KONTAN.CO.ID - Komando Pusat Militer Amerika Serikat (U.S. Central Command/CENTCOM) menyatakan, telah menyelesaikan gelombang terbaru serangan terhadap Iran yang dilakukan atas perintah Presiden Donald Trump. Operasi tersebut menyasar berbagai fasilitas militer strategis Iran di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Menhan AS Wajibkan Tes Testosteron Tahunan bagi Prajurit Usia 30 Tahun ke Atas Mengutip
Reuters, Rabu (15/7/2026) waktu setempat, CENTCOM mengatakan pasukan AS menyerang pusat komando, sistem pertahanan udara, fasilitas rudal dan drone, serta instalasi pengawasan pantai milik Iran. Militer AS juga menyerang sejumlah target di Bandar Abbas, kota pelabuhan terbesar Iran yang menjadi basis penting Angkatan Laut Iran dan Garda Revolusi Islam (IRGC) di Selat Hormuz. Serangan terbaru dilakukan sehari setelah AS kembali memberlakukan blokade laut terhadap seluruh pelabuhan Iran. Sebagai balasan, Teheran mengancam akan menghentikan lebih banyak ekspor energi dari kawasan tersebut dan menyebut negaranya tengah menghadapi "perang eksistensial" melawan Amerika Serikat. Eskalasi ini terjadi hanya beberapa hari setelah gencatan senjata yang rapuh kembali runtuh, memunculkan kekhawatiran akan meluasnya konflik, meski banyak analis masih menilai perang berskala penuh belum menjadi skenario utama. Ketegangan meningkat sejak Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Sabtu lalu. Operasi militer yang berlangsung di kawasan itu juga menghambat pelayaran melalui jalur strategis yang sebelum perang mengangkut sekitar 20% perdagangan minyak dan gas dunia.
Baca Juga: Pakistan Dorong Regulasi Kripto Berbasis Syariah, Fokus pada Aset Riil Dua gelombang serangan CENTCOM menyebut, gelombang pertama serangan dimulai sekitar pukul 06.00 EDT (10.00 GMT) dengan menghantam sistem pertahanan pantai serta lokasi penyimpanan dan peluncuran rudal jelajah di Pulau Greater Tunb. Operasi tersebut selesai dalam waktu sekitar 90 menit. Sekitar sembilan jam kemudian, militer AS melancarkan gelombang serangan kedua. "Serangan ini menargetkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk mengancam kapal-kapal yang melintas secara bebas di Selat Hormuz, jalur perairan internasional yang sangat penting bagi perdagangan global," kata CENTCOM melalui akun resminya di platform X. Tiga pejabat AS yang berbicara kepada Reuters mengatakan operasi tersebut juga bertujuan melumpuhkan kemampuan militer Iran yang dinilai dapat menghambat operasi militer AS yang lebih besar di masa mendatang. Selain itu, militer AS mengaku melumpuhkan sebuah kapal tanker minyak kosong yang berlayar menuju Pulau Kharg setelah kapal tersebut mengabaikan sejumlah peringatan. Helikopter AS menembakkan rudal Hellfire ke cerobong asap kapal tersebut hingga tidak dapat melanjutkan pelayaran. Sejak blokade laut kembali diberlakukan pada Selasa, AS menyatakan telah mengalihkan jalur dua kapal dan melumpuhkan satu kapal lainnya.
Baca Juga: Bursa Korsel Jatuh 7% Kamis (16/7), Saham Chip Tertekan dan BOK Naikkan Suku Bunga Iran laporkan sejumlah wilayah diserang Kantor berita Mehr melaporkan empat lokasi di sekitar Kota Ahvaz serta Bandar Abbas menjadi sasaran serangan. Sementara kantor berita Tasnim menyebut ledakan juga terdengar di Kota Konarak, Iran bagian selatan. Media semi-resmi Iran juga melaporkan proyektil AS menghantam wilayah dekat Sirik dan Pulau Qeshm. Di sisi lain, televisi pemerintah Iran (IRIB) menyatakan salah satu serangan menghantam area dekat rumah sakit di Ahvaz yang memiliki pusat perawatan kanker anak sehingga rumah sakit tersebut sempat dievakuasi. Hingga kini belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa dari insiden tersebut. Setelah gelombang pertama serangan, negosiator utama Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan keamanan negaranya bergantung pada penerapan "pengaturan Iran" di Selat Hormuz. "Kami sedang menghadapi perang yang mendasar dan bersifat eksistensial melawan Amerika," ujar Qalibaf. Sementara itu, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang target-target militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Pemerintah Kuwait mengatakan sistem pertahanan negaranya berhasil mencegat empat rudal dan 21 drone Iran. Serangan tersebut hanya menyebabkan kerusakan material tanpa korban jiwa.
Baca Juga: Bursa Jepang Anjlok Kamis (16/7), Saham Chip Seret Indeks Nikkei Turun Lebih dari 3% Trump: Iran ingin mencapai kesepakatan Presiden Donald Trump menyatakan yakin Iran akan segera mengalami kekalahan dan mengisyaratkan Teheran ingin kembali berunding. "Mereka tidak menyukai apa yang kami lakukan dan mereka sangat ingin mencapai kesepakatan. Kita akan melihat apakah kita mencapai kesepakatan atau menyelesaikannya dengan cara lain," kata Trump dalam acara Pennsylvania Defense and Innovation Summit. Sebelumnya, Trump mengungkapkan bahwa para perunding AS telah menghubungi pihak Iran dan mendesak mereka segera mencapai kesepakatan.
Di sisi lain, juru bicara militer Iran mengatakan Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali jika AS mematuhi nota kesepahaman 14 poin yang ditandatangani kedua negara pada Juni lalu serta menerima penerapan aturan pelayaran yang ditetapkan Iran.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Terus Naik Kamis (16/7), Brent ke US$ 85,28 & WTI ke US$ 80,02 Di tengah konflik yang terus berlangsung, Trump juga mengumumkan Iran telah mengizinkan seorang warga negara AS yang ditahan sejak 2024, Dena Karari, meninggalkan negara tersebut. Pengacara hak asasi manusia Jared Genser menyatakan Karari kini telah meninggalkan Iran dan sedang dalam perjalanan kembali ke Amerika Serikat.