KONTAN.CO.ID - Pemerintah Amerika Serikat (AS) menilai ekspor mineral tanah jarang (
rare earth) dari China mulai menunjukkan perbaikan, meski Beijing disebut masih memperlambat persetujuan sejumlah pengiriman komoditas strategis tersebut. Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengatakan, otoritas AS masih harus turun tangan untuk membantu sejumlah perusahaan yang terdampak lambatnya penerbitan izin ekspor oleh China.
Baca Juga: Bursa Asia Tergelincir saat Imbal Hasil AS Tembus Level Tertinggi dalam Setahun “Saya akan memberi mereka nilai lulus,” kata Greer dalam wawancara dengan Bloomberg Television, Kamis (15/5/2026). “Kami memang melihat pasokan
rare earth kembali membaik. Namun kadang prosesnya lambat. Ada situasi di mana kami harus menyampaikan langsung keberatan kami,” tambahnya. Kontrol Ekspor China Masih Ketat China mulai menerapkan pembatasan ekspor
rare earth sejak April 2025 sebagai respons terhadap kebijakan tarif “Liberation Day” Presiden AS Donald Trump. Meski pada Oktober tahun lalu Washington dan Beijing mencapai kesepakatan untuk melancarkan kembali arus pengiriman
rare earth, kontrol ekspor China terhadap beberapa jenis mineral strategis masih dinilai sangat ketat. Pemerintah China sendiri berulang kali membela kebijakan tersebut dan menyatakan hanya menyetujui permintaan ekspor yang memenuhi syarat.
Baca Juga: Taiwan Apresiasi Dukungan AS di Tengah Lanjutan Pembicaraan Trump–Xi Pasokan Yttrium Mulai Mengalir Greer mengungkapkan AS baru-baru ini menerima beberapa pengiriman besar yttrium, salah satu unsur
rare earth yang hanya diproduksi di China. Mineral tersebut sebelumnya mengalami kelangkaan selama lebih dari setahun dan memicu gangguan pasokan di industri semikonduktor serta dirgantara AS.
“Setiap kali ada masalah, kami menerima laporan dari perusahaan-perusahaan tertentu, lalu berkoordinasi dengan mitra kami di China dan sejauh ini mereka cukup konstruktif,” ujar Greer.
Baca Juga: China Ingin Selat Hormuz Dibuka Tanpa Pembatasan Reuters sebelumnya melaporkan bahwa China telah menyetujui beberapa ekspor besar yttrium pada April lalu, meski volumenya masih jauh di bawah level pengiriman normal sebelumnya. Greer saat ini berada di China sebagai bagian dari delegasi Presiden Donald Trump dalam pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing.