AS Tarik Pasukan dari Irak, Pengaruh Iran dan Ancaman Islamic State Menguat



KONTAN.CO.ID - Amerika Serikat (AS) menarik pasukannya dari pangkalan-pangkalan yang tersisa di Irak pada Rabu (30/9/2026), mengakhiri kehadiran militer AS di negara tersebut dan memunculkan kekhawatiran mengenai potensi kekosongan keamanan.

Melansir Reuters, penarikan pasukan AS dikhawatirkan dapat memperkuat posisi kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Iran sekaligus membuka peluang bagi Islamic State untuk kembali membangun kekuatannya.

Keputusan tersebut sebenarnya telah disepakati pada 2024 di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden.


Baca Juga: Harga Emas Turun Hampir 6% September, Investor Pantau Inflasi AS

Namun, pelaksanaannya dilakukan pemerintahan Presiden Donald Trump ketika AS tengah berperang dengan Iran, yang selama ini memiliki pengaruh kuat di Irak melalui kelompok-kelompok yang menjadi sekutunya.

Penarikan tersebut berlangsung 23 tahun setelah pasukan pimpinan AS menggulingkan Presiden Irak Saddam Hussein pada 2003.

Invasi itu kemudian diikuti periode pergolakan dan kekacauan yang pada akhirnya turut menciptakan kondisi bagi munculnya Islamic State.

Meskipun penarikan pasukan AS secara umum mendapat dukungan dari masyarakat Irak, sejumlah pihak masih mempertanyakan kemampuan pasukan keamanan Irak dalam menjaga stabilitas negara tanpa dukungan militer AS.

"Pelajaran dari dua dekade terakhir adalah bahwa kekosongan keamanan bisa sangat berbahaya," kata analis Irak yang menjadi penasihat pasukan keamanan, Jassim al-Bahadli.

Baca Juga: Korea Utara Ancam Balas Korea Selatan Usai Ledakan Ranjau di DMZ

AS menginvasi Irak pada 2003 dan kemudian menduduki negara tersebut, membentuk pemerintahan yang dipimpin kelompok Syiah serta menghadapi pemberontakan selama bertahun-tahun.

Setelah melawan loyalis Saddam dan kemudian jaringan Al Qaeda, pasukan AS ditarik pada akhir 2011.

Namun, kurang dari tiga tahun kemudian, pasukan AS kembali ke Irak untuk membantu pasukan keamanan setempat memerangi Islamic State dalam perang besar yang berlangsung pada 2014 hingga 2017.

Dalam lebih dari dua dekade perang di Irak, sekitar 4.500 tentara AS tewas. Jumlah tersebut sekitar dua kali lebih banyak dibandingkan korban pasukan AS dalam perang di Afghanistan yang berakhir dengan penarikan mendadak pada 2021.

Dalam konflik AS dengan Iran tahun ini, tujuh dari 18 anggota militer AS yang dilaporkan tewas berada di Irak.

Korban terakhir adalah seorang sersan Angkatan Darat AS yang meninggal saat melakukan peledakan terkendali terhadap sebuah drone di pangkalan dekat Erbil pada Juli.

Baca Juga: China Peringatkan Uni Eropa, Siap Balas Jika Perdagangan Dibatasi

Iran dan kelompok sekutunya

Iran menyambut penarikan pasukan AS dari Irak sebagai kemenangan bagi apa yang disebutnya sebagai "poros perlawanan", yakni jaringan kelompok bersenjata yang menjadi sekutu Iran di berbagai negara di kawasan Timur Tengah.

Iran selama ini menyatakan tujuan akhirnya adalah mendorong pasukan AS meninggalkan seluruh kawasan Timur Tengah.

Analis politik yang berbasis di Baghdad, Ahmed Younis, menilai kekhawatiran utama bukan semata-mata intervensi langsung Iran, tetapi meningkatnya kepercayaan diri kelompok-kelompok yang didukung Iran setelah kehadiran militer Barat berkurang.

Baca Juga: Produksi Industri Jepang Turun 1,7% pada Agustus, di Bawah Ekspektasi

"Yang lebih mengkhawatirkan bukan semata intervensi langsung Iran, tetapi kemungkinan bahwa kelompok-kelompok yang menjadi proksi Iran akan merasa semakin kuat tanpa kehadiran militer Barat," ujar Younis.

Menurut dia, kelompok-kelompok tersebut berpotensi memperluas perannya dalam memengaruhi kebijakan pemerintah Irak dan memperkuat keberadaan mereka di sejumlah institusi penting.

Di sisi lain, sejumlah pejabat keamanan Irak, baik dari pemerintah federal maupun wilayah Kurdistan yang memiliki status otonomi di utara Irak, memperingatkan potensi kebangkitan kembali Islamic State.

Meskipun kelompok tersebut telah kehilangan wilayah kekuasaannya hampir satu dekade lalu, jaringan sel tidur Islamic State masih diyakini bertahan.

Pada masa kejayaannya, Islamic State menguasai sekitar sepertiga wilayah Irak dan menewaskan ribuan orang. Kelompok tersebut bahkan merekam sejumlah eksekusi di sebuah bekas pangkalan militer AS.

Baca Juga: Donald Trump Sebut Iran Akan Menyerah, tetapi Belum Tahu Kapan

Selama ini, pasukan AS membantu pasukan keamanan Irak melalui penyediaan informasi intelijen mengenai pergerakan Islamic State, pengawasan udara serta kemampuan pengintaian.

"Pertanyaan terpenting sekarang adalah apakah institusi keamanan Irak telah menyiapkan rencana alternatif yang layak untuk fase setelah koalisi," kata pensiunan Jenderal Angkatan Darat Irak Mohammed al-Jubouri, yang pernah memimpin sebuah brigade dalam perang melawan Islamic State.

Menurut Jubouri, salah satu skenario terburuk adalah Islamic State memperoleh drone bersenjata atau drone yang dilengkapi bahan peledak ketika Irak masih belum memiliki kemampuan pertahanan udara yang memadai untuk menghadapi ancaman tersebut secara efektif.