KONTAN.CO.ID - Militer Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan terhadap Iran untuk malam ketiga berturut-turut pada Senin (13/7/2026), di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz. Presiden Donald Trump mengumumkan pemberlakuan kembali blokade terhadap pelayaran Iran dan mengusulkan pungutan sebesar 20% bagi kapal yang melintasi jalur strategis tersebut.
Baca Juga: Emas Sentuh Level Terendah Dua Pekan, Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan serangan dilakukan atas perintah langsung Presiden Trump. Sebelumnya, dalam wawancara dengan program Hugh Hewitt Show, Trump mengatakan Iran akan menghadapi serangan yang lebih besar. "Mereka akan dihantam sangat keras malam ini, dan kami akan menghantam mereka lagi besok. Tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk menghentikannya," ujar Trump. Trump kemudian mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih bahwa operasi militer AS ditujukan untuk melumpuhkan kemampuan Iran di sekitar Selat Hormuz. Dua Tanker UEA Diserang Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan, dua kapal tanker minyak milik negaranya, Mombasa dan Al Bahiyah, terkena rudal jelajah Iran saat melintas di jalur selatan Selat Hormuz yang berada di perairan Oman. Serangan tersebut menyebabkan satu awak kapal terluka dan delapan lainnya mengalami cedera.
Baca Juga: Harga Emas Lanjut Melemah ke Bawah US$ 4.000 di Pagi Ini (14/7): Ini Pemicu Utamanya! Sementara itu, badan keamanan maritim Inggris, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), melaporkan sebuah kapal tanker dihantam proyektil tak dikenal sekitar 40 mil laut di timur laut Qalhat, Oman. Seluruh awak kapal dilaporkan selamat. Reuters belum dapat memastikan apakah insiden yang dilaporkan UKMTO merupakan kejadian yang sama dengan laporan Kementerian Pertahanan UEA. Hingga kini, Iran belum memberikan komentar resmi mengenai serangan terhadap kapal-kapal tersebut. Namun, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang dan melumpuhkan dua supertanker yang disebut melanggar aturan setelah mengabaikan peringatan dan mematikan sistem navigasi mereka. IRGC tidak menyebutkan nama kapal yang diserang, tetapi menuduh Amerika Serikat mendorong kapal-kapal menggunakan jalur yang dianggap ilegal. Iran juga memperingatkan bahwa kerja sama dengan "musuh agresor" akan mengakibatkan kerusakan, memperlambat pembukaan kembali Selat Hormuz, serta memicu krisis energi global.
Baca Juga: Bitcoin Turun 33%, Ini 4 Indikator yang Menunjukkan Pasar Kripto Masih Lesu Bahrain Cegat Serangan Udara Iran Penasihat media Raja Bahrain, Nabeel Alhamer, mengatakan sistem pertahanan udara negaranya berhasil mencegat dan menghancurkan serangan udara Iran yang mengarah ke wilayah Bahrain. Sebelumnya, Trump melalui platform Truth Social menegaskan Selat Hormuz akan tetap terbuka dengan atau tanpa persetujuan Iran. "Selat Hormuz terbuka dan akan tetap terbuka, dengan atau tanpa Iran. Kami memberlakukan kembali blokade terhadap Iran," tulis Trump. Trump juga menyatakan Amerika Serikat akan menjadi "Penjaga Selat Hormuz" dan sebagai kompensasinya akan mengenakan biaya sebesar 20% atas seluruh kargo yang dikirim melalui jalur tersebut. Menanggapi pernyataan itu, Panglima Gabungan Militer Iran menegaskan AS tidak memiliki hak menentukan masa depan Selat Hormuz maupun ikut campur di wilayah tersebut. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi juga menulis di platform X bahwa Iran adalah penjaga Selat Hormuz dan akan tetap demikian "selamanya". Menyindir usulan Trump, Araqchi menulis, "20% tentu terlalu besar. Kami akan bersikap adil."
