AS Percepat Modernisasi Pengendalian Lalu Lintas Udara dengan Kontrak US$1,5 Miliar



KONTAN.CO.ID - Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (Federal Aviation Administration/FAA) mengungkapkan bahwa kontrak manajemen proyek untuk modernisasi sistem pengendalian lalu lintas udara (air traffic control/ATC) nasional bernilai US$1,5 miliar.

Kontrak tersebut diberikan kepada perusahaan keamanan nasional Peraton, yang bertindak sebagai manajer utama proyek perombakan sistem ATC AS senilai total US$12,5 miliar.

Dalam pemaparan kepada anggota DPR AS, Administrator FAA Bryan Bedford mengatakan Presiden AS Donald Trump pada Desember lalu berhasil menegosiasikan potongan harga sebesar US$200 juta dari nilai kontrak awal yang diajukan Peraton, perusahaan milik firma ekuitas swasta Veritas Capital.


Baca Juga: PM China Li Tinjau Fasilitas Tanah Jarang, Isyaratkan Daya Tawar Rivalitas dengan AS

“FAA memang selalu membutuhkan mitra implementasi dan integrasi untuk proyek sebesar ini,” ujar Bedford, Selasa (10/2/2026).

FAA juga mempublikasikan presentasi resminya kepada Kongres pada Selasa, yang merinci kontrak inovatif tersebut.

Kontrak ini mencakup klausul “No Excuses”, di mana pembayaran kepada kontraktor bergantung sepenuhnya pada pencapaian target jadwal, kualitas, pengendalian biaya, dan kinerja manajemen.

Salah satu tantangan utama dalam modernisasi ATC adalah mengintegrasikan berbagai sistem komputer yang tersebar di 318 fasilitas FAA ke dalam satu sistem modern berbasis komputasi awan (cloud).

“Kita harus meninggalkan komputer-komputer kecil di tiap fasilitas dan beralih ke daya komputasi tak terbatas di cloud. Inilah yang akan membuka peluang nyata untuk desain ulang ruang udara,” kata Bedford.

Baca Juga: Dolar AS Terpuruk 9% Setahun: Ada Apa dengan Mata Uang Paling Kuat Dunia?

Hingga 31 Desember, FAA telah mengalokasikan dana sebesar US$1,6 miliar untuk proyek ini. Sekitar 40% jaringan telekomunikasi telah ditingkatkan dari kabel tembaga ke serat optik dan koneksi nirkabel.

Selain itu, FAA menargetkan pemasangan 612 sistem radar baru pada Juni 2028 dengan biaya US$1,1 miliar.

Kontrak terpisah senilai US$420 juta dengan RTX juga mencakup pembayaran berbasis kinerja hingga US$270 juta.

Kongres AS menyetujui proyek modernisasi ATC pada Juni lalu, seiring meningkatnya keluhan selama puluhan tahun terkait kemacetan bandara, kegagalan teknologi, dan keterlambatan penerbangan.

Menteri Perhubungan Sean Duffy telah meminta tambahan anggaran US$19–20 miliar untuk menyelesaikan proyek tersebut dan membangun sistem baru sepenuhnya.

Baca Juga: Saham Mattel Anjlok Hampir 30%, Terseret Prospek Laba yang Mengecewakan

Saat ini, FAA masih kekurangan sekitar 3.500 pengendali lalu lintas udara dari target ideal. Banyak petugas terpaksa bekerja lembur wajib hingga enam hari seminggu, sementara tingkat kegagalan di akademi pelatihan pengendali FAA mencapai lebih dari 30%.

Bedford menegaskan bahwa proyek ini memungkinkan FAA mengambil pendekatan multi-tahun yang lebih realistis dalam modernisasi sistem.

“Ini akhirnya memungkinkan FAA melakukan apa yang seharusnya dilakukan sejak awal, yaitu modernisasi jangka panjang secara bertahap,” ujarnya.

Selanjutnya: TBIG Mulai Tawarkan Surat Utang Senilai Rp 1,27 Triliun

Menarik Dibaca: IHSG Berpotensi Lanjut Naik, Berikut Rekomendasi Saham BNI Sekuritas Rabu (11/2)