KONTAN.CO.ID - Ketegangan di Timur Tengah kian memuncak. Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, komando tertinggi yang mengintegrasikan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan angkatan bersenjata reguler Iran, melontarkan ancaman keras merespons eskalasi operasi militer di kawasan. Pernyataan ini menjadi jawaban atas ultimatum Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan meningkatkan serangan ke instalasi strategis Iran pada Selasa, 7 April 2026. Dalam pernyataan resmi Senin (6/4/2026), militer Iran menegaskan kembali doktrin pertahanan mereka. Mereka memastikan setiap agresi terhadap kepentingan sipil akan dibalas dengan kekuatan setara di seluruh wilayah.
Ekonom Nilai APBN Tak Kuat Lama Tahan Harga BBM, Kenaikan Tinggal Hitungan Minggu!
© 2026 Konten oleh Kontan
Ketegangan di Teluk
Di sisi lain, pasukan khusus Amerika Serikat (AS) melancarkan misi berisiko tinggi jauh di dalam wilayah Iran untuk menyelamatkan seorang perwira udara yang jatuh. Presiden Donald Trump mengancam akan menghujani Teheran dengan "neraka" jika Selat Hormuz, jalur nadi minyak dunia, tidak segera dibuka. Trump mengumumkan keberhasilan penyelamatan tersebut pada Minggu (5/4) dini hari via platform X. Ia menggambarkan operasi di wilayah pegunungan itu sebagai salah satu misi paling berani dalam sejarah militer AS. Perwira senjata dari jet F-15 yang ditembak jatuh Jumat lalu dilaporkan terluka, namun kondisi stabil. Baca Juga: Israel Serang Kompleks Petrokimia Terbesar Iran di Asaluyeh Namun, dalam unggahan lain di platform Truth Social, Trump memberikan ultimatum keras agar Iran membuka Selat Hormuz paling lambat hari Selasa. Jalur yang mengalirkan seperlima pasokan minyak dan gas dunia ini lumpuh total sejak perang pecah lima pekan lalu. "Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan di Iran," ancam Trump, merujuk pada target infrastruktur energi dan transportasi yang akan dibombardir. Eskalasi ini dipicu setelah sekutu AS, Israel, menyerang fasilitas petrokimia utama Iran pada Sabtu. Pejabat senior pertahanan Israel menyatakan pihaknya bersiap menggempur fasilitas energi Iran pekan depan dan tengah menunggu lampu hijau dari Gedung Putih. Di tengah ancaman, muncul pesan membingungkan. Trump sempat menyatakan kepada Fox News bahwa Iran sedang bernegosiasi dan kesepakatan mungkin tercapai pada Senin. Namun, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, membantah dan mengecam ancaman Trump sebagai tindakan yang disesatkan oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. "Langkah ceroboh Anda menyeret AS ke dalam 'neraka' bagi setiap keluarga, dan seluruh kawasan kami akan terbakar," tegas Qalibaf.(LIVE REPORT) UPDATE STRATEGI INDONESIA HADAPI GEJOLAK TIMUR TENGAH
© 2026 Konten oleh Kontan