Baca Juga: Kondisi Bisnis Australia Stabil pada Juni 2026, Kepercayaan Pelaku Usaha Membaik Serangan Berlanjut di Sejumlah Wilayah Iran Tak lama setelah AS mengumumkan serangan terbaru, media Iran melaporkan ledakan terjadi di kota pelabuhan Bandar Abbas, Pulau Kish, Qeshm, dan Abu Musa di kawasan Teluk. Kantor berita Fars juga melaporkan warga di Kota Jam, Provinsi Bushehr, mendengar beberapa ledakan meski lokasi pastinya belum diketahui. Tidak ada laporan korban jiwa. Pada Selasa dini hari, kantor berita resmi IRNA melaporkan proyektil AS menghantam Provinsi Khuzestan di barat daya Iran, melukai sedikitnya empat orang. Media semi-resmi Mehr juga melaporkan ledakan keras terdengar di Kota Bushehr. Televisi pemerintah Iran menyebut militer negara itu menembakkan rudal jelajah ke sebuah kapal AS yang disebut sebagai "kapal musuh" serta meluncurkan serangan drone ke fasilitas dan peralatan militer AS di Kuwait. Media Iran juga melaporkan Garda Revolusi berhasil menembak jatuh drone MQ-1 milik AS di atas Selat Hormuz. Pada saat yang sama, sirene peringatan berbunyi di Bahrain yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Baca Juga: Bursa Asia Fluktuatif Selasa (14/7) Pagi, Ancaman Tarif Hormuz Trump Guncang Pasar PBB Tolak Usulan Pungutan Selat Hormuz Badan Pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menolak usulan Trump untuk mengenakan biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Menurut badan tersebut, tidak ada dasar hukum internasional yang mengizinkan penerapan tarif wajib bagi kapal yang melintasi selat internasional. Meski Trump sebelumnya pernah mengusulkan ide serupa, hingga kini belum ada kepastian apakah kebijakan tersebut benar-benar akan diterapkan. Sementara itu, Joint Maritime Information Center yang dipimpin Angkatan Laut AS menyatakan blokade akan mulai berlaku pada pukul 20.00 GMT Selasa dan mencakup seluruh lalu lintas kapal menuju garis pantai Iran, termasuk pelabuhan dan terminal minyak. Namun, kapal yang hanya melintas menuju negara selain Iran tetap diizinkan melakukan pelayaran damai. Pengiriman bantuan kemanusiaan juga akan diperbolehkan setelah melalui proses pemeriksaan. Sebagai dampak situasi keamanan, Kedutaan Besar AS di Abu Dhabi dan Konsulat Jenderal AS di Dubai membatalkan seluruh layanan konsuler pada 13–15 Juli. Lalu Lintas Selat Hormuz Menurun Tajam Sebelum konflik pecah pada Februari, sekitar 20% perdagangan minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz setiap hari, dengan volume lebih dari 15 juta barel senilai sedikitnya US$ 1,2 miliar. Apabila pungutan 20% benar-benar diberlakukan, AS berpotensi memperoleh pendapatan sekitar US$ 240 juta per hari. Konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran telah mengguncang stabilitas kawasan Teluk dan meluas ke sejumlah negara setelah Iran menyerang pangkalan militer AS di berbagai wilayah. Ribuan orang dilaporkan tewas selama perang, terutama di Iran dan Lebanon.
Di pasar energi, harga minyak Brent melonjak lebih dari 9% pada Senin, mencatat kenaikan harian terbesar sejak awal April dan ditutup pada level tertinggi sejak 12 Juni. Minyak mentah AS juga mencatat kenaikan harian terbesar sejak 29 April. Pejabat AS mengatakan sekitar 20 kapal berhasil dikawal melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir. Namun, data pelacakan kapal menunjukkan aktivitas pelayaran masih sangat terbatas. Data MarineTraffic menunjukkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz turun sekitar 52% pada periode 10–12 Juli dibandingkan pekan sebelumnya.