AS Luncurkan Serangan Baru ke Iran, Perang Timur Tengah Masuki Babak Baru



KONTAN.CO.ID - Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan baru ke Iran pada Rabu (29/7/2026) waktu setempat, memperluas eskalasi perang yang telah berlangsung selama lima bulan dan kini semakin menyeret lebih banyak negara di kawasan Timur Tengah.

Melansir Reuters, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan serangan dimulai pada pukul 20.00 waktu Pantai Timur AS (0000 GMT).

"Pasukan AS mulai melancarkan serangan terhadap Iran pada pukul 20.00 ET hari ini," kata CENTCOM dalam pernyataannya.


Baca Juga: Harga Emas Spot Menguat Tipis ke US$ 4.080 Kamis (30/7) Pagi, Apa Pemicunya?

Militer AS menyebut serangan tersebut merupakan respons atas upaya Iran sehari sebelumnya yang menargetkan pasukan AS yang ditempatkan di Timur Tengah.

Sebelumnya pada hari yang sama, sebuah kapal tanker penyimpanan gas milik perusahaan AS di Pelabuhan Damietta, Mesir, dilaporkan terkena serangan pesawat nirawak (drone), menurut perusahaan keamanan maritim Inggris Ambrey.

Di saat yang hampir bersamaan, pasukan AS dan Arab Saudi melancarkan serangan terhadap kelompok-kelompok yang didukung Iran di Irak bagian timur, sementara Iran menembakkan rudal ke pangkalan militer AS di Yordania.

Kementerian Perminyakan Mesir mengonfirmasi terjadi kebakaran di pelabuhan tersebut, namun tidak menyebut adanya serangan drone maupun pihak yang bertanggung jawab atas insiden itu.

Rangkaian insiden terbaru di Iran, Irak, dan Mesir meningkatkan risiko meluasnya konflik ke lebih banyak negara di Timur Tengah, setelah kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman pekan lalu mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi.

Baca Juga: Rusia vs Pavel Durov: Awal Mula Konflik Pendiri Telegram dengan Kremlin

Serangan terbaru AS ke Iran juga dilakukan setelah Presiden Donald Trump berjanji akan membalas serangan Iran terhadap pasukan AS.

"Kini giliran kami," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Ia menegaskan, AS akan "menghantam mereka dengan sangat keras", meski tetap menyatakan Washington masih menginginkan penyelesaian damai dengan Teheran.

Iran sebelumnya mengakui telah meluncurkan serangan ke pangkalan AS di Yordania dan menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz.

Teheran juga menolak usulan Oman untuk mengelola Selat Hormuz secara bersama, jalur pelayaran strategis bagi perdagangan minyak dan gas dunia.

Perang dimulai pada Februari ketika AS dan Israel melancarkan kampanye pengeboman terhadap Iran. Gencatan senjata sementara yang sempat tercapai pada Juni akhirnya runtuh akibat perselisihan mengenai pengelolaan Selat Hormuz, yang kini diklaim berada di bawah kendali Iran.

Ketegangan tersebut langsung mendorong lonjakan harga minyak. Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 8% hingga kembali menembus level US$ 90 per barel, membalikkan penurunan tajam yang terjadi awal pekan ini setelah Trump sempat menghentikan operasi militer AS.

Baca Juga: Jepang Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026, Harga Energi Jadi Beban

Serangan AS-Arab Saudi di Irak

Serangan gabungan AS dan Arab Saudi menjadi kali pertama Riyadh secara terbuka mengakui keterlibatannya dalam operasi militer bersama Washington selama konflik berlangsung.

Kelompok Popular Mobilisation Forces (PMF), milisi pro-Iran yang menjadi bagian dari pasukan keamanan Irak, menyebut sedikitnya 20 anggotanya tewas dan 32 lainnya terluka akibat serangan yang menghantam sejumlah pangkalan di Irak.

Usai serangan, massa di Irak meneriakkan slogan "Matilah Amerika" saat mengiringi jenazah para korban.

Washington dan Riyadh menyatakan, serangan tersebut merupakan balasan atas serangan drone terhadap fasilitas minyak Arab Saudi yang disebut diluncurkan dari wilayah Irak.

Dua sumber Reuters juga mengungkapkan Menteri Pertahanan Arab Saudi bertemu Wakil Presiden AS JD Vance di Washington untuk mendesak pemerintahan Trump agar tidak memperluas konflik dengan menyerang kelompok Houthi di Yaman maupun milisi pro-Iran lainnya di Irak.

Menurut salah satu sumber, eskalasi lebih lanjut berpotensi memicu "risiko besar yang belum dapat diperkirakan".

Di sisi lain, sejumlah pejabat AS secara internal juga mengingatkan bahwa melanjutkan operasi militer besar terhadap Iran berisiko menguras persediaan amunisi.

Lembaga kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan militer AS kini memiliki kurang dari 1.000 rudal pencegat Patriot dan kurang dari 250 pencegat THAAD, dua sistem pertahanan udara utama.

Baca Juga: Dolar AS Rebound Tipis Kamis (30/7), Cerna Keputusan The Fed & Eskalasi Konflik Iran

Irak di Tengah Tekanan Dua Kubu

Serangan terhadap kelompok bersenjata di Irak memperlihatkan posisi sulit Baghdad yang selama ini menjaga hubungan erat, baik dengan Washington maupun Teheran.

Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi menyerukan semua pihak menahan diri dan menegaskan pemerintah ingin menjaga Irak agar tidak terseret lebih jauh dalam konflik regional.

Sementara itu, Presiden Irak mengecam serangan terhadap kelompok paramiliter sebagai pelanggaran nyata terhadap kedaulatan negaranya, sembari meminta seluruh kelompok bersenjata menghentikan serangan terhadap negara-negara tetangga.

Di saat yang sama, ratusan ribu peziarah Iran tengah berada di Irak untuk mengikuti peringatan tahunan hari berkabung, yang semakin memperlihatkan eratnya hubungan kedua negara.

Sebelum melancarkan serangan, militer AS menyatakan telah menggagalkan serangan mendadak Iran terhadap pasukannya di kawasan.

Baca Juga: BTS Boikot Grammy Awards 2027, Tolak Kategori Baru Musik Pop Asia

Militer Yordania juga mengaku berhasil mencegat lima rudal Iran. Pangkalan AS di Yordania belakangan menjadi salah satu sasaran utama Teheran, setelah tiga personel militer AS tewas di negara tersebut pada awal bulan ini.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan telah menembakkan sejumlah rudal balistik ke instalasi militer AS di Yordania serta menyerang tiga kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz melalui jalur yang disebut tidak sah.