AS Siapkan Sejumlah Langkah untuk Tekan Dampak Lonjakan Harga Minyak



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Amerika Serikat (AS) akan mengambil langkah untuk menekan dampak kenaikan harga energi menyusul lonjakan harga minyak akibat konflik dengan Iran. Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, pada Senin (2/3/2026).

Berbicara kepada wartawan di Capitol Hill, Rubio mengatakan rencana tersebut akan diumumkan oleh Menteri Keuangan Scott Bessent dan Menteri Energi Chris Wright pada Selasa (3/3/2026).

“Mulai besok, Anda akan melihat kami meluncurkan fase-fase tersebut untuk mencoba mengurangi dampaknya. Kami mengantisipasi ini bisa menjadi masalah,” ujar Rubio.


Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Senin (15/12) Pagi: Brent ke US$61,37 & WTI ke US$57,67

Harga minyak dan gas melonjak pada Senin setelah serangan Israel dan AS terhadap Iran, disusul pembalasan dari Teheran. 

Eskalasi itu memaksa penutupan sejumlah fasilitas minyak dan gas di kawasan serta mengganggu pengiriman energi melalui Selat Hormuz, jalur vital perdagangan global.

Sementara itu, Departemen Energi dan Departemen Keuangan AS belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar hingga laporan ini disusun, menurut Reuters.

Pada perdagangan awal pekan ini, harga minyak mentah Brent sempat melesat hingga 13% ke level tertinggi sejak Januari 2025 sebelum ditutup naik 6,7% menjadi US$ 77,74 per barel. 

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga menguat 6,3% ke US$ 71,23 per barel. Lonjakan berlanjut pada perdagangan pasca-penutupan setelah Garda Revolusi Iran menyatakan akan membakar kapal apa pun yang mencoba melintasi Selat Hormuz.

Baca Juga: Harga Minyak Bersiap Catat Penurunan Mingguan Karena Kekhawatiran Kelebihan Pasokan

Kekhawatiran pasar meningkat karena konflik berpotensi berkepanjangan. Serangan balasan Iran ke negara-negara produsen energi utama seperti Arab Saudi dan Qatar memicu risiko gangguan pasokan lanjutan. 

"Pertanyaan kuncinya adalah berapa banyak pasokan yang akan hilang, berapa lama, dan bagaimana kekuatan-kekuatan besar bereaksi," ujar Daniel Yergin, wakil ketua di S&P Global.