KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Amerika Serikat (AS) memperluas tekanan dagang terhadap Kanada dengan melarang impor berbagai produk asal negara tersebut, mulai dari minuman beralkohol, sepeda motor hingga sejumlah produk susu. Kebijakan ini menandai eskalasi terbaru dalam perang dagang antara dua negara yang selama ini menjadi mitra dagang utama di Amerika Utara. Larangan impor tersebut akan mulai berlaku pada 29 September 2026 dan telah dipublikasikan di situs resmi Gedung Putih. Kebijakan Washington muncul setelah Kanada memberlakukan tarif balasan terhadap sejumlah produk AS yang mulai berlaku pada Selasa (8/9/2026) setelah tengah malam.
Langkah Kanada tersebut merupakan respons terhadap keputusan AS bulan lalu yang mengenakan tarif sebesar 50% terhadap produk Kanada senilai sekitar US$20 miliar. Tarif itu diberlakukan setelah beberapa putaran perundingan perdagangan antara kedua negara tidak mencapai kesepakatan. Meningkatnya ketegangan perdagangan tersebut memperlebar keretakan hubungan antara dua negara yang selama puluhan tahun menjadi sekutu dekat. Kedua pihak saling menyalahkan atas kegagalan perundingan.
Baca Juga: Israel Tutup Konsulat Inggris di Yerusalem Timur Gara-Gara Larangan Impor Perdana Menteri Kanada Mark Carney bahkan mendorong negaranya untuk mengurangi ketergantungan terhadap AS sebagai mitra dagang terbesar. "Kita memiliki segala yang kita butuhkan untuk beralih arah dan berkembang," kata Carney dalam video yang diunggah di YouTube pada Selasa. "Peralihan itu akan menimbulkan biaya. Selalu ada biaya untuk mengambil tindakan. Namun, biaya tersebut tidak sebanding dengan biaya jika kita tetap diam," lanjutnya.
AS Perluas Daftar Produk yang Dilarang
Larangan impor terbaru AS mencakup sebagian besar produk minuman beralkohol dari Kanada. Produk yang terdampak antara lain bir, berbagai jenis anggur, wiski, bourbon, rum, vodka, vermouth, tequila, mezcal hingga brandy. Selain itu, larangan juga mencakup sejumlah produk yang berkaitan dengan sektor susu dan pangan, termasuk whey protein, molase invert, molase tebu serta bir nonalkohol. Washington juga menambahkan berbagai produk ke dalam daftar barang yang dikenakan tarif sebesar 50%, tetapi tidak dilarang masuk secara langsung. Produk tersebut mencakup sejumlah jenis keju, kertas, aluminium, kayu, furnitur dan perlengkapan pencahayaan. Seorang pejabat AS mengatakan ancaman Presiden Donald Trump untuk menaikkan tarif impor kendaraan Kanada dari sebelumnya 25% menjadi 50% mulai 1 Januari masih berlaku. Pejabat tersebut juga menyebut Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer telah berbicara dengan Menteri Kanada yang bertanggung jawab atas perdagangan bilateral dengan AS, Dominic LeBlanc, dalam beberapa hari terakhir.
Baca Juga: Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Merosot di Tengah Eskalasi Perang AS-Iran Keduanya diperkirakan kembali melakukan pembicaraan dalam beberapa hari mendatang untuk mencari kemungkinan jalan alternatif guna meredakan ketegangan perdagangan. LeBlanc melalui media sosial pada Selasa malam mengkritik kebijakan terbaru Washington. Ia mengatakan dirinya masih berkomunikasi dengan Greer mengenai langkah selanjutnya. "Seperti yang telah terjadi selama 18 bulan terakhir, prioritas utama kami tetap melindungi dan mendukung pekerja, petani, keluarga, dan dunia usaha Kanada dari tindakan yang tidak beralasan ini," tulis LeBlanc.
Kanada Balas Tekanan Tarif AS
Kebijakan Washington merupakan respons terhadap tarif balasan yang diberlakukan Ottawa. Pemerintah Kanada mengatakan langkah tersebut dirancang untuk memberikan tekanan ekonomi dan politik terhadap Washington. Tarif balasan Kanada mencakup produk AS senilai sekitar US$20 miliar, dengan tarif berkisar antara 15% hingga 50%. Produk yang terdampak meliputi baja, furnitur, pakaian hingga barang elektronik. Sejumlah sektor di negara bagian AS yang memiliki daya saing tinggi, seperti Michigan dan Ohio, diperkirakan ikut terdampak. Kebijakan ini juga muncul menjelang pemilihan paruh waktu AS pada November mendatang. Meskipun nilai barang yang dikenakan tarif relatif kecil dibandingkan total perdagangan kedua negara, sejumlah analis mulai mengkhawatirkan dampaknya terhadap United States-Mexico-Canada Agreement (USMCA). Perjanjian perdagangan bebas yang menggantikan North American Free Trade Agreement (NAFTA) tersebut selama ini menjadi fondasi perdagangan Amerika Utara. "Yang kami khawatirkan adalah spiral eskalasi," kata Michael Harvey, direktur eksekutif Canadian Agri-Food Trade Alliance sekaligus anggota komite penasihat Carney untuk hubungan ekonomi bilateral AS.
