KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan militer ke Iran pada Rabu (8/7/2026) sebagai respons atas serangan terhadap kapal-kapal kargo yang melintas di Selat Hormuz sehari sebelumnya. Eskalasi terbaru ini memicu serangan balasan Iran ke Kuwait dan Bahrain, sekaligus memperbesar ancaman terhadap upaya mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak awal tahun. Militer AS menyatakan operasi terbaru tersebut bertujuan menjaga kebebasan pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) melalui akun resminya di X menyatakan, "Pasukan Komando Pusat Amerika Serikat telah memulai serangan tambahan terhadap Iran untuk semakin melemahkan kemampuan mereka mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz." CENTCOM menambahkan, "Amerika Serikat meminta Iran bertanggung jawab atas agresi yang tidak dapat dibenarkan terhadap kapal-kapal komersial dan awak sipil yang berlayar secara bebas di jalur perairan internasional yang sangat vital."
Baca Juga: Harga Emas Melonjak 0,8% ke US$ 4.107,69: Ini Pemicu Utama Kenaikan di Sore Ini Serangan terbaru tersebut dilakukan hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan dirinya meyakini bahwa gencatan senjata sementara dengan Iran telah berakhir. Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengatakan kepada Reuters bahwa intensitas serangan pada Rabu akan lebih besar dibandingkan operasi yang dilakukan sehari sebelumnya. Trump juga menegaskan melalui platform Truth Social, "Ini adalah balasan atas pengeboman kapal-kapal oleh Iran kemarin. Jika hal itu terjadi lagi, konsekuensinya akan jauh lebih buruk!"
Iran Balas Serang Kuwait dan Bahrain
Serangan AS mengguncang sejumlah kota di pesisir selatan Iran dan menyebabkan pemadaman listrik di beberapa wilayah. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan untuk hari kedua berturut-turut ke Kuwait dan Bahrain, dua negara yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat. Kementerian Pertahanan Kuwait menyatakan pihaknya berhasil mencegat rudal dan drone yang diluncurkan Iran. Sementara itu, Qatar sempat mengeluarkan peringatan peningkatan ancaman keamanan sebelum akhirnya mencabut status tersebut setelah situasi dinilai terkendali. Selat Hormuz memiliki arti strategis karena sebelum perang sekitar seperlima pasokan minyak dunia dikirim melalui jalur tersebut. Posisi geografis ini memberikan Iran pengaruh besar terhadap arus perdagangan energi global. Meski Iran belum mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal-kapal kargo, para analis menilai tindakan semacam itu kerap digunakan Teheran sebagai alat tawar dalam perundingan.
Baca Juga: Harga Minyak Berbalik Arah: Turun 1% dengan Pasar Pertimbangkan Serangan AS ke Iran Negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan melalui X, "Amerika Serikat belum memahami bahwa intimidasi dan pelanggaran terhadap komitmennya kini tidak lagi tanpa konsekuensi. Saya tegaskan, jika Anda menyerang, maka Anda akan menerima serangan balasan." Ia juga menambahkan, "Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali berdasarkan pengaturan Iran, bukan melalui ancaman Amerika Serikat."
Harapan Perdamaian Kian Menipis
Rangkaian serangan terbaru dinilai semakin memperkecil peluang tercapainya kesepakatan damai permanen antara kedua negara. Sebelumnya, AS dan Iran telah menandatangani nota kesepahaman pada 17 Juni yang diharapkan menjadi dasar penghentian perang yang dimulai setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Saat menghadiri KTT NATO di Turki, Trump ditanya apakah nota kesepahaman tersebut masih berlaku. Ia menjawab, "Itu pertanyaan yang sangat menarik. Menurut saya, kesepakatan itu sudah berakhir. Saya tidak ingin lagi berurusan dengan mereka." Trump kemudian menambahkan, "Kalaupun kita membuat kesepakatan dengan Iran, saya tidak yakin kesepakatan itu akan bertahan. Saya menilai mereka adalah pihak yang tidak dapat dipercaya." Meski demikian, Trump mengatakan dirinya tidak memperkirakan perang akan kembali meningkat menjadi konflik berskala penuh. Ia juga mengaku belum dapat memastikan apakah negosiasi menuju kesepakatan permanen masih akan dilanjutkan. Dalam kesempatan lain pada hari yang sama, Trump mengatakan, "Apa pun yang terjadi akan berakhir dengan sangat cepat dan justru akan membuat situasi menjadi lebih aman, termasuk bagi pasar minyak."
Harga Minyak Menguat
Ketegangan terbaru di Timur Tengah langsung memengaruhi pasar energi global. Harga minyak mentah Brent naik sekitar 1% menjadi US$ 78,80 per barel pada perdagangan Rabu dini hari GMT. Meski mengalami kenaikan, harga tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan puncaknya pada akhir April yang sempat melampaui US$ 120 per barel.
Baca Juga: Australia Mulai Ekspor Uranium ke India, Perkuat Kerja Sama Energi Bersih Bandar Abbas hingga Chabahar Jadi Sasaran
Media Iran melaporkan serangan AS terutama menyasar wilayah pesisir selatan negara tersebut, mulai dari kawasan Selat Hormuz hingga Teluk Oman. Beberapa lokasi yang dilaporkan terkena serangan antara lain Bandar Abbas, yang merupakan pelabuhan terbesar Iran sekaligus markas penting angkatan laut dan Garda Revolusi Iran di Selat Hormuz. Selain itu, serangan juga terjadi di Konarak dan Chabahar yang berada dekat perbatasan Pakistan. Kantor berita Mehr melaporkan aliran listrik di sebagian besar wilayah Chabahar telah pulih setelah sebelumnya padam akibat serangan. Sejumlah media juga melaporkan menara pengatur lalu lintas maritim di Chabahar turut menjadi sasaran.
Media pemerintah Iran melaporkan seorang petugas pemadam kebakaran tewas akibat serangan di bandara Kota Iranshahr di wilayah tenggara Iran. Sementara itu, Press TV melaporkan serangan AS juga menghantam jembatan kereta api di dekat Kota Aqqala, Iran utara.
Iran Ancam Langkah Balasan Lebih Luas
Sebelum serangan terbaru AS berlangsung, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyatakan serangan Washington telah melanggar nota kesepahaman karena bertentangan dengan klausul yang "menegaskan tanggung jawab Republik Islam Iran dalam menentukan pengaturan jalur pelayaran yang aman di Selat Hormuz." Sementara itu, juru bicara Komisi Keamanan Nasional parlemen Iran mengatakan sejumlah opsi pembalasan tengah dipertimbangkan, termasuk menarik diri dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), mengubah doktrin nuklir Iran, hingga menutup Selat Bab el-Mandeb di pintu masuk Laut Merah, yang juga merupakan jalur penting perdagangan global. Dalam surat kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), misi Iran di PBB menuduh Amerika Serikat telah melakukan "pelanggaran terang-terangan terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa serta kewajiban internasionalnya" dan menyatakan serangan tersebut juga melanggar nota kesepahaman yang telah ditandatangani kedua negara.