AS Perpanjang Tenggat Waktu Bagi Calon Pembeli Aset Lukoil Hingga 1 April



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Amerika Serikat mengulur waktu penjualan aset internasional raksasa minyak Rusia Lukoil untuk menggunakannya sebagai alat tawar-menawar dalam pembicaraan perdamaian Ukraina, menurut empat sumber yang mengetahui diskusi tersebut.

Pada hari Kamis (26/2/2026), Kantor Pengawasan Aset Asing AS (OFAC) akan memperpanjang tenggat waktu 28 Februari menjadi 1 April untuk penyelesaian kesepakatan, menurut dokumen OFAC yang ditinjau oleh Reuters.

Para pejabat pemerintah AS, Rusia, dan Ukraina belum mencapai terobosan dalam pembicaraan di Jenewa, Abu Dhabi, dan Miami dalam beberapa minggu terakhir untuk menegosiasikan kesepakatan perdamaian di Ukraina. 


Baca Juga: Bank Sentral China Terbitkan Aturan untuk Mendukung Pinjaman Yuan Lintas Batas

Diskusi ini termasuk sanksi AS terhadap produsen minyak utama Rusia, Rosneft yang dikelola negara, serta terhadap produsen terbesar kedua, Lukoil, menurut tiga sumber yang diberi pengarahan tentang pertemuan tersebut.

Putaran pembicaraan selanjutnya antara AS, Rusia, dan Ukraina direncanakan pada bulan Maret.

OFAC telah memperpanjang tenggat waktu tiga kali bagi calon pembeli untuk bernegosiasi dengan Lukoil untuk aset senilai $22 miliar sejak Washington memberlakukan sanksi terhadap dua perusahaan minyak Rusia tersebut pada bulan Oktober.

Sanksi tersebut memaksa penjualan portofolio internasional Lukoil, yang meliputi ladang minyak, kilang, dan SPBU dari Irak hingga Finlandia. Penjualan tersebut telah menarik minat lebih dari selusin penawar, mulai dari perusahaan minyak besar AS ExxonMobil hingga mantan pemilik Pornhub.

OFAC telah menangani penjualan aset Lukoil, tetapi prosesnya baru-baru ini ditingkatkan dengan melibatkan pejabat senior di Gedung Putih, Departemen Keuangan, dan Departemen Luar Negeri, dengan Menteri Keuangan Scott Bessent lebih terlibat langsung, menurut tiga sumber.

Baca Juga: OpenAI Akan Jadikan London Sebagai Pusat Penelitian Terbesarnya di Luar AS

Gedung Putih, Departemen Luar Negeri, dan Departemen Keuangan tidak menanggapi permintaan komentar tentang perpanjangan tersebut yang dikaitkan dengan pembicaraan perdamaian. Lukoil tidak menanggapi permintaan komentar.

Awal bulan ini, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan bahwa dinas intelijennya memberitahunya bahwa utusan Rusia Kirill Dmitriev mengusulkan kesepakatan ekonomi kepada pemerintahan Trump senilai $12 triliun. Kesepakatan ini mencakup aset Lukoil, yang mungkin akan semakin mempersulit penjualan, menurut seseorang yang mengetahui masalah tersebut.

Beberapa perusahaan telah menandatangani perjanjian dengan Lukoil, termasuk perusahaan ekuitas swasta AS Carlyle Group, Midad Energy dari Arab Saudi, dan miliarder Amerika Todd Boehly yang bekerja sama dengan bank investasi Xtellus Partners dan dana UEA Alliance Investment Partners.

Kemitraan antara Chevron dan Quantum Capital Group yang berbasis di Texas juga sedang dalam pembicaraan aktif untuk portofolio tersebut, tetapi belum menyepakati persyaratan dengan Lukoil.

Selanjutnya: Tiga Sentimen Positif yang Akan Mempengaruhi Pergerakan TUGU

Menarik Dibaca: ShopeeFood Kembali Gelar Diskon Kuliner Ramadan, Penasaran Promonya?