AS Longgarkan Sanksi Iran 60 Hari, Trump Peringatkan Teheran Patuhi Kesepakatan



KONTAN.CO.ID - Amerika Serikat (AS) memberikan kelonggaran sanksi terhadap Iran selama 60 hari mulai Senin (22/6/2026), menyusul perundingan perdana di bawah kesepakatan damai sementara yang dicapai pekan lalu.

Namun, Presiden AS Donald Trump menegaskan Washington siap mengambil tindakan jika Teheran tidak memenuhi komitmennya dalam perjanjian tersebut.

Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan, pembicaraan dengan pejabat Iran di Swiss telah menghasilkan landasan yang baik untuk mencapai kesepakatan damai permanen.


Baca Juga: Aktivitas Kapal di Selat Hormuz Meningkat, Sinyal Pemulihan Perdagangan Energi Teluk

Meski demikian, Iran membantah telah memulai negosiasi terkait program nuklirnya maupun menyetujui kembalinya inspeksi oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menyatakan tidak ada pertemuan antara pejabat Iran dan Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi di Swiss. Iran juga belum memiliki rencana mengizinkan inspeksi terhadap fasilitas nuklirnya yang rusak akibat perang.

Dalam perundingan yang berlangsung di resor pegunungan Buergenstock, Swiss, kedua negara menyepakati peta jalan menuju perjanjian permanen dalam waktu 60 hari. Kesepakatan tersebut dimediasi oleh Pakistan dan Qatar.

Selain membahas isu nuklir, kedua pihak juga menyetujui mekanisme penghentian konflik antara Israel dan kelompok Hezbollah yang didukung Iran di Lebanon.

Mereka juga membuka jalur komunikasi untuk menjamin keamanan pelayaran komersial di Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan minyak dunia yang sempat diblokade Iran selama konflik berlangsung.

Sebagai langkah awal untuk memberikan keringanan ekonomi kepada Iran, Departemen Keuangan AS mengumumkan pengecualian sanksi hingga 21 Agustus 2026.

Kebijakan itu memungkinkan Iran kembali menjual minyak dan produk turunannya serta menerima pembayaran dari transaksi tersebut.

Baca Juga: Minyak Iran Kembali ke Pasar: Asia Hati-hati, China Berpotensi Jadi Pembeli Utama

Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa, Ali Bahreini, mengatakan perundingan menunjukkan kemajuan yang baik. Menurutnya, dua kelompok kerja akan dibentuk dalam beberapa hari mendatang untuk membahas pencabutan sanksi dan aktivitas nuklir Iran.

Ia menegaskan terdapat lima poin dalam kesepakatan awal yang harus dijalankan sepenuhnya sebelum negosiasi lebih lanjut mengenai program nuklir dan peran IAEA dapat dimulai.

Selat Hormuz Mulai Ramai

Kesepakatan sementara tersebut mulai menunjukkan dampak terhadap pasar energi global. Lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz dilaporkan meningkat pada Senin setelah sempat terganggu akibat perang.

Menteri Luar Negeri Oman juga menegaskan komitmen negaranya terhadap hukum internasional dan pelayaran bebas hambatan selama berlangsungnya negosiasi terkait pengelolaan Selat Hormuz.

Baca Juga: Pasar Mobil Eropa Tumbuh 3,6% pada Mei 2026, Kendaraan Listrik Dorong Pertumbuhan

Perang antara Iran dan Israel yang melibatkan serangan udara AS telah menewaskan ribuan orang dan menyebabkan jutaan warga mengungsi. Konflik tersebut juga sempat mendorong lonjakan harga minyak dunia dan mengguncang pasar keuangan global.

Namun, sejak kesepakatan sementara dicapai, harga minyak mulai terkoreksi. Pada perdagangan Senin, harga minyak mentah ditutup turun sekitar 3% dan kembali melemah pada Selasa.

Trump Beri Peringatan

Meski menyambut kemajuan diplomatik, Trump tetap memberikan peringatan keras kepada Iran.

Dalam unggahan di media sosial Truth Social, Trump menyatakan Iran akan menyetujui inspeksi senjata guna menjamin "kejujuran nuklir".

"Jika Iran tidak mematuhi kesepakatan atau tidak berperilaku sebagaimana mestinya, saya akan melakukan apa yang harus saya lakukan," kata Trump kepada wartawan.

Baca Juga: China Geser AS dari Takhta Superkomputer Tercepat Dunia, Tapi Belum Unggul di AI

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan keberhasilan perundingan sangat bergantung pada komitmen penuh seluruh pihak terhadap isi kesepakatan yang telah disepakati.

Ia juga mengingatkan bahwa pernyataan-pernyataan di luar teks resmi kesepakatan tidak akan membantu kemajuan negosiasi.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyebut Teheran telah memperoleh sejumlah manfaat dari kesepakatan awal, termasuk pengecualian sanksi untuk ekspor minyak dan petrokimia, pencairan sebagian aset yang dibekukan di luar negeri, serta dimulainya rencana rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran.

Namun, muncul perbedaan pandangan terkait penggunaan dana yang dicairkan. Vance mengatakan sebagian dana Iran yang dibebaskan akan dikelola bersama AS dan Qatar dan digunakan untuk membeli produk pertanian AS seperti jagung, kedelai, dan gandum.

Trump bahkan menyatakan dana yang dicairkan pada akhirnya akan menguntungkan petani AS.

Baca Juga: Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, Sedikitnya 18 Orang Tewas

Di sisi lain, Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati membantah adanya kewajiban tersebut. Menurutnya, sebagian dana yang dibebaskan dapat digunakan untuk membeli berbagai barang lain yang tidak terkena sanksi internasional.

Dengan masih adanya perbedaan interpretasi atas sejumlah poin kesepakatan, proses menuju perjanjian damai permanen antara AS dan Iran diperkirakan masih akan menghadapi tantangan dalam beberapa bulan ke depan.