AS Longgarkan Aturan Ganja, Picu Perubahan Besar Industri Senilai US$47 Miliar



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah Amerika Serikat melalui U.S. Department of Justice mengumumkan langkah besar dalam kebijakan narkotika dengan melonggarkan pembatasan terhadap sejumlah produk ganja serta mempercepat proses reklasifikasi zat tersebut menjadi kategori yang lebih ringan.

Kebijakan ini menjadi salah satu perubahan paling signifikan dalam beberapa dekade terakhir, meskipun tidak serta-merta melegalkan ganja di seluruh wilayah AS. Namun demikian, langkah ini diperkirakan akan mengubah lanskap industri ganja yang nilainya mencapai US$47 miliar.

Perubahan Status dan Dampaknya

Dalam skema baru, produk ganja medis yang diatur oleh negara bagian akan dipindahkan dari kategori zat berisiko tinggi—sejajar dengan heroin—ke kategori dengan potensi penyalahgunaan rendah hingga sedang. Kategori ini juga mencakup obat-obatan seperti pereda nyeri umum, ketamin, dan testosteron.


Selain itu, produk ganja yang telah disetujui oleh U.S. Food and Drug Administration juga akan masuk dalam klasifikasi baru tersebut.

Pelaksana Tugas Jaksa Agung, Todd Blanche, menyatakan pemerintah akan mempercepat upaya lebih luas untuk menurunkan status ganja secara keseluruhan.

“Tindakan perubahan klasifikasi ini memungkinkan penelitian mengenai keamanan dan efektivitas zat ini, yang pada akhirnya memberikan perawatan yang lebih baik bagi pasien serta informasi yang lebih andal bagi para dokter,” ujar Blanche dalam pernyataan resmi.

Baca Juga: Prancis dan Jerman Lanjutkan Pengembangan Proyek Jet Tempur FCAS

Langkah ini diyakini akan membuka peluang riset yang lebih luas, mengurangi beban pajak, serta mempermudah akses pendanaan bagi perusahaan di sektor ini.

Dorongan dari Kebijakan Trump

Kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut dari perintah eksekutif Presiden Donald Trump pada Desember lalu yang menginstruksikan pelonggaran regulasi ganja.

Trump juga mendesak Kongres untuk memperbarui regulasi guna memastikan akses terhadap produk cannabidiol (CBD) secara lebih luas, sekaligus tetap membatasi produk yang berisiko terhadap kesehatan.

Dampak ke Industri dan Pasar

Langkah ini diperkirakan akan menguntungkan perusahaan-perusahaan besar di industri ganja seperti Canopy Growth, Tilray Brands, dan Trulieve Cannabis.

Selain memasarkan produk medis dan konsumen, sejumlah perusahaan juga mengembangkan penggunaan farmasi ganja untuk pengelolaan nyeri, gejala kanker, gangguan kecemasan, dan kondisi lainnya.

Meski demikian, reaksi pasar saham cenderung fluktuatif. Saham perusahaan ganja sempat naik antara 6% hingga 13% setelah pengumuman, namun kemudian terkoreksi seiring investor menilai kebijakan ini masih memiliki keterbatasan dalam implementasi jangka pendek.

Tren Legalisasi di AS

Status ganja sebagai zat Schedule I—yang dianggap memiliki potensi penyalahgunaan tinggi tanpa manfaat medis—telah lama dikritik. Saat ini, sekitar 24 negara bagian dan Washington D.C. telah melegalkan penggunaan rekreasional, sementara 40 negara bagian mengizinkan penggunaan medis.

Menurut data dari Congressional Research Service, hanya dua negara bagian, yakni Idaho dan Kansas, yang masih melarang seluruh bentuk penggunaan ganja.

Penjualan legal ganja di AS diproyeksikan melampaui US$47 miliar pada 2026, menurut lembaga riset pasar.

Baca Juga: Sirkuit Istanbul Park Turki Kembali Masuk Kalender F1 Mulai 2027

Pro dan Kontra Kebijakan

Ganja merupakan zat ilegal yang paling banyak digunakan di AS dan dunia. Data dari Centers for Disease Control and Prevention menunjukkan hampir satu dari lima warga AS menggunakannya setiap tahun.

Namun, kebijakan pelonggaran ini tetap menuai kritik. Sejumlah pihak khawatir legalisasi dapat meningkatkan penggunaan di kalangan remaja, menurunkan produktivitas kerja, serta meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.

Senator Partai Republik Tom Cotton menilai langkah ini berisiko. Ia menyebut ganja saat ini jauh lebih kuat dibandingkan satu atau dua dekade lalu, dengan potensi dampak negatif seperti gangguan psikosis dan perilaku antisosial.

“Perubahan klasifikasi ganja adalah langkah ke arah yang salah,” ujarnya.

Departemen Kehakiman AS akan memulai proses pengumpulan bukti dan pendapat ahli terkait reklasifikasi ganja pada 29 Juni mendatang.