KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan menjatuhkan sanksi terhadap sebuah bank besar pada Senin (14/9/2026). Langkah ini menjadi bagian dari upaya Washington memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran di tengah konflik yang telah berlangsung lebih dari enam bulan. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan sanksi tersebut akan menyasar sebuah institusi perbankan besar. Namun, ia tidak mengungkapkan nama bank maupun negara tempat bank tersebut beroperasi.
Baca Juga: AS Jatuhkan Sanksi Baru atas Pengiriman Minyak Iran ke China, Ini Penjelasannya Bessent menyebut sanksi yang semula dijadwalkan pada Jumat (11/9/2026) ditunda hingga Senin karena bertepatan dengan rangkaian peringatan 25 tahun serangan 11 September 2001 di AS. "Kami akan terus melanjutkan proses ini sampai semua pihak berhenti berhubungan dengan rezim ini," kata Bessent dalam wawancara dengan
Real America's Voice, Kamis (10/9), seperti dikutip
Reuters. Langkah terhadap sektor perbankan tersebut memperluas cakupan sanksi AS terhadap jaringan ekonomi yang dinilai masih berhubungan dengan Iran. Sejak konflik dimulai pada Februari, Washington telah menjatuhkan berbagai sanksi yang mencakup ekspor minyak, jaringan pelayaran, pengadaan senjata, perantara keuangan, bursa aset digital hingga hubungan penerbangan. Tekanan AS meningkat pada bulan lalu melalui kebijakan yang disebut Bessent sebagai "Operation Economic Outcast".
Baca Juga: Laba Bank Besar Masih Seret, Tekanan Diprediksi Berlanjut pada Semester I-2026 Kebijakan itu mencakup sanksi terhadap hampir 60 entitas, individu dan kapal, sekaligus memperluas sanksi sekunder terhadap pihak yang tetap melakukan bisnis dengan Iran. Sanksi sekunder tersebut menyasar sejumlah sektor, termasuk pelayaran, penerbangan, teknologi, emas dan aset digital. Dengan demikian, perusahaan atau lembaga keuangan yang masih bertransaksi dengan pihak Iran juga berpotensi terkena dampak kebijakan Washington. Bessent menegaskan AS ingin membuat aktivitas bisnis dengan Iran menjadi tidak menguntungkan dan berisiko tinggi bagi pihak yang terlibat.
"Kami akan membuatnya sangat tidak menguntungkan," ujar Bessent. Meski tekanan ekonomi terus diperluas, konflik AS-Iran belum menunjukkan tanda segera berakhir. Presiden Donald Trump bahkan memperkirakan perang tersebut baru akan berakhir setelah pemilihan umum sela (midterm elections) AS pada November mendatang.
Baca Juga: Pertumbuhan Laba Bank Besar Diprediksi Tersendat pada Semester I-2026, Ini Sebabnya Rencana sanksi terhadap bank besar pada Senin menjadi sinyal bahwa pemerintahan Trump masih mengandalkan tekanan ekonomi sebagai salah satu instrumen utama untuk menekan Iran. Namun, hingga kini belum diketahui bank mana yang akan menjadi sasaran maupun seberapa luas dampak sanksi tersebut terhadap sistem keuangan yang terkait dengan Iran.