jam pertama, enam kapal dagang dilaporkan telah mematuhi perintah pasukan AS untuk berbalik arah. Pernyataan tersebut disampaikan pada Selasa, sekaligus menjadi rincian pertama mengenai operasi blokade yang dimulai sehari sebelumnya. Langkah ini diperintahkan Presiden AS Donald Trump setelah perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan. Blokade AS Berlaku untuk Semua Pelabuhan Iran
Reuters melaporkan, militer AS menjelaskan bahwa blokade, yang dimulai pada Senin, hanya berlaku bagi kapal-kapal yang menuju atau berasal dari Iran. Kebijakan itu mencakup seluruh pelabuhan Iran di kawasan Teluk Persia dan Teluk Oman. “Dalam 24 jam pertama, tidak ada kapal yang berhasil melewati blokade AS dan enam kapal dagang mematuhi arahan dari pasukan AS untuk berbalik arah kembali memasuki pelabuhan Iran di Teluk Oman,” kata Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) dalam pernyataan resminya. CENTCOM juga menyebutkan bahwa operasi ini melibatkan pengerahan kekuatan besar, termasuk lebih dari 10.000 personel militer AS, lebih dari selusin kapal perang, serta puluhan pesawat tempur.
Baca Juga: PM Kanada Mark Carney Hapus Pajak BBM Hingga September 2026, Guyur BLT AS Tegaskan Blokade Berlaku untuk Semua Negara CENTCOM menekankan bahwa blokade ini diberlakukan secara “tidak memihak”, artinya berlaku terhadap kapal-kapal dari seluruh negara selama memasuki atau meninggalkan pelabuhan serta wilayah pesisir Iran. “Blokade ditegakkan secara tidak memihak terhadap kapal dari semua negara yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan dan wilayah pesisir Iran,” tambah pernyataan tersebut. Dalam catatan yang disampaikan kepada para pelaut pada Senin (14/4/2026), militer AS juga memperingatkan bahwa setiap kapal yang memasuki atau meninggalkan wilayah blokade tanpa izin dapat dicegat, dialihkan, hingga ditangkap. “Setiap kapal yang memasuki atau meninggalkan wilayah yang diblokade tanpa izin dapat dicegat, dialihkan, dan ditangkap,” demikian isi catatan tersebut. Bantuan Kemanusiaan Masih Diizinkan Masuk Iran Meski blokade mencakup seluruh garis pantai Iran, militer AS menyatakan pengiriman kemanusiaan tetap diperbolehkan. Barang-barang seperti makanan, pasokan medis, serta kebutuhan penting lainnya dapat masuk, namun harus melalui pemeriksaan.
Baca Juga: Dolar AS Tertekan, Harga Emas Spot Rebound, Selasa (14/4) Langkah ini memperlihatkan bahwa blokade tidak sepenuhnya menutup jalur suplai, meskipun tetap meningkatkan tekanan ekonomi dan logistik terhadap Teheran. Trump Umumkan Blokade Setelah Perundingan Damai Gagal Presiden AS Donald Trump mengumumkan blokade tersebut setelah pembicaraan akhir pekan untuk mengakhiri perang AS-Israel melawan Iran gagal menghasilkan kesepakatan. Konflik tersebut disebut telah berlangsung selama enam minggu, memicu ketidakstabilan kawasan dan meningkatkan risiko gangguan perdagangan energi global. Harga minyak sempat melonjak kembali melampaui US$ 100 per barel sebelum turun pada Selasa, seiring harapan adanya perundingan lanjutan. Pakar Nilai Blokade Ini Operasi Militer Besar dan Berisiko Sejumlah pakar yang dikutip Reuters menyebut blokade ini sebagai operasi militer besar tanpa batas waktu yang jelas. Mereka menilai kebijakan tersebut berpotensi memicu aksi balasan baru dari Iran dan menambah tekanan terhadap gencatan senjata yang sudah rapuh. Sementara itu, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) pada Senin menyatakan telah menerima informasi mengenai pembatasan maritim. Namun UKMTO juga menyebut kapal-kapal netral yang berada di pelabuhan Iran masih diberi masa tenggang untuk keluar. Selat Hormuz Jadi Titik Kritis Baru Blokade ini menambah ketidakpastian terhadap pergerakan kapal di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang digunakan untuk mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Ancaman Iran terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut juga disebut telah mendorong harga minyak global naik sekitar 50% sejak AS dan Israel melancarkan perang pada 28 Februari. Penjaga Pantai AS Tidak Terlibat untuk Saat Ini Seorang pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa operasi blokade di Selat Hormuz tidak akan ditangani oleh Penjaga Pantai AS (U.S. Coast Guard), setidaknya untuk sementara waktu. Alasannya, menurut pejabat tersebut, adalah karena enam kapal Penjaga Pantai AS yang sebelumnya ditempatkan di Timur Tengah telah dikirim ke Asia pada awal perang.
Tonton: Dokumen Rahasia Bocor! AS Ingin Akses Udara Militer di Indonesia? Iran Melemah, Tapi Dinilai Makin Sulit Dihadapi Walaupun ribuan serangan militer AS disebut telah melemahkan kekuatan Iran secara signifikan, para analis menilai Teheran tetap muncul sebagai tantangan besar bagi Washington. Iran disebut memiliki kepemimpinan yang semakin keras serta cadangan uranium yang diperkaya tinggi yang disembunyikan, sehingga meningkatkan kekhawatiran negara-negara Barat terhadap stabilitas kawasan. Situasi ini membuat blokade laut AS terhadap Iran bukan hanya berpotensi memperpanjang konflik, tetapi juga memperbesar risiko gangguan rantai pasok energi dunia, khususnya jika eskalasi meluas di Selat Hormuz.