AS Serang Fasilitas Radar Iran, Situasi di Selat Hormuz Semakin Tegang



KONTAN.CO.ID – DUBAI/WASHINGTON. Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah militer AS melancarkan serangan terhadap sejumlah situs radar pesisir Iran pada Sabtu (7/6/2026), menyusul keberhasilannya menembak jatuh drone yang diluncurkan Iran menuju Selat Hormuz.

Militer Amerika Serikat menyatakan bahwa empat drone Iran tersebut diyakini menargetkan lalu lintas maritim di kawasan strategis tersebut. Seorang pejabat AS yang berbicara kepada Reuters menyebutkan bahwa drone-drone itu berpotensi mengganggu aktivitas pelayaran internasional.

Komando Pusat Amerika Serikat (U.S. Central Command) melalui platform X mengonfirmasi bahwa pihaknya kemudian menyerang fasilitas pengawasan Iran di Goruk dan Pulau Qeshm yang berada di kawasan Selat Hormuz.


Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah membalas serangan AS dengan meluncurkan rudal ke pangkalan-pangkalan militer Amerika di kawasan Timur Tengah. Selain itu, Iran juga mengaku melepaskan tembakan ke empat kapal tanker yang mencoba melintasi Selat Hormuz tanpa izin dari Teheran.

Baca Juga: Duta Besar AS: Taiwan Harus Belanja Pertahanan Lebih Cerdas

Media pemerintah Kuwait melaporkan bahwa sistem pertahanan udara negara tersebut berhasil mencegat serangan rudal dan drone yang berasal dari sumber yang tidak diungkapkan. Sementara itu, di Bahrain, sirene peringatan berbunyi dan warga diminta segera mencari perlindungan.

Iran menyatakan telah menghantam pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain menggunakan rudal balistik. Namun, militer AS mengatakan enam rudal berhasil dicegat, sementara satu rudal lainnya gagal mencapai sasarannya.

Negosiasi Perdamaian Masih Buntu

Amerika Serikat dan Iran diketahui masih terlibat dalam perundingan tidak langsung untuk mencapai kesepakatan sementara guna menghentikan perang yang telah berlangsung selama tiga bulan. Kesepakatan tersebut diharapkan dapat membuka jalan bagi pembahasan lanjutan mengenai isu-isu utama, termasuk program nuklir Iran.

Namun, bentrokan bersenjata yang terus terjadi membuat peluang tercapainya kesepakatan damai masih sulit diwujudkan.

Sebagai bagian dari negosiasi, Teheran meminta akses terhadap miliaran dolar pendapatan minyaknya, pelonggaran sanksi ekspor minyak mentah, pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhannya, serta pengaruh yang lebih besar atas Selat Hormuz.

Sejak perang dimulai, Iran secara efektif telah membatasi akses di Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia.

Trump Tertekan Kenaikan Harga Energi

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi tekanan politik domestik yang semakin besar akibat lonjakan harga bahan bakar di dalam negeri sehingga didesak untuk segera mengakhiri perang yang tidak populer tersebut.

Dalam wawancara dengan NBC, Trump mengatakan sebagian besar fasilitas produksi drone dan rudal Iran telah dihancurkan, namun Iran masih memiliki sebagian persenjataan yang cukup signifikan.

Baca Juga: AS Cegat Rudal dan Drone Iran yang Mengarah ke Selat Hormuz

"Mereka masih memiliki sejumlah rudal dan drone. Jika dihitung secara persentase, mungkin sekitar 21% hingga 22% dari total persediaan rudal mereka. Jumlah itu masih sangat banyak, tetapi tidak sebanyak ketika kami pertama kali melancarkan serangan," ujar Trump dalam program Meet the Press, sebagaimana dikutip dari cuplikan wawancara yang dirilis NBC pada Jumat.

Ketika ditanya mengapa para pemimpin Iran belum juga terdorong untuk menyepakati perdamaian meskipun berada dalam tekanan besar, Trump menjawab:

"Karena mereka kuat. Mereka memiliki harga diri. Ada banyak hal yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan harus dilakukan, namun sekarang mereka tidak punya pilihan lain dan membutuhkan sedikit waktu."

Sejak Amerika Serikat dan Israel memulai operasi militer terhadap Iran pada 28 Februari, Teheran membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS serta secara luas menghentikan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz.

Konflik tersebut telah mendorong kenaikan harga minyak dunia sekaligus mengganggu rantai pasok berbagai komoditas. Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (WFP) pada Jumat memperingatkan bahwa kenaikan biaya bahan bakar dan transportasi telah membuat jutaan orang semakin dekat dengan ancaman kelaparan.

Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan kepada CNN bahwa peluang tercapainya perjanjian damai bergantung pada kesediaan pemerintahan Trump untuk mencairkan aset Iran senilai US$24 miliar yang dibekukan. Ia juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan "memasuki lorong yang gelap" apabila kembali melancarkan serangan.

Konflik Regional Terus Berkobar

Di tengah upaya gencatan senjata, konflik di Lebanon juga kembali meningkat. Kelompok Hizbullah yang didukung Iran mengklaim telah melancarkan dua serangan terhadap pasukan Israel di Lebanon selatan, termasuk di sekitar Kastel Beaufort yang baru dikuasai Israel.

Sementara itu, aparat keamanan Lebanon melaporkan bahwa serangan udara Israel menghantam sejumlah kota di wilayah selatan negara tersebut.

Iran kembali menegaskan dukungannya kepada Hizbullah dan menuntut agar Israel menarik seluruh pasukannya dari Lebanon selatan. Teheran bahkan menjadikan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah sebagai salah satu syarat utama dalam setiap kesepakatan damai dengan Washington.

Gelombang terbaru pertempuran antara Hizbullah dan Israel dimulai pada awal Maret. Hizbullah menyatakan aksi militernya dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap Iran.

Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, pekan ini juga menolak kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat antara Israel dan pemerintah Lebanon untuk menghentikan pertempuran. Menurutnya, perjanjian tersebut tidak mengatur penarikan pasukan Israel dan Hizbullah tidak pernah dilibatkan dalam proses negosiasi.

Israel sendiri terus melanjutkan operasi militernya di Lebanon selatan dan menegaskan bahwa pasukannya tidak akan ditarik maupun menghentikan operasi di wilayah tersebut meskipun hubungan dengan Amerika Serikat semakin memanas.

Ketua Parlemen Lebanon yang juga sekutu Hizbullah, Nabih Berri, menyatakan pada Jumat bahwa pihaknya bersedia mendukung penarikan Hizbullah dari Lebanon selatan apabila pasukan Israel secara bersamaan meninggalkan wilayah yang masih mereka duduki.

Selain Lebanon, pekan ini wilayah Gaza, Israel utara, dan Kuwait juga terus mengalami serangan meskipun telah terdapat gencatan senjata yang diupayakan Amerika Serikat.

Presiden Donald Trump sebelumnya menyebut kesepakatan tersebut hanya menghasilkan situasi di mana pihak-pihak yang bertikai "melakukan penembakan dengan cara yang lebih moderat", bukan benar-benar menghentikan pertempuran sepenuhnya.