KONTAN.CO.ID -Â WASHINGTON. Pemerintah Amerika Serikat (AS) berencana memperpanjang relaksasi (waiver) pembelian minyak Rusia yang saat ini masih berlaku hingga Jumat (10/4/2026) waktu setempat. Kebijakan ini dipertimbangkan sebagai langkah darurat untuk menahan lonjakan harga energi global di tengah perang AS-Israel melawan Iran. Sumber
Reuters menyebut, pemerintahan Presiden Donald Trump kemungkinan besar segera memperpanjang izin tersebut. Sejak pertengahan Maret, Departemen Keuangan AS mengizinkan transaksi terbatas minyak dan produk petroleum Rusia di laut melalui skema waiver berdurasi 30 hari.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya Washington menjaga stabilitas harga bahan bakar global, yang melonjak tajam sejak konflik pecah. Gangguan pasokan terjadi akibat penutupan sebagian Selat Hormuz,jalur vital yang sebelumnya dilalui sekitar 20% distribusi minyak dan gas dunia.
Baca Juga: Situasi Memanas, Kapal Perang Rusia Kawal Tanker Minyak yang Lewati Selat Inggris Badan energi dunia, International Energy Agency, bahkan menyebut konflik ini memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Kondisi tersebut membuat isu harga energi menjadi sangat sensitif secara politik di AS, terutama menjelang pemilu paruh waktu November mendatang. Di sisi lain, perpanjangan waiver ini berpotensi melemahkan upaya Barat menekan pendapatan Rusia dari sektor energi terkait perang di Ukraina. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan saat ini bukan waktu yang tepat untuk melonggarkan sanksi terhadap Moskow. Sumber juga mengungkapkan Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah bertemu Presiden Trump di Gedung Putih dan sepakat bahwa perpanjangan waiver merupakan opsi yang masuk akal dalam situasi saat ini. Namun, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari Gedung Putih maupun Departemen Keuangan.
Baca Juga: Rusia Tolak Menjual Minyak ke Negara dengan Kriteria Ini, Apakah Indonesia Termasuk? Relaksasi ini sebelumnya disebut dapat membuka akses sekitar 100 juta barel minyak Rusia ke pasar global—setara hampir satu hari produksi minyak dunia.
Penolakan dari Kongres
Kebijakan ini menuai kritik keras dari kalangan anggota Kongres AS lintas partai. Mereka menilai pelonggaran sanksi justru memberi keuntungan bagi negara yang dianggap sebagai ancaman. Senator Republik Jerry Moran menilai kebijakan tersebut berisiko memperkuat Rusia dan Iran. Sementara itu, anggota Partai Demokrat Gregory Meeks bersama sejumlah legislator lain mengajukan rancangan undang-undang untuk menghentikan waiver dan mencegah perpanjangannya. Mereka menilai kebijakan ini memberi ruang bagi Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memanfaatkan kenaikan harga energi global demi membiayai perang di Ukraina.
Baca Juga: Drone Ukraina Serang Terminal Minyak Rusia di Pelabuhan Baltik Sebelumnya, AS juga memberikan relaksasi serupa untuk minyak Iran selama 30 hari sejak 20 Maret, yang semakin memicu perdebatan di dalam negeri. Di tengah ketegangan geopolitik dan tekanan harga energi, langkah Washington memperpanjang waiver dipandang sebagai dilema: menjaga stabilitas harga global atau tetap konsisten menekan Rusia melalui sanksi ekonomi. Negara seperti India, sekutu AS yang rentan terhadap gejolak harga minyak, dilaporkan berharap kebijakan ini diperpanjang guna menjaga pasokan energi tetap sta