AS Luncurkan Gelombang Baru Serangan ke Iran, Ancaman Jalur Energi Global Meningkat



KONTAN.CO.ID - Amerika Serikat (AS) melancarkan gelombang baru serangan terhadap sistem pertahanan pantai dan lokasi rudal Iran pada Rabu (15/7), setelah kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Sebagai balasan, Teheran mengancam akan menutup lebih banyak jalur ekspor energi di kawasan.

Baca Juga: IPO dan Merger Bergairah, Investment Banking Wall Street Kembali Bersinar


Eskalasi terbaru ini memperpanjang rangkaian aksi saling serang antara kedua negara dalam perebutan kendali atas Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelum perang mengangkut sekitar 20% perdagangan minyak dan gas dunia.

Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan, operasi militer dimulai sekitar pukul 06.00 waktu setempat.

"Pasukan Komando Pusat AS memulai gelombang serangan terhadap Iran yang dirancang untuk semakin melemahkan kemampuan militer Iran yang digunakan dalam menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz," demikian pernyataan CENTCOM.

Militer AS mengatakan serangan menyasar sistem pertahanan pantai serta lokasi penyimpanan dan peluncuran rudal jelajah di Pulau Greater Tunb. Operasi tersebut disebut selesai dalam waktu sekitar 90 menit.

Serangan ini menyusul operasi militer selama tujuh jam pada Selasa (14/7), ketika AS mengklaim telah menghantam puluhan target militer di sekitar Selat Hormuz dan wilayah pesisir Iran.

Hingga berita ini ditulis, media Iran belum melaporkan adanya serangan tersebut.

Baca Juga: Warren Buffett Percepat Pembagian Warisan, Target Rampung pada 2034

Iran ancam tutup jalur energi lain

Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang sejumlah sasaran militer AS di kawasan, termasuk di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.

IRGC juga memperingatkan bahwa Iran siap menutup lebih banyak jalur ekspor energi regional.

"Amerika Serikat harus bersiap menghadapi penutupan seluruh koridor ekspor lain yang menguntungkan AS dan sekutunya," demikian pernyataan IRGC.

Konflik semakin memanas sejak Iran pada Sabtu (11/7) mengumumkan penutupan Selat Hormuz.

Washington menuduh Iran menyerang tujuh kapal komersial dalam sepekan terakhir, yang menyebabkan hampir selusin awak kapal tewas, hilang, atau terluka.

Baca Juga: IMF Ingatkan Pemerintah Jaga Stabilitas Harga di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

Risiko gangguan pasokan energi meningkat

Perang yang dimulai setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari telah memicu serangan balasan Iran terhadap sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.

Konflik tersebut juga mengganggu pasokan energi global dan memicu kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi.

Harga minyak kembali menguat pada Rabu setelah sehari sebelumnya ditutup di level tertinggi dalam satu bulan.

Kesepakatan gencatan senjata sementara yang dicapai bulan lalu sejatinya ditujukan untuk membuka jalan bagi perundingan mengenai program nuklir Iran dan gencatan senjata permanen. Namun, upaya melanjutkan negosiasi hingga kini belum membuahkan hasil.

Sejumlah analis menilai, AS dan Iran kemungkinan tidak akan kembali ke perang skala penuh, meskipun risiko eskalasi lebih lanjut masih tetap tinggi.

Mereka juga menilai Iran memberi sinyal dapat memanfaatkan kelompok Houthi di Yaman untuk mengganggu pelayaran di Selat Bab el-Mandeb, jalur yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu rute utama ekspor minyak Arab Saudi serta perdagangan global.

Gangguan di Bab el-Mandeb berpotensi memperbesar tekanan terhadap rantai pasok energi dunia, mengingat kawasan tersebut bersama Selat Hormuz merupakan dua jalur pelayaran energi paling vital.

Baca Juga: Moody's Pertahankan Rating Israel di Baa1, tetapi Pangkas Proyeksi Pertumbuhan 2026

Trump ancam serang infrastruktur energi Iran

Presiden AS Donald Trump pada Selasa (14/7) kembali meningkatkan tekanan terhadap Teheran. Ia mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran pekan depan apabila Teheran tidak kembali ke meja perundingan.

"Saya akan menyimpan target energi untuk tahap terakhir, tetapi pada akhirnya kami akan menyerang target-target energi," kata Trump.

Trump juga mengungkapkan bahwa negosiator AS telah menyampaikan pesan kepada Iran agar segera mencapai kesepakatan.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Trump sempat mengusulkan penerapan biaya sebesar 20% bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Baca Juga: Pejabat The Fed Yakin Inflasi AS Mulai Mendingin Meski Masih di Atas Target

Namun, sehari kemudian ia membatalkan rencana tersebut dan menyatakan akan lebih fokus mendorong kerja sama investasi dengan negara-negara Teluk, tanpa menjelaskan rinciannya.

Konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari itu dilaporkan telah menewaskan ribuan orang dan menyebabkan jutaan warga mengungsi, terutama di Iran dan Lebanon.

Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, mengatakan sedikitnya 30 warga sipil tewas dalam beberapa hari terakhir akibat serangan AS di wilayah selatan Iran.

Sementara itu, militer Iran melaporkan sedikitnya tujuh personel aktif dan wajib militer tewas dalam serangan AS semalam yang menghantam pangkalan militer Bampur di tenggara negara tersebut.