AS Longgarkan Akses Minyak Rusia, Harga Energi Terancam Naik



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Pemerintah Amerika Serikat mengambil langkah tak lazim untuk menahan gejolak harga energi global. Washington memberikan lisensi selama 30 hari bagi negara-negara untuk membeli minyak mentah dan produk minyak Rusia yang saat ini tertahan di laut.

Mengutip Reuters (13/3), Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kebijakan ini bertujuan menstabilkan pasar energi yang terguncang setelah eskalasi konflik dengan Iran.

Langkah tersebut diumumkan setelah harga minyak dunia melonjak menembus US$ 100 per barel, level tertinggi dalam hampir empat tahun. Menurut Bessent, lisensi sementara ini tidak akan memberikan keuntungan finansial yang signifikan bagi pemerintah Rusia.


Lisensi itu mengizinkan pengiriman dan penjualan minyak Rusia yang telah dimuat ke kapal hingga 12 Maret. Berdasarkan dokumen yang dirilis United States Department of the Treasury, izin tersebut berlaku sampai 11 April waktu Washington.

Kebijakan ini muncul di tengah upaya agresif Washington menahan lonjakan harga energi. Sehari sebelumnya, United States Department of Energy mengumumkan pelepasan 172 juta barel minyak dari cadangan strategis AS.

Langkah itu merupakan bagian dari komitmen kolektif negara-negara anggota International Energy Agency (IEA) yang berencana melepas total 400 juta barel minyak ke pasar global.

Meski demikian, kebijakan tersebut memunculkan pertanyaan baru. Di satu sisi, AS tetap mempertahankan tekanan terhadap Rusia dalam berbagai sanksi ekonomi. Namun di sisi lain, Washington justru membuka ruang sementara bagi perdagangan minyak Rusia demi menjaga stabilitas harga energi global.

Sebelumnya, pemerintah AS juga telah memberikan pengecualian serupa kepada India pada 5 Maret lalu, yang memungkinkan New Delhi membeli minyak Rusia yang tertahan di laut.

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Tekan Pasar, Indeks Nikkei Jepang Turun 3,2% Sepekan

Di tengah situasi ini, Presiden AS Donald Trump juga memerintahkan U.S. International Development Finance Corporation menyediakan asuransi risiko politik dan jaminan pembiayaan bagi perdagangan maritim di kawasan Teluk. Bahkan, Angkatan Laut AS disebut siap mengawal kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut.

Ketegangan kawasan meningkat setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran dibalas oleh Teheran. Konflik ini turut mengganggu jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak dan gas paling vital di dunia.

Lebih jauh lagi, Islamic Revolutionary Guard Corps Iran memperingatkan akan memblokir pengiriman minyak dari kawasan Teluk apabila serangan AS dan Israel tidak dihentikan.

Jika ancaman itu terealisasi, pasar energi global berisiko menghadapi gangguan pasokan yang lebih besar. Bagi ekonomi dunia, ketegangan geopolitik di jalur energi utama ini dapat memperpanjang tekanan harga energi dan memperburuk inflasi global.

Baca Juga: Trump Sesumbar! Membunuh Pemimpin Iran Adalah Kehormatan Besar Baginya

TAG: