KONTAN.CO.ID - Otoritas pasar derivatif Amerika Serikat, Commodity Futures Trading Commission (CFTC), tengah menyelidiki serangkaian transaksi minyak yang diduga mencurigakan, yang terjadi menjelang perubahan besar kebijakan Presiden Donald Trump terkait konflik Iran. Melansir
Reuters Rabu (15/4/2026), sumber yang mengetahui proses tersebut menyebut penyelidikan berfokus pada perdagangan kontrak berjangka minyak di platform milik CME Group dan Intercontinental Exchange (ICE).
Baca Juga: FIFA Pastikan Iran Tampil di Piala Dunia, Meski Bayang-Bayang Konflik Masih Ada Ketua CFTC Michael Selig dalam pernyataannya menegaskan, pihaknya akan menindak tegas segala bentuk pelanggaran seperti penipuan, manipulasi pasar, maupun insider trading. “Kami akan menemukan pelaku dan mereka akan menghadapi konsekuensi hukum penuh,” ujarnya. Sorotan pada Transaksi Bernilai Besar Penyelidikan mencakup setidaknya dua periode transaksi, yakni pada 23 Maret dan 7 April. Transaksi yang dilakukan tepat sebelum pengumuman kebijakan penting tersebut diduga menghasilkan keuntungan hingga jutaan dolar.
Baca Juga: AS Ancam Sanksi Pembeli Minyak Iran, China Diperkirakan Hentikan Impor Salah satu transaksi yang menjadi perhatian adalah taruhan terhadap harga minyak senilai sekitar US$950 juta yang dilakukan hanya beberapa jam sebelum pengumuman gencatan senjata antara AS dan Iran pekan lalu. Pergerakan yang sangat tepat waktu ini memicu kekhawatiran di kalangan legislator dan pakar hukum terkait potensi penyalahgunaan informasi dalam pasar derivatif yang volatil dan kurang transparan. Pengawasan Diperketat CFTC telah meminta data detail dari bursa, termasuk identitas pelaku transaksi (Tag 50), guna mengungkap pihak di balik perdagangan tersebut. Pihak CME menyatakan telah melakukan pengawasan ketat terhadap aktivitas perdagangan dan bekerja sama dengan regulator.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Melemah Tipis Rabu (15/4), Pasar Cermati Perkembangan AS-Iran Mereka juga menekankan pentingnya pengawasan di seluruh platform, termasuk pasar prediksi yang dinilai memiliki visibilitas terbatas. Sementara itu, ICE belum memberikan komentar terkait penyelidikan ini. Kekhawatiran Insider Trading Gedung Putih disebut telah memperingatkan stafnya untuk tidak memanfaatkan posisi mereka guna mengambil keuntungan di pasar keuangan, khususnya di tengah konflik Iran yang memicu volatilitas tinggi.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Stabil Rabu (15/4), Brent di US$94,93 dan WTI di US$91,2 Sebelumnya, direktur penegakan CFTC juga mengakui pihaknya memantau spekulasi terkait insider trading di pasar yang berada di bawah pengawasan mereka.
Senator AS Elizabeth Warren turut menyoroti kasus ini dan mendesak regulator untuk memperluas investigasi, termasuk kemungkinan keterlibatan pejabat pemerintahan. Risiko Penyalahgunaan Informasi Kasus ini menyoroti bagaimana keputusan geopolitik terutama terkait perang dan diplomasi dapat menciptakan peluang besar bagi pelaku pasar untuk meraup keuntungan secara tidak sah. Jika terbukti, praktik insider trading dalam skala besar ini berpotensi mengguncang kepercayaan terhadap integritas pasar komoditas global, khususnya di tengah ketidakpastian yang dipicu konflik geopolitik.