KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan akan memperpanjang tanpa batas gencatan senjata dengan Iran guna membuka ruang bagi kelanjutan perundingan damai. Namun, belum ada kepastian apakah Iran maupun sekutu AS, Israel, akan menyetujui langkah tersebut. Melansir
Reuters dalam pernyataan di media sosial, Trump menyebut keputusan itu diambil atas permintaan mediator dari Pakistan, yang tengah memfasilitasi pembicaraan damai di Islamabad.
Baca Juga: Bursa Australia Melemah, Ketidakpastian AS-Iran Membayangi; Saham BHP Tahan Penurunan “Kami sepakat menunda serangan terhadap Iran hingga para pemimpin dan perwakilannya menyusun proposal bersama dan perundingan selesai,” tulis Trump Selasa (21/4/2026). Meski demikian, di saat yang sama Trump menegaskan akan tetap melanjutkan blokade angkatan laut AS terhadap jalur perdagangan laut Iran, yang oleh Teheran dianggap sebagai tindakan perang. Hingga Rabu (22/4), belum ada respons resmi dari pejabat tinggi Iran. Namun, sejumlah sinyal awal menunjukkan sikap skeptis. Kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran menyatakan Iran tidak meminta perpanjangan gencatan senjata dan menegaskan ancaman untuk membongkar blokade AS dengan kekuatan militer. Seorang penasihat Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, bahkan menilai pernyataan Trump tidak memiliki bobot kuat dan berpotensi menjadi manuver politik.
Baca Juga: Harga Minyak AS Naik Rabu (22/4), Ketidakpastian Perundingan Iran Masih Membayangi Perundingan Damai Masih Abu-abu Perang antara AS dan Israel melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari telah menelan ribuan korban jiwa serta mengguncang perekonomian global. Konflik ini juga berdampak luas ke kawasan, termasuk negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS dan Lebanon, setelah kelompok Hizbullah ikut terlibat. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu selama ini dikenal mendorong perubahan kepemimpinan di Iran. Sementara itu, sikap Trump terhadap perang kerap berubah-ubah, mulai dari ancaman keras hingga dorongan untuk mengakhiri konflik. Dampak konflik semakin terasa setelah penutupan Selat Hormuz jalur vital yang menghubungkan Iran dan Oman yang memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan risiko perlambatan ekonomi global. Lebih dari 3.000 warga sipil dilaporkan tewas dan ratusan ribu lainnya mengungsi, terutama di Iran dan Lebanon. Trump dalam pernyataannya juga menyinggung kondisi internal Iran yang dinilainya terpecah, menyusul serangkaian serangan yang menewaskan sejumlah pemimpin penting, termasuk pemimpin tertinggi Iran sebelumnya, Ali Khamenei.
Baca Juga: Australia Minta Roblox dan Minecraft Perjelas Perlindungan Anak Prospek Negosiasi Masih Rapuh Sejumlah sumber menyebutkan pembicaraan damai berikutnya masih belum pasti, setelah agenda negosiasi di Islamabad sempat terancam batal. Sebelum pengumuman terbaru Trump, seorang pejabat senior Iran mengatakan pihaknya bersedia melanjutkan perundingan jika AS menghentikan tekanan dan ancaman, serta menolak negosiasi yang mengarah pada penyerahan. Ketegangan juga meningkat setelah AS menyita dua kapal komersial Iran di laut sebagai bagian dari blokade. Iran mengecam langkah tersebut sebagai “pembajakan di laut” dan “terorisme negara”.
Baca Juga: Ekspor Jepang Tumbuh 11,7% pada Maret, Ditopang Permintaan Global dan Kenaikan Harga Di sisi lain, AS bersama sejumlah negara menuduh Iran menghambat kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Putaran pertama perundingan yang digelar 10 hari lalu belum menghasilkan kesepakatan, dengan salah satu isu utama adalah stok uranium Iran. AS ingin membatasi pengayaan uranium untuk mencegah pengembangan senjata nuklir, sementara Iran menegaskan program nuklirnya hanya untuk tujuan sipil dan merupakan hak kedaulatan negara.