Baca Juga: Perang Timur Tengah Memanas, Houthi Serang Fasilitas Minyak Arab Saudi "Namun pada saat yang sama, kami sepenuhnya memahami bahwa perdana menteri perlu menemukan area yang dapat menjadi daya tawar," lanjutnya.
Trump Kembali Serang Kanada
Presiden Donald Trump dalam beberapa hari terakhir juga meningkatkan tekanan terhadap Kanada melalui platform Truth Social. Pada Senin, Trump mengatakan produsen jet pribadi asal Kanada, Bombardier, tidak akan lagi diperbolehkan menjual pesawatnya di AS apabila perusahaan tersebut tidak mulai memproduksi pesawat di AS. Trump juga mengunggah peta Amerika Utara yang dibalut bendera AS, mencakup Kanada dan Meksiko. Ia turut membagikan gambar hasil kecerdasan buatan yang kembali menyindir Carney dengan menyebutnya "Gubernur", merujuk pada pernyataan Trump yang berulang kali menyebut Kanada seharusnya menjadi negara bagian AS ke-51. Beberapa jam sebelum larangan impor terbaru diumumkan, Trump juga mengarahkan General Services Administration (GSA), lembaga pemerintah AS yang menyediakan berbagai layanan bagi pemerintah federal, untuk berkoordinasi dengan Perwakilan Dagang AS. Trump meminta agar produk asal Kanada dikeluarkan dari daftar pengadaan pemerintah AS. "Singkirkan produk asal Kanada dari Multiple Award Schedules milik GSA kecuali Kanada memulihkan timbal balik yang penuh dan adil bagi petani dan perusahaan Amerika," demikian arahan Trump.
Berbagai Sektor Kanada Tertekan
Tarif AS yang mulai diterapkan bulan lalu telah menghantam berbagai sektor Kanada, termasuk anggur, furnitur, produk susu, semen, pakaian, alat pancing dan perlengkapan hoki. Nilai produk yang terdampak mencapai sekitar US$20 miliar atau 5% dari total ekspor Kanada ke AS. Perusahaan pembuat bir asal Jepang, Sapporo, mengatakan sedang mempertimbangkan untuk memindahkan sebagian kecil produksi minuman nonalkohol dari Kanada ke AS akibat risiko tarif. Namun, perusahaan belum mengambil keputusan final. Sapporo memiliki Sleeman Breweries yang berbasis di Ontario. Pasar Kanada menyumbang lebih dari separuh penjualan bir Sapporo di luar Jepang. Data pemerintah Kanada dan AS menunjukkan sekitar 68% dari total ekspor Kanada sepanjang tahun ini dikirim ke AS. Dari jumlah tersebut, sekitar 80% dapat diperdagangkan tanpa tarif berkat pengecualian berdasarkan USMCA.
Baca Juga: Harga Minyak Brent Dekati US$ 100, Dipicu Serangan Baru di Timur Tengah Perlindungan dalam perjanjian tersebut selama ini memberikan ketahanan bagi perekonomian domestik Kanada. Namun, tarif yang diberlakukan AS bulan lalu berdasarkan undang-undang era Depresi Besar tidak memungkinkan Ottawa menggunakan pengecualian berdasarkan USMCA.
Masa Depan USMCA Dipertanyakan
Ketidakpastian mengenai masa depan USMCA mulai meningkatkan kekhawatiran terhadap investasi dan pertumbuhan ekonomi Kanada. Situasi tersebut menjadi semakin berat karena Kanada tengah berhadapan dengan perang dagang melawan ekonomi AS yang ukurannya sekitar 13 kali lebih besar. Dampak politik dari konflik perdagangan juga menjadi perhatian. Sejumlah jajak pendapat menunjukkan Carney masih memperoleh dukungan luas dari masyarakat Kanada. Namun, analis politik memperingatkan dukungan tersebut dapat menurun apabila dampak perang dagang mulai terasa lebih luas dalam beberapa bulan mendatang.
Survei Angus Reid yang dirilis Selasa menunjukkan tingkat kepuasan terhadap kinerja Carney meningkat 11 poin menjadi 62%, dibandingkan survei pada Agustus. Sebaliknya, survei Reuters/Ipsos menunjukkan hanya sekitar 20% masyarakat AS yang menyetujui tarif Trump terhadap barang-barang Kanada. Trump sebelumnya juga mengancam menaikkan tarif AS terhadap seluruh mobil, truk dan suku cadang otomotif asal Kanada menjadi 50% mulai 1 Januari. Selain kebijakan tarif, Trump juga menandatangani perintah eksekutif yang mengganti nama Danau Ontario menjadi Danau Amerika, menambah daftar tindakan yang semakin memperuncing hubungan antara Washington dan Ottawa.