KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah Amerika Serikat menegaskan tidak akan memperluas tujuan militernya di Iran, meskipun konflik dengan Teheran terus meningkat. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan, operasi militer Washington masih tetap fokus pada target awal, yakni melemahkan kemampuan militer Iran dan mencegah negara tersebut memiliki senjata nuklir. “Tidak ada perluasan dalam tujuan kami. Kami tahu persis apa yang ingin kami capai,” ujar Hegseth pada Kamis (5/3/2026).
Baca Juga: UEA Pertimbangkan Pembekuan Aset Iran untuk Menekan Teheran di Tengah Konflik Timteng Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam wawancara dengan Reuters bahwa Amerika Serikat perlu terlibat dalam menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin Iran berikutnya. Pentagon sebelumnya menjelaskan bahwa kampanye militer yang dinamakan Operation Epic Fury bertujuan menghancurkan kemampuan ofensif Iran, termasuk rudal, fasilitas produksi rudal, dan kekuatan angkatan lautnya. Serangan Meluas di Kawasan Serangan militer yang dimulai pada akhir pekan lalu oleh AS dan Israel telah menghantam berbagai target di Iran dan memicu serangan balasan dari Teheran ke sejumlah negara di kawasan. Iran dilaporkan menyerang beberapa negara, termasuk Israel, United Arab Emirates, dan Qatar.
Baca Juga: China Genjot Belanja Pertahanan 7%, Ancaman Taiwan Meningkat? Di Bahrain, petugas pemadam kebakaran harus memadamkan kebakaran di sebuah kilang minyak setelah terkena serangan rudal. Sementara itu, Azerbaijan menuduh Iran meluncurkan drone ke wilayahnya dan memutuskan menutup wilayah udara di bagian selatan selama 12 jam. Menurut Hegseth, serangan Iran terhadap negara-negara kawasan justru memperkuat solidaritas mereka dengan Amerika Serikat. Ribuan Target Telah Diserang Militer AS menyebut telah menyerang lebih dari 2.000 target di Iran sejak operasi dimulai, termasuk sejumlah kapal perang. Komandan United States Central Command (CENTCOM) Brad Cooper mengatakan, pasukan AS telah menghancurkan sekitar 30 kapal perang Iran, termasuk kapal induk drone milik Teheran yang diserang pada Kamis.
Baca Juga: Berkshire Hathaway Mulai Buyback Saham Lagi, CEO Greg Abel Ikut Borong Rp 245 Miliar Ia menambahkan bahwa fase berikutnya dari operasi militer akan difokuskan pada penghancuran kemampuan Iran untuk memproduksi rudal di masa depan. “Seiring kita memasuki fase berikutnya dari operasi ini, kami akan secara sistematis membongkar kemampuan produksi rudal Iran,” kata Cooper. Risiko Korban Bertambah Militer AS juga mengonfirmasi identitas enam tentara cadangan yang tewas setelah sebuah drone menghantam fasilitas militer AS di Port Shuaiba, Kuwait.
Trump dan sejumlah pejabat senior sebelumnya telah memperingatkan bahwa konflik dengan Iran berpotensi menimbulkan lebih banyak korban di pihak militer AS.
Baca Juga: Imbas Konflik Iran: Harga Bensin AS Melonjak, Donald Trump Panik? Hegseth menegaskan bahwa Iran keliru jika menganggap Amerika Serikat tidak mampu mempertahankan operasi militer yang sedang berlangsung. “Iran berharap kami tidak mampu mempertahankan perang ini. Itu adalah salah perhitungan yang sangat besar,” ujarnya.