KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah Amerika Serikat melalui Pentagon dilaporkan tengah mempertimbangkan berbagai opsi kebijakan untuk menekan sekutu di NATO yang dinilai tidak mendukung operasi militer AS dalam konflik dengan Iran. Mengutip laporan Reuters (24/4/2026), sebuah email internal Pentagon menguraikan sejumlah langkah yang dapat diambil, termasuk opsi ekstrem seperti menangguhkan Spanyol dari aliansi serta meninjau kembali posisi Amerika Serikat terkait klaim Inggris atas Kepulauan Falkland. Seorang pejabat AS yang mengetahui isi email tersebut menyebutkan bahwa dokumen itu mencerminkan frustrasi mendalam terhadap sikap beberapa sekutu yang dinilai enggan memberikan akses militer penting, seperti hak pangkalan, wilayah udara, dan jalur penerbangan (ABO) dalam operasi melawan Iran.
Tekanan terhadap Sekutu NATO
Dalam email tersebut, disebutkan bahwa akses ABO merupakan “standar minimum” dalam kerja sama NATO. Namun, sejumlah negara anggota disebut tidak memenuhi ekspektasi tersebut selama konflik berlangsung. Salah satu opsi yang dibahas adalah menyingkirkan negara-negara yang dianggap “sulit” dari posisi strategis atau prestisius di dalam NATO. Langkah ini dinilai lebih bersifat simbolis, namun tetap memiliki dampak politik signifikan. Presiden AS Donald Trump sebelumnya juga mengkritik keras sekutu NATO yang tidak mengirimkan angkatan laut untuk membantu membuka Selat Hormuz, yang tertutup bagi pelayaran global sejak perang udara dimulai pada 28 Februari.
Baca Juga: Perang Timur Tengah Guncang Pasar, Perusahaan Global Tunda IPO dan Pangkas Dividen Trump bahkan sempat menyatakan kemungkinan Amerika Serikat menarik diri dari NATO. “Wouldn't you if you were me?” ujarnya dalam wawancara pada 1 April lalu. Meski demikian, email internal tersebut tidak secara eksplisit mengusulkan langkah keluar dari NATO maupun penutupan pangkalan militer AS di Eropa.
Ketegangan dengan Eropa dan Spanyol
Pemerintahan Trump disebut menilai adanya “sense of entitlement” atau rasa berhak yang berlebihan dari negara-negara Eropa. Salah satu negara yang menjadi sorotan adalah Spanyol, yang menolak penggunaan wilayah udara dan pangkalan militernya untuk menyerang Iran. AS sendiri memiliki dua fasilitas militer penting di Spanyol, yakni Naval Station Rota dan Morón Air Base. Langkah untuk menangguhkan Spanyol dari NATO dinilai tidak akan berdampak besar secara operasional militer, namun akan menjadi sinyal politik kuat bagi sekutu lainnya.
Opsi Sensitif: Kepulauan Falkland
Selain itu, memo tersebut juga memuat opsi untuk mengevaluasi kembali dukungan diplomatik AS terhadap wilayah-wilayah yang disebut sebagai “kepemilikan imperial” Eropa, termasuk Kepulauan Falkland. Wilayah ini dikelola oleh Inggris, namun masih diklaim oleh Argentina. Konflik atas wilayah tersebut pernah memicu perang singkat pada 1982 antara Inggris dan Argentina. Presiden Argentina saat ini, Javier Milei, diketahui merupakan sekutu politik Trump, yang berpotensi menambah dimensi geopolitik dalam isu tersebut.
Retaknya Hubungan Transatlantik
Perang AS-Israel melawan Iran memunculkan kekhawatiran baru terhadap masa depan NATO yang telah berdiri selama 76 tahun. Sejumlah analis menilai konflik ini membuka kemungkinan menurunnya komitmen AS terhadap keamanan Eropa.
Baca Juga: AS Longgarkan Aturan Ganja, Picu Perubahan Besar Industri Senilai US$47 Miliar Negara-negara seperti Inggris dan Prancis menyatakan bahwa bergabung dalam blokade laut terhadap Iran sama artinya dengan terlibat langsung dalam perang. Namun, mereka bersedia membantu menjaga Selat Hormuz tetap terbuka setelah tercapai gencatan senjata.
Ketegangan juga meningkat antara Trump dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Trump bahkan melontarkan kritik tajam, menyebut Starmer sebagai pemimpin yang lemah dan membandingkannya secara negatif dengan Winston Churchill.
Evaluasi Peran NATO
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa konflik dengan Iran telah membuka kelemahan dalam aliansi NATO. Ia menyoroti bahwa rudal jarak jauh Iran mampu menjangkau Eropa, meskipun tidak mencapai wilayah AS. “Jika negara-negara tidak bersedia berdiri bersama saat dibutuhkan, maka aliansi tersebut patut dipertanyakan,” ujar Hegseth. Dengan meningkatnya ketegangan ini, masa depan hubungan transatlantik dan soliditas NATO kini menghadapi ujian serius di